Beranda Opini Perjuangan Penulis di tengah Pandemi

Perjuangan Penulis di tengah Pandemi

618
0
Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Oleh : Rika Oktaviani, Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang

Masa pandemi Covid-19 memang berat bagi semua orang. Kondisi ini membuat rugi semua sektor kehidupan, dan dampaknya begitu terasa menyesakkan. Penghasilan yang menurun drastis dan ruang kebebasan yang kini amat dibatasi membuat sebagian orang harus rela tetap patuh pada peraturan dan diam di rumah. Namun, di tengah tekanan hidup yang berat seperti ini, kita dipaksa untuk tetap menghasilkan sesuatu, demi tetap berjalannya roda kehidupan.

Menulis bisa menjadi salah satungnya aktivitas yang kita tekuni di masa pandemi. Waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya, yang bisa memberi pundi-pundi rupiah sebagai bonusnya.
Bahkan, penulis Dewi “Dee” Lestari menyampaikan beberapa manfaat menulis untuk diri kita.



Selain mengasah kreatifitas, manfaat lainnya adalah membantu melepas stres. Tentu dengan berdiam diri di rumah membuat pikiran suntuk dan menciptakan rasa bosan. Maka dengan menulis, kita punya kegiatan positif yang bermanfaat dan tentunya menambah kreativitas kita.

Dewi “Dee” lestari mengatakan “Dengan kita menulis, kita mencoba menuangkan sesuatu di dalam tulisan, ada sesuatu di dalam diri kita yang ikut terangkat, entah beban, keresahan, kegelisahan, pikiran, dan sebagainya.” Jadi kita bisa meluapkan dan menumpahkan semua perasaan kita dalam tulisan. Saya pribadi, merasa lega ketika selesai menulis untuk menyampaikan perasaan saya atau sekadar pendapat saja.

Namun semua tidak selalu berjalan mulus, ide-ide yang muncul terkadang hilang begitu saja apa lagi ditambah rasa malas untuk mengembangkan ide itu. Akhirnya pikiran menjadi buntu dan bingung akan menulis apa. Menulis memang mudah tapi membuat tulisan yang menarik bukan hal yang mudah, dalam kategori ini menulis bukan hal sembarangan lagi. Apa lagi menjadi seorang penulis, perlu perjuangan dan sifat pantang menyerah pada diri sendiri agar karya yang diciptakan berkembang dan tidak berhenti di tengah jalan.

Saya pernah membaca suatu artikel dan kemudian memberanikan diri untuk menerapkannya dalam dunia nyata. Kunci menulis sukses untuk penulis pemula. Ya, saya adalah penulis baru yang baru saja memiliki satu buku, tapi itu cukup membuat diri saya bangga karena berani dan berhasil pada titik ini.

Dan kunci pertama menulis sukses adalah berani untuk memulai. Kita harus berani memulai untuk mengawali langkah kita sendiri. Berdiri dikaki sendiri dan menyemangati diri sendiri, itu bukanlah hal yang mudah tetapi jika titik ini berhasil maka titik selanjutnya bisa kita lewati. Memulai dari mana? Kita mulai dari memulai membulatkan tekad dan pantang menyerah. Mencari inspirasi di tengah keterbatasan gerak mungkin tidak mudah, jika dibandingkan dengan bebas ke mana-mana seperti mencari inspirasi dipantai, gunung, taman atau tempat lain yang teduh untuk berpikir.

Namun, dengan memfokuskan diri atau bermain imajinasi kita bisa mendapatkan ide yang menarik. Contohnya membayangkan sedang berada di tepi pantai dan melihat senja tenggelam kelautan, lalu dibuatlah sajak demi sajak yang indah.

Kunci yang kedua yaitu berani untuk gagal. Saya beberapa kali pernah gagal dalam menulis. Gagal mendapatkan ide dan inspirasi karena pikiran buntu, gagal terbit karena budget yang tidak memadai, gagal mendapatkan kesempatan terbit karena terlambat waktu, bahkan gagal memilih penerbit yang baik. Tetapi itu semua tidak menyurutkan semangat saya untuk memiliki sebuah karya yang sudah saya impikan selama ini, saya yakin akan berhasil suatu saat nanti.

Dan kunci adalah berani untuk berhasil. Setelah sekian titik yang saya lewati akhirnya saya pun berhasil menghasilkan karya di tengah keterbatasan ruang gerak ini. Meskipun dalam kurun waktu yang cukup lama dan penantian yang begitu panjang karya yang saya impikan pun berhasil diterbitkan dan tentunya itu semua membuat kelegaan diri sendiri.
Itu adalah kunci sukses menulis sesuai dengan pengalaman saya sendiri, bukan pengalaman yang panjang tapi itu cukup menguras pikiran saya selama ini. Dan saya lega telah menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.

Namun tidak hanya itu saja, ada rintangan-rintangan berat yang harus di hadapi penulis di tengah pandemi ini. Segalanya yang telah dibatasi membuat kesulitan semakin sulit seperti keterlambatan penerbitan dan sulitnya pemasaran. Seperti yang sudah kita ketahui, masa pandemi membuat penghasilan menurun dan itu sangat mempengaruhi pemasaran buku.

Sulitnya mencari pembaca karena alasan budget rasakan saat ini. Bukan hanya saya, beberapa penulis pun merasakan itu semua, ditambah lagi oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencuri soft file naskah dan disebarluaskan. Dan buku-buku bajakan yang dijual di pemasaran membuat para penulis menjerit tidak mendapatkan hasil dari karyanya sendiri. Untuk itu, sebagai pembaca yang bijak dan baik marilah kita hargai para penulis dengan malu membeli buku bajakan.

(* * * )