Beranda Opini Mahasiswa Menulis

Mahasiswa Menulis

718
0
Aldi Islahudin, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

Oleh: Aldi Islahudin, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

Menulis bukanlah perkara yang mudah, tetapi kemampuan menulis merupakan kewajiban setiap mahasiswa sebagai insan akademisi. Menulis itu akan sulit, ketika kita belum menemukan ide yang akan ditulis. Maka kita perlu banyak membaca, menganalisa situasi, berinteraksi, maka ide dan inspirasi akan datang. Menulis membutuhkan sinergi antara hati, akal dan rasa. Kecerdasan hati membantu agar tulisan yang kita tulis, benar-benar asli dan menyentuh hati bagi pembacanya.

Kecerdasan akal mampu menganalisa permasalahan dan berupaya memberikan solusi. Akal harus setajam pisau, agar mampu membedah dalam setiap permasalahan. Kecerdasan rasa memberikan sebuah tulisan yang mudah dicerna, dipahami hingga menarik untuk dibaca. Semua itu dibutuhkan kerjasama agar ada harmonisasi antara hati, akal dan rasa.



Setiap ide, gagasan dan konsep baru perlu kita tuliskan dan menjadi hasil karya atau produk tulisan. Apalagi jika kita bisa menulis di media online, menjadi sebuah eksistensi diri sebagai kaum intelektual bisa menyuarakan ide, gagasan, pendapat dan solusi di tengah permasalahan. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, perlu kiranya kita membantu mengedukasi, mengkampanyekan dengan mengirim berbagai tulisan ke media online, agar tergugah sebuah kesadaran masyarakat agar patuh dan taat dengan protokol kesehatan.

Mahasiswa menulis merupakan sebuah upaya agar mahasiwa betul-betul menjadi agen perubahan (agen of change) dan sebagai agen mentransfer pengetahuan (agen of knowledge). Mahasiswa dikenal sebagai kaum terpelajar dan intelektual. Kegiatannya tidak terlepas dari kegiatan ilmiah dan peran sertanya untuk memberikan kontribusi nyata di masyarakat, bahkan negara.
Mahasiswa pun dituntut untuk bisa akrab dengan dunia tulis-menulis. Prose membaca proses berdiskusi, dan proses menulis harus dilalui agar penguatan literasi semakin kokoh. Dengan begini, wawasan mahasiswa akan terus bertambah, pisau analisa pun semakin tajam, cara berfikirnya juga akan semakin kritis.

Mahasiswa dengan kegiatan membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan. Mahasiwa tidak hanya demo dijalan menyuarakan inspirasi dan suara rakyat, tapi ada juga yang lebih elegan yaitu menulis artikel opini agar suara mahasiswa juga bisa dengar. Diharapkan menjadi daya dobrak untuk mengawal, memberikan solusi, menyuarakan kebenaran kepada pemerintah dan masyarakat melalui tulisan.

Mahasiswa harus rutin menulis dan terus berlatih dan berlatih agar tulisannya menjadi lebih baik. Membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Membaca seperti nutrisi otak, yang memberikan vitamin agar muncul sebuah ide, gagasan dan solusi. Jika sudah banyak nutrisi dan berbagai macam vitamin, akan mudah menuliskannya.

Membaca seharusnya tidak menjadi asupan informasi saja tetapi untuk mempertajam analisis dan berpikir terhadap suatu masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dengan bekal yang sudah dilatih, maka seorang insan akademis akan menemukan gaya dan karakter tulisannya.

Produk tulisan yang dihasilkan oleh mahasiswa menjadi sebuah kebanggaan yang sulit diungkapkan kata-kata. Bukan lagi soal honorarium, tapi eksistensi diri sebagai kaum terpelajar dan intelektual. Pemikiran, ide, konsep dan mahasiswa tersebut akan dikenal dan membumi bagi para pembaca.

Menulis di tengah pandemi menjadi pembuktian bagi mahasiswa, agar karyanya dibaca oleh banyak orang dan memberikan informasi dan berita yang benar sehingga tidak terjadi disleksia informasi terkait pemberitaan covid-19 yang bermacam-macam. Penggakuan sebagai mahasiswa yang berperan aktif dalam rangka mengedukasi dan mengkampanyekan melalui tulisan agar segala permasalahan yang buntu hingga terurai dan ada solusi.

Mahasiswa menulis perlu digerakkan dan didorong bukan dari kampus saja, tetapi dari berbagai komunitas, agar pisau analisa mahasiwa tidak tumpul dalam menyuarakan kebenaran, tidak hilang dalam mengedukasi dan mengkampanyekan nilai-nilai kebaikkan. Apalagi di tengah pandemi ini, masyarakat butuh tulisan yang mencerahkan. Selamat menulis.

(***)