Beranda Pendidikan Persiapan Belajar Tatap Muka di Banten Jangan Setengah-setengah

Persiapan Belajar Tatap Muka di Banten Jangan Setengah-setengah

249
0
Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan (kiri) memberi paparan dalam kegiatan pojok aspirasi di Sekretariat Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Plaza Aspirasi, KP3B, Kota Serang.

SERANG – Komisi V DPRD Provinsi Banten meminta agar Pemprov Banten bisa melakukan persiapan yang komprehensif sebelum kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Juli 2021 mendatang. Hal itu perlu dilakukan agar pada pelaksanaannya nanti tak menemui kendala atau berujung pada kegagalan dan timbul klaster Covid-19.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengumumkan bahwa institusi pendidikan dan sekolah bisa kembali melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas pada tahun ajaran baru mendatang. Rencanannya, kegiatan itu akan dipada Juli 2021.

Kebijakan itu berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Aktivitas pembelajaran tatap muka secara terbatas akan dilakukan setelah pemerintah menyelesaikan vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga pendidikan.

Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Banten, Fitron Nur Ikhsan mengatakan, Pemprov Banten agar menyiapkan segala sesuatunya sebelum kembali menggelar PTM secara terbatas pada Juli 2021. Semua harus dipersiapkan secara komprehensif.

“Blueprint-nya harus jelas agar tidak terjadi klaster baru di sekolah setelah pembelajaran tatap muka secara terbatas dibuka. Buat regulasinya secara utuh. Mulai merumuskan aspek lingkungan, aspek KBM semua harus diperhatikan agar tidak terjadi cluster baru,” ujarnya pada kegiatan pojok aspirasi di Sekretariat Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Plaza Aspirasi, KP3B, Kota Serang, Senin (3/5/2021).

Ia menegaskan, setelah semua dirasa cukup dan memenuhi standar, barulah PTM secara terbatas bisa digelar. Fitron sendiri sangat mendukung adanya PTM karena dari pantauannya pelaksanaan pembelajaran daring kurang efektif.

“Semua orangtua mengeluh, pendidikan daring jadi bentuk lepas tangan guru. Orangtua lebih sibuk dari guru,” katanya.

Jika hal itu terus dibiarkan tanpa ada pembenahan, kata dia, maka dikhawatirkan akan berdampak negatif. Ia menganalogikan dengan sekumpulan tikus yang berada di dalam sangkar yang takut keluar karena diisukan ada kucing diluar. Lama kelamaan sekumpulan tikus itu akhirnya saling makan karena lapar tidak keluar.

“Yang seharusnya tikus-tikus tersebut lakukan adalah belajar menghindar dari kucing, bukan diam di dalam sangkar hingga akhirnya saling makan di antara mereka sendiri,” ungkapnya.

Pihaknya juga tidak ingin akibat kebiasaan untuk belajar daring, pelajar di Banten menjadi lupa bagaimana caranya mewujudkan mimpinya secara nyata.

“Karena banyak contoh orang-orang yang hidupnya di belakang layar, yang hanya bisa mengomentari orang-orang sukses,” tuturnya. (Mir/Red)