
KAB. SERANG – Ratusan warga memblokir akses Jembatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Sabtu (10/10 2026). Aksi itu merupakan bentuk protes atas pembatalan tradisi Bedolan Pamarayan yang semula direncanakan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-500 Kabupaten Serang.
Warga membakar ban bekas dan membentangkan pagar bambu di jalan yang menjadi penghubung wilayah Pamarayan dengan Serang. Situasi sempat memanas setelah terjadi kericuhan antara massa aksi dan warga yang melintas di lokasi.
Sebelum memblokir jembatan, warga mendatangi gedung kontrol Bendung Pamarayan di Desa Panyebrangan, Kecamatan Cikeusal, sejak pukul 07.00 WIB.
Mereka meminta bertemu dengan pengelola bendungan untuk mendesak agar tradisi tahunan tersebut tetap dilaksanakan. Sejumlah warga bahkan membawa jaring dan peralatan menangkap ikan sejak pagi.
Kapolsek Cikeusal, Iptu Haerus mengatakan, polisi telah berupaya mengamankan lokasi dan memfasilitasi komunikasi dengan perwakilan masyarakat. Namun, upaya tersebut belum membuat warga mengurungkan tuntutan mereka.
“Dari jam 7 pagi warga datang, tadi sudah dilakukan audiensi dengan perwakilan masyarakat, namun tetap ingin Bedolan tetap dilaksanakan,” ujar Haerus.
Massa juga meminta bertemu dengan pemerintah daerah dan pengelola Bendung Pamarayan untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Nasrul Hidayat (31), warga Desa Panyebrangan, mengatakan masyarakat telah lama menantikan tradisi tersebut kembali digelar. Menurut dia, Bedolan Pamarayan sudah lima tahun tidak dilaksanakan.
“Sudah lima tahun enggak ada Bedolan Pamarayan,” katanya.
Nasrul mengatakan, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan juga pesta rakyat yang memiliki ikatan emosional bagi masyarakat. Warga yang merantau ke luar daerah kerap pulang ke kampung halaman ketika Bedolan Pamarayan digelar.
Pembatalan Bedolan Pamarayan sebelumnya disampaikan Balai Besar Wilayah Sungai Cibanten Cidujung Cidurian (BBWS C3) melalui berita acara tertanggal 7 Oktober 2026.
Dalam dokumen itu, pengelola bendungan menyatakan tidak akan melakukan pengurasan bendung dan tidak membuka pintu Bendung Pamarayan karena mempertimbangkan risiko longsor akibat laju abrasi.
Keputusan tersebut membuat tradisi Bedolan Pamarayan batal dilaksanakan sesuai rencana. Hingga aksi berlangsung, warga masih mendesak pemerintah daerah dan pengelola bendungan untuk menemui mereka dan membahas tuntutan agar tradisi tersebut tetap digelar.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd