Beranda Opini Professor Itu Kami Panggil “Ka Edi”

Professor Itu Kami Panggil “Ka Edi”

(Obituari Professor Azyumardi Azra)

Oleh Ocit Abdurrosyid Siddiq I Komisioner Bawaslu Banten, Warga Binuangeun, Lebak, Banten

Tahun 1992, saya mulai kuliah di IAIN SGD Bandung. Mengambil jurusan Aqidah dan Filsafat. Jurusan yang paling minim peminat. Karena dianggap sebagian orang sebagai jurusan sesat.

Terbawa pakem yang berlaku di jurusan; penampilan selengean, rambut gondrong, anti organisasi, dan liar dalam melontarkan ide dan pemikiran yang keluar dari pendapat mainstream.

Enam bulan tak jumpa orangtua. Ketika pulang, dimaki bapak karena tampilan kayak berandalan; rambut sebahu mirip vokalis Iron Maiden atau Black Sabbath, group metal zaman itu.

Waktu pulang, dengar cerita dari Ibu, bahwa Ka Edi juga lagi ada di kampung. Ibu menyampaikan kabar itu, karena beliau tahu, saya dan Ka Edi memiliki kesamaan; gandrung pada perkembangan pemikiran keislaman.

Edi yang Ibu maksud adalah Azyumardi Azra. Ya, professor atau guru besar UIN Syarif Hidayatullah yang hari ini wafat di Malaysia. Lha, bukannya beliau orang Pariaman Sumatra Barat? Ya benar.

Beliau menikah dengan Teh Ipah, putri seorang tokoh agama di kampung kami, Bapak Haji Fudel namanya. Rumahnya hanya berselang beberapa rumah saja dari rumah saya. Kami bertetangga.

Kami, keluarga, dan tetangga biasa menyapanya dengan panggilan “Ka Edi”. Di kampung kami, tak banyak yang tahu, bahwa Ka Edi tetangga kami itu, adalah orang besar tokoh nasional.

Setiap liburan kuliah, kami sering bertemu di kampung. Setiap bertemu, selalu saya gunakan untuk menggali dan menimba ilmunya. Walau bukan mahasiswanya, saya merasa lebih beruntung dibanding mahasiswanya sendiri.

Beliau guru besar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya mahasiswa semester awal di IAIN SGD Bandung. Di kampung, kami kerap diskusi. Diskusi yang kadang bisa menuai maki. Maki dari mertuanya sendiri.

Suatu hari, bapak mertuanya menemui saya. Dia menyuruh saya untuk menjadwalkan Ka Edi menjadi khatib pada hari raya idul fitri. Suruhan bernada bangga, karena mantunya seorang professor ahli agama.

Lha, mengapa menyuruh saya? Bukannya pada pengurus DKM? Hehe, gini-gini juga, walau tampilan selengean dan gondrong, saya adalah ketua remaja mesjid di kampung kami, yang menggerakan kegiatan keagamaan, termasuk mengatur pelaksanaan solat hari raya.

Saya tak berani langsung memutuskan, apakah menerima atau menolak. Lha, mengapa ada kemungkinan menolak? Inilah yang kemudian saya sampaikan langsung pada Ka Edi.

Pikir saya, adalah wajar bila seorang mertua merasa bangga, ketika mantunya tampil di podium khutbah. Tapi saya punya pertimbangan lain untuk menolaknya. Alasan yang kemudian diamini oleh Ka Edi.

Saya bilang, orang kampung dengan pemikiran sederhana itu lebih cocok dengan khutbah dengan tema-tema sederhana; baju lebaran dan liburan, cerita indahnya surga, dan pedihnya siksa neraka. Tema yang mudah dicerna.

Kalau Ka Edi yang khutbah, tidak pas, tidak cocok, tidak akan nyambung. Tidak menjadi jaminan khutbah seorang guru besar di mesjid kampung bisa menuai decak kagum jamaah.

Ketika alasan ini saya sampaikan pada Ka Edi, dia tersenyum mengiyakan. “Saya cukup jadi makmum saja”, demikian responnya. Akhirnya, beliau cukup berada di shaf paling depan, disamping saya, bersama mertuanya yang jadi khatibnya.

Walau pertemuan kami bukan di kampus, bukan di tempat ilmiah, walau kami bertemu hanya sebagai tetangga, saya merasa sangat beruntung mengenalnya. Ilmunya yang saya warisi, melampaui intensitas perdebatan di ruang kuliah.

Siang ini, saya mendapat kabar, beliau wafat di Malaysia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan, Prof. Saya bersaksi, engkau adalah orang baik. Terima kasih atas warisan ilmunya. Saya yakin, warisan ini akan menjadi jariyah.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu. Amin.

Hotel Grand Mercure Jakarta
Minggu, 18 September 2022