Beranda Opini Peran ‘Ustadz digital’ di Saat Pandemi Corona

Peran ‘Ustadz digital’ di Saat Pandemi Corona

Deni Darmawan, Dosen Agama Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Oleh : Deni Darmawan, Dosen Agama Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang agung dan mulia itu akan tiba. Bulan yang ditunggu oleh seluruh umat Islam diseluruh negara. Menyambut Ramadham ditengah pandemi corona menjadi hal yang berbeda dari sebelumnya. Kegiatan pawai obor dalam menyambut Ramadhan yang sering kita lihat di kampung-kampung akan terasa sepi. Tradisi munggahan (makan bersama dengan alas daun pisang) yang bisa di lakuin oleh masyarakat Sunda di Jawa barat seminggu sebelum puasa berkumpul dengan orang-orang terdekat ditiadakan.

Ada juga tradisi Nyorog (membagikan bingkisan ke sanak saudara) yang biasa dilakuin oleh orang betawi setiap memasuki bulan Ramadhan juga akan terhenti. Tradisi Dugderan tidak kalah ‘heboh’ menjadi pesta rakyat yang diisi dengan tari-tarian, karnaval dan tabuh bedug dimulai dari Balak Kota dan berakhir di Masjid Kauman juga ditiadakan. Tradisi-tradisi yang begitu banyak di Indonesia dalam menyambut Ramadhan akan terasa hampa saat di tengah pandemi corona.

Para Ustadz yang sudah dijadwalkan untuk mengisi tausiah atau kajian ramadhan di setiap Masjid, Musholla, Majelis Ta’lim juga akan terancam di batalkan, bahkan sepi kegiatan sebab semua kegiatan amaliyah Ramadhan semua dilakukan di rumah. Begitu arahan Kementerian Agama (Kemenag) dengan surat edarannya nomor 6 tahun 2020 mengenai aktivitas ibadah dengan keluarga inti di rumah.
Karena semua kegiatan di rumah termasuk kegiatan ibadah, maka kreativitas, ide, dan gagasan untuk produktif harusnya bisa ditonjolkan. Salah satunya adalah menggunakan teknologi komunikasi, apalagi setelah memasuki era Revolusi Industri 4.0 masyarakat Indonesia sudah melek dengan penggunaaan teknologi informasi dan komunikasi dengan jaringan internet.

Era ini semua sudah serba digital, bahkan para Ustadz yang biasa ceramah manual (tatap muka) kini beralih ke jejaringan sosial untuk meluaskan dakwahnya ke masyarakat. Sebut saja para ustadz yang sudah menggunakan dakwah digital yaitu Ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAS), serta para ustadz lainnya yang sudah menggunakan jejaringan sosial seperti channel youtube, instagram, dan facebook untuk menjaring jamaah lainnya termasuk generasi milenial.

Agar para ustadz /mubalig bisa eksis berdakwah di tengah pandemi corona dan tidak hanya mengandalkan dakwah tatap muka dengan jamaah, maka para ustadz sudah beralih menjadi ‘ustadz digital’ dengan memanfaatkan teknologi dan menebarkan nilai-nilai ilahi dimasa pandemi corona saat ini.

Apalagi akan memasuki bulan Ramadhan. Tidak semua pengurus masjid, mushola, majelis ta’lim dan komunitas yang aware untuk mengundang para ustadz/mubaligh agar bisa ceramah dengan menggunakan video conference. Maka, agar para ustadz/mubalig tetap bisa menyapa, membina dan mentransfer ilmunya harus bisa mahir digital.
Maka, baru-baru ini saya juga mendapat info mengenai pelatihan online untuk mubalig agar mahir digital (MMD) ditengah pandemi corona dengan menggunakan video conference. Tujuanya agar para ustadz/mubalig bisa belajar cepat membuat konten video, foto, editing dan program siaran video OTT TV digital. Para mubaligh juga akan diajarkan mengupload video dan viral konten di web, sosmed dan aplikasi sendiri. Belajar cepat buat TV digital dan konten yang bisa mendatangkan sponsotr atau iklan. Para mubaligh juga akan diajarkan menjadi mubalig kontibutor siaran dari smartphone live broadcast dan belajar mengisi kajian online di rumah live lewat kanal TV sendiri.

Tidak dipungkiri, bagi Ustadz yang kesehariannya adalah seorang mubalig atau da’i terkena imbas dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Maka dari itu, pelatihan ini menjadi sangat penting untuk diikuti bagi para ustad yang kesehariannya berceramah kesana kemari.
Untuk menjadi ustad digital maka alat-alat penunjang seperti smartphone, laptop, email dan akun medsos, harus punya dan akrab dalam penggunaanya. Sehingga akan muncul ‘ustadz digital’ lainnya yang akan semarakkan dalam syiar jagat jejaringan sosial atau video conference. Jika para mubaligh semakin mahir digital, maka akan mendapat penghasilan mandiri dari dunia digital, ia akan selalu menyapa, membina dan menjaga jamaah dalam jaringan digital dan database dan membangun ekosistem jamaah dengan pengurus masjid, mushola, majelis taklim dan komunitas.

Namun perlu diingat, ketika para mubalig sudah tenar, ia tidak mengkomersialkan dakwahnya dengan memasang tarif (puluhan juta) hingga menjadi kapitalisasi pasar dan mencari duniawi semata. Sekalipun wargenet nanti menyebutnya sebagai ustad atau mubalig digital bahkan hingga viral. Jangan sampai lupa diri, sejatinya dakwah merupakan misi para nabi dan rosul, dengan memegang prinsip amar ma’ruf nahi munkar dan menjadi umat terbaik sebagaiman adalam firman Allah surat Ali Imran ayat 110.

(***)