CILEGON – Meski dikenal sebagai kota industri terbesar di Provinsi Banten, tingkat pengangguran di Kota Cilegon masih cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten per Agustus 2025, tercatat 7,41 persen penduduk Cilegon dari total angkatan kerja masih menganggur. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata provinsi yang mencapai 6,69 persen.
Tingginya angka pengangguran di kota yang memiliki kawasan industri strategis ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang lapangan kerja terbesar di Banten dengan kontribusi 22,37 persen terhadap total tenaga kerja.
Namun di sisi lain, masih banyak warga Cilegon yang belum terserap di sektor industri yang justru berdiri di wilayah mereka sendiri.
Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja lokal. BPS mencatat, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Banten, yakni 10,13 persen.
Banyak di antara mereka belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri modern di Cilegon, terutama sektor petrokimia, baja, dan energi.
Selain faktor keterampilan, dinamika industri di Cilegon juga berpengaruh. Persaingan tenaga kerja dari luar daerah yang memiliki kompetensi lebih tinggi membuat tenaga kerja lokal sulit menembus lapangan kerja formal. Padahal, proporsi pekerja formal di Banten tahun ini meningkat menjadi 54,88 persen, sementara sektor informal menurun menjadi 45,12 persen.
Pemerintah daerah bersama pelaku industri diharapkan lebih fokus memperkuat pelatihan vokasi dan link and match dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Selain itu, sektor jasa, perdagangan, dan ekonomi kreatif di Cilegon perlu dikembangkan sebagai alternatif penyerapan tenaga kerja baru di luar sektor industri berat.
Dengan pertumbuhan ekonomi Banten yang mencapai 5,29 persen, tantangan bagi Kota Cilegon kini adalah memastikan pertumbuhan itu juga berdampak pada penurunan angka pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Pada Agustus 2025, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 10,13 persen. Artinya, dari 100 orang angkatan kerja tamatan Sekolah Menengah Kejuruan, terdapat sekitar 10 orang penganggur,” kata Ketua Tim Statistik Sosial BPS Provinsi Banten, Adam Sofian, dalam rilis resmi di Serang, Rabu (5/11/2025).
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin
