Beranda Pilkada Serentak 2020 Pilkada Serentak 2020 di Banten, Ajang Perebutan Trah Elit Keluarga

Pilkada Serentak 2020 di Banten, Ajang Perebutan Trah Elit Keluarga

136
0
Ilustrasi - foto istimewa detik.com

SERANG – Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2020 akan digelar di Banten. Dalam ajang kontestasi politik lokal itu, setidaknya ada empat kabupaten/kota yang akan menggelarnya di provinsi ujung barat Pulau Jawa Tersebut.

Empat wilayah tersebut meliputi Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. Persaingan politik di wilayah Banten, tentunya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan trah elit keluarga dalam peta percaturan politik di dalamnya, yakni Trah Rau, Jayabaya, Dimyati Natakusumah dan Aat Syafa’at.

Pengamat politik Banten Institute of Governance Studies (BIGS) Ahmad Daelami mengemukakan tidak semua wilayah yang menggelar pilkada tersebut dapat mudah dikuasai keluarga elit tersebut. Dia menyebut, salah satu wilayahnya adalah Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Dalam Pilkada Tangsel yang memilih wali kota, ada nama kejutan semisal Siti Nur Azizah Maruf yang merupakan putri Wakil Presiden Maruf Amin. Mengacu pada survei yang dilakukan Riset Network Indonesia (RNI), Siti Nur Azizah menjadi calon yang paling populer yakni mencapai 48,36 persen. Siti bersaing dengan Benyaminen Davnie 47,75 persen dan di posisi ketiga ditempati anak Ratu Atut Chosiyah dari Trah Rau, Andiara Aprilia sebanyak 10,13 persen.

“Putri Kyai (Maruf) head to head dengan Trah Rau. Kemungkinan ada beberapa partai yang memanfaatkan moment pilpres kemarin untuk mengusung anaknya pak kyai. Karena saat ini masih ada beberapa daerah yang dikuasai dinasti. Jadi ada beberapa partai yang tidak ikut dalam gerbong dinasti itu memanfaatkan momen ini,” ujarnya dilanair Suara.com, Minggu (20/10/2019).

Meski begitu, Daelami menganalisa, tidak menutup kemungkinan adanya poros ketiga di luar poros koalisi yang konsisten menjadi oposisi.

“Kayak PKS kan sudah jelas-jelas mereka di pusat tidak mau bergabung dan di daerah pun mereka memang mempersiapkan orang untuk melawan orang yang ada di daerah,” katanya.

Sementara untuk fenomena politik yang terjadi di Kabupaten Pandeglang, Trah Jayabaya seolah ingin mengulangi kejayaannya di Pilkada Lebak dengan menonjolkan sosok Mohammad Nabil Jayabaya yang merupakan anak Mulyadi Jayabaya untuk maju dalam perebutan kursi bupati.

Menurut Daelami, turunnya Nabil tersebut dalam Pilkada Pandeglang menunjukan adanya kelemahan kepemimpinan Irna Narulita yang berasal dari keluarga Dimyati Natakusumah yang dianggap bisa diperbaiki oleh Trah JB. Bahkan memantau kelemahan lawan politik saat ini bisa dilakukan hanya melalui media sosial (medsos).

“Mereka masuk pun dengan jualan konsep yang bisa diterapkan di sana (Pandeglang). Misal pembangunan di Lebak lebih baik, dari hal infrastruktur jalan. Dan mereka (warga) membanding-bandingkan dengan (daerah yang) tidak jauh. Kalau tidak dengan Kabupaten Serang ya Kabupaten Lebak. Itu yang kemudian akan mereka tawarkan di kabupaten Pandeglang. Tapi apakah kemudian anak Jayabaya bisa masuk ke sana atau tidak, tinggal programnya saja yang ditawarkan ke masyarakat,” katanya.

Sementara itu, perebutan kursi Kabupaten Serang-1, dianggap Daelami tidak begitu menarik. Jika diibaratkan David melawan Goliath, Daelami mengemukakan adanya kemungkinan besar terjadi fenomena borong partai oleh Ratu Tatu Chasanah, sebagai petahana sekaligus adik dari Ratu Atut Chosiyah.

Daelami menyebut, kemungkinan Tatu hanya akan melawan satu calon saja, yakni dari PKS yang kerap mengkritik pemerintahannya. PKS kemungkinan besar akan diwakili oleh Najib Hamas, kader terbaiknya di Kabupaten Serang saat ini.

“Kemungkinan yang terjadi head to head antara Tatu dengan PKS. Najib Hamas dari PKS sepertinya mau maju itu. Kemungkinan, fenomena borong partai bisa saja. Kalau calon tunggal tidak akan terjadi untuk di Kabupaten Serang,” jelasnya.

Sedangkan, ‘pertarungan politik terbuka’ disebut Daelami bakal terjadi di Kota Cilegon. Namun, ia menilai pertarungan politik tersebut tidak terlalu menarik. Lantaran, kekinian nama-nama yang muncul adalah muka lama. Daelami mengemukakan kemungkinan kontestasi politik di ‘Kota Baja’ tidak terpengaruh dengan tiga trah keluarga elit Banten.

Hal tersebut, lanjut Daelami, lantaran di Kota Cilegon ada trah tersendiri yang secara kekeluargaan mempunyai pengaruh kuat, yakni Trah Tb Aat Syafaat, Walikota Cilegon dua periode. Pun diteruskan putranya Tb Iman Ariyadi, meski kekinian keduanya sama-sama menjadi pesakitan di KPK.

Namun, putri dari Aat Syafaat sekaligus Kakak dari Iman Ariyadi, Ati Marliyati yang kekinian menjabat Wakil Walikota Cilegon dimungkinkan bakal meneruskan trah politik keluarganya.

“Cilegon memang Trah Rau belum kedengaran, memang lebih terbuka persaingan di sana. Kemungkinan Ati yang sekarang jadi wakil (wali kota) apakah akan maju? Bisa jadi. Karena untuk meneruskan program yang belum diselesaikan oleh keluarga mereka,” jelasnya.

Dari empat wilayah tersebut, Daelami menyebut secara umum, Trah Rau akan berfokus pada Pilkada di Kota Tangsel dan Kabupaten Serang. Sedangkan, Trah Jayabaya dan Dimyati akan bertarung memperebutkan Kabupaten Pandeglang. Sedangkan, keluarga Trah Rau di Kabupaten Pandeglang yang direpresentasikan Wakil Bupati Tanto Warsono Arban, menantu Ratu Atut, belum terlalu moncer namanya.

Meski begitu, Daelami mengemukakan hasil pilkada ada di tangan pemilih dari kalangan milenial.

“Siapa yang bisa menggaet Generasi Z ini, kemungkinan besar akan memenangkan pertarungan Pilkada serentak 2020 mendatang,” katanya.

(Red)