TANGSEL – Polisi mengerucutkan titik ledakan di kompleks pertokoan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), ke ruang pematangan pisang di salah satu ruko. Namun, penyidik belum menemukan pemicu ledakan yang menewaskan dua orang dan melukai 11 lainnya itu.
Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri menemukan tabung gas etilen berkapasitas 50 kilogram, potongan selang penyalur gas, serta dinamo yang diduga berasal dari kipas angin di lokasi ledakan.
Kepala Bidang Balistik Metalurgi dan Forensik Puslabfor Mabes Polri, AKBP Zakaria Sembiring mengatakan, temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa ledakan berpusat di ruang refining, yakni ruangan untuk mempercepat pematangan pisang agar hasilnya merata.
“Kita telah menemukan ada sebuah tabung gas isi 50 kg, yaitu tabung gas etilen. Kemudian kita juga menemukan potongan-potongan selang untuk menyalurkan gas etilen tersebut ke dalam namanya ruangan refining,” kata Zakaria, Kamis (15/10/2026).
Meski titik ledakan mulai mengerucut, polisi belum bisa memastikan peralatan yang memicu ledakan. Tim forensik masih memeriksa instalasi listrik dan dinamo kipas angin yang hancur di lokasi.
Zakaria mengatakan, kerusakan dinamo berpotensi memicu percikan api. Namun, timnya tidak akan menyimpulkan penyebab ledakan sebelum menyelesaikan pemeriksaan teknis.
“Kita enggak berani berhipotesa karena kalau forensik itu dia harus real. Nanti kita akan mungkin periksa dari segi instalasi listriknya, kemudian komponen dari dinamo itu sendiri,” ujarnya.
Jika pemeriksaan menunjukkan dinamo masih dalam kondisi baik, penyidik akan menelusuri kemungkinan penyebab lain. Tim forensik juga masih mencari komponen tambahan, termasuk regulator gas, untuk melengkapi analisis.
Zakaria menegaskan, tabung etilen dan perangkat pematangan buah yang ditemukan di lokasi merupakan peralatan legal yang lazim digunakan pelaku usaha.
“Semua legal, ya. Tidak ada yang bilang ilegal dan itu memang biasa dimiliki oleh orang yang usahanya memang adalah usaha refining,” katanya.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Imran Ermawan mengatakan, tim gabungan kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Kamis. Tim tidak dapat menuntaskan pemeriksaan pertama pada Rabu malam setelah ledakan terjadi sekitar pukul 18.15 WIB.
Dalam olah TKP kedua, tim gabungan yang melibatkan Polda Metro Jaya, Polres Tangerang Selatan, Bareskrim Polri, Puslabfor Mabes Polri, dan BPBD Kota Tangerang Selatan mengumpulkan sekitar 18 kamera pengawas atau CCTV beserta perangkat decoder dari sejumlah sudut lokasi.
“Olah TKP yang kedua kami mengumpulkan beberapa CCTV di beberapa sudut, termasuk di lokasi, termasuk dari decoder-nya. Kurang lebih ada 18,” kata Imran.
Imran menyebut ledakan merusak empat bangunan ruko, di luar bangunan bedeng di bagian depan lokasi. Kerusakan paling parah terjadi di ruko nomor 29 berwarna krem yang berada di tengah deretan bangunan terdampak.
Tim penjinak bom juga memeriksa dan mensterilkan lokasi. Mereka tidak menemukan bom ataupun bahan peledak. Meski begitu, polisi tetap melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap penyebab ledakan.
Data Kepolisian Ciputat Timur mencatat dua orang meninggal dunia dan 11 lainnya mengalami luka-luka. Achmad Tri Prasetyo meninggal dunia dan dibawa ke RS Fatmawati, Jakarta. Sementara itu, Riko Eka Putra meninggal di lokasi sebelum petugas membawa jenazahnya ke RSUD Tangsel.
Enam korban mengalami luka berat, yakni Suryanto, Bahtiar, Mudyawati, Andre, Andri, dan Darham Effendi. Lima korban lainnya mengalami luka ringan, yaitu Anasyah, Sarmin, Wahyu Muhammadinno, Maman, dan Ade.
Petugas mengevakuasi para korban ke RS Fatmawati, RSUD Tangsel, dan RS Sari Asih Ciputat.
Hingga Kamis sore, polisi belum memastikan pemicu ledakan. Temuan tabung etilen, selang gas, dan dinamo menjadi bagian dari pemeriksaan forensik, bukan bukti final penyebab ledakan.
Penulis : Ahmad Rizki
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
