Beranda Sosok Pengabdian dr. Rathschek: Jejak Medis Dokter Jerman di Jantung Serang Tahun 1958

Pengabdian dr. Rathschek: Jejak Medis Dokter Jerman di Jantung Serang Tahun 1958

dr. Rathschek tengah berbicang dengan seorang pasien. (Ist)

PADA era 1950-an, ketika Indonesia baru saja berdiri di atas kakinya sendiri, kota-kota kecil di pedalaman Jawa masih berjuang melawan bayang-bayang kemiskinan dan keterbatasan fasilitas umum. Salah satunya adalah Serang, sebuah kota kabupaten kecil di Banten yang kala itu hanya berpenduduk sekitar 45.000 jiwa.

Di tengah keheningan kota yang dikelilingi hamparan sawah dan pohon kelapa tersebut, hadir seorang pria asing bertubuh tegap dari tanah Jerman. Dialah dr. H. J. Rathschek, seorang ahli bedah dan kebidanan asal kawasan Rhein yang memutuskan mengabdikan keahlian medisnya jauh dari kampung halamannya.

dr. Rathschek tengah berbicang dengan seorang pasien. (Ist)

Ketika dr. Rathschek pertama kali menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Republik Indonesia pada awal dekade 1950-an, nama Serang hanyalah sebuah titik asing tak bertepi di atas peta dunianya. Namun, panggilan kemanusiaan membawanya melangkah ke ibu kota Banten tersebut pada tahun 1954 untuk memimpin pelayanan kesehatan setempat.

Kedatangannya bertepatan dengan masa transisi yang sulit, di mana negara yang baru merdeka ini sedang mengalami krisis tenaga medis serta pergolakan politik dan keamanan di berbagai wilayah.

Papan nama Rumah Sakit Umum Serang. (Ist)

Langkah awalnya di Rumah Sakit Umum Serang disambut oleh realitas yang cukup memprihatinkan. Bangunan rumah sakit tempat ia akan bertugas merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang didirikan sekitar 150 tahun sebelumnya dan sempat dijadikan penjara pada masa pendudukan Jepang.

Kondisinya amat sederhana, hanya berkapasitas sekitar 45 tempat tidur dengan sebagian lantai yang masih beralaskan tikar. Di dalam ruang operasinya yang kosong, Dr. Rathschek hanya menemukan sebuah lemari instrumen kecil berisi beberapa alat bedah sederhana.

Namun, keterbatasan sarana tak sedikit pun meluruhkan tekad dokter lulusan Eropa ini untuk bekerja. Dengan kesabaran dan ketekunan penuh, Dr. Rathschek mulai menata kembali sistem pelayanan medis di rumah sakit tersebut.

Baca Juga :  Pemudi Cilegon Ini Sukses Raih Beasiswa Program S3 di Jepang

Perlahan tapi pasti, ia merenovasi serta memperluas kapasitas tempat tidur hingga mampu menampung sekitar 200 pasien. Fasilitas vital seperti ruang operasi yang memadai, laboratorium diagnosis, hingga peralatan sinar-X (rontgen) berhasil ia hadirkan demi menunjang pengobatan warga setempat.

Halaman Rumah Sakit Umum Serang kini RSUD dr. Dradjat Prawiranegara.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan pemerintah daerah kepadanya kian menguat hingga ia diangkat menjadi Dokter Kabupaten (Chief Medical Officer) Serang. Tanggung jawabnya pun meluas melampaui dinding-dinding rumah sakit. Dr. Rathschek harus menyusuri jalan-jalan pedesaan yang berdebu dan berlubang untuk menginspeksi berbagai fasilitas kesehatan pembantu dan puskesmas yang tersebar di wilayah Banten, termasuk hingga ke kawasan Cilegon.

Warga sedang mencuci dan mandi di sungai.

Di lapangan, Rathschek berhadapan langsung dengan benteng persoalan kesehatan tropis yang cukup rumit. Penyakit-penyakit endemik seperti malaria, tifus, hingga cacingan menggerogoti kesehatan warga dari anak-anak hingga dewasa. Tak jarang ia menjumpai pengemudi becak—kelompok pekerja keras yang menopang transportasi kota—menjadi korban rentan serangan tuberkulosis (TBC) akibat beban fisik yang terlampau berat tanpa diimbangi gizi yang memadai.

Tantangan dr. Rathschek tidak hanya datang dari mikroba dan virus, melainkan juga dari jurang bahasa serta budaya. Pada masa awal tugasnya, ketika ia belum bisa berbahasa Indonesia, ia memutar otak agar tetap bisa berkomunikasi secara efektif dengan para pasiennya. Ia menggambar organ tubuh manusia—seperti usus buntu yang meradang atau paru-paru yang terinfeksi—di atas selembar kertas untuk menjelaskan penyakit serta prosedur medis yang akan dilakukannya.

Lewat metode sederhana itu, Rathschek tidak hanya menyembuhkan fisik pasien, tetapi juga perlahan mempelajari bahasa dan adat istiadat setempat. Tak butuh waktu lama baginya untuk fasih menyapa warga menggunakan bahasa Indonesia yang hangat dan ramah. Ia tak canggung menyusuri pasar-pasar tradisional yang riuh, menyapa para tetangga, dan berbaur dengan dinamika kehidupan masyarakat Serang tanpa sekat keasingan.

Baca Juga :  Taufik Arrahman: Dari Loper Koran, Pengusaha, Kini Jadi Anggota Dewan (I)
dr. Rathschek.

Salah satu warisan terpenting dari keberadaan dr. Rathschek di Serang adalah komitmennya dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada tenaga kesehatan lokal. Mengetahui bahwa seluruh Banten kala itu hanya memiliki dua dokter berbangsa Indonesia untuk melayani 1,5 juta jiwa, ia secara sabar mendidik para perawat dan mantri di sekitarnya.

Dari tangannya, lahirlah tenaga-tenaga terampil seperti Haji Uswa dan pasangan suami-istri Mulyono, di mana Pak Mulyono dididik hingga mampu melakukan operasi mandiri sementara istrinya mahir menjadi perawat anestesi.

Mulyono bersama sang istri.

Integrasi Rathschek dengan nilai-nilai lokal juga tercermin dari rasa hormatnya yang tinggi terhadap keyakinan warga Banten yang religius. Ketika ia memprakarsai pembangunan ruang ibadah kecil di lingkungan rumah sakit untuk tempat salat pasien dan staf muslim, ia mendapati bahwa arah bangunan tersebut keliru dan tidak menghadap ke Ka’bah. Sebagai seorang Katolik yang taat, ia tak segan meminta bangunan tersebut dibongkar dan dibangun ulang dengan perhitungan arah Kiblat yang tepat.

Di balik ketenangan kesehariannya melayani warga, situasi politik dan keamanan nasional saat itu sebenarnya tengah bergejolak. Ancaman konflik bersenjata, pengaruh pemberontakan di daerah lain, hingga isu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di wilayah pegunungan selatan Banten mewarnai dinamika kehidupan saat itu. Namun, dr. Rathschek tetap menjalankan tugasnya dengan tenang, kerap menangani prajurit atau warga yang terluka akibat bentrokan malam hari tanpa membeda-bedakan status.

Kehadiran dan dedikasi Rathschek yang luar biasa ini sempat diabadikan secara visual oleh jurnalis asal Jerman Barat, Peter von Zahn, dalam film dokumenter bertajuk Bilder aus der farbigen Welt pada tahun 1958. Rekaman langka tersebut memperlihatkan bagaimana Dr. Rathschek bekerja di ruang operasi yang panasnya mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, melakukan operasi bedah dengan teliti di bawah guyuran hujan tropis, hingga hadir memberi dukungan saat tim sepak bola rumah sakit bertanding.

Baca Juga :  Tim Temukan Reruntuhan Bangunan Diduga Ruang Tamu Kesultanan Banten

Dalam sebuah kesempatan kunjungan inspeksi, Dr. Adjidarma selaku dokter residen Provinsi Banten menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas dedikasi rekan sejawatnya dari Jerman tersebut. Kerja sama harmonis antara dr. Rathschek, para pejabat daerah, dan para mantri lokal menjadi bukti nyata bahwa batas-batas kebangsaan dan perbedaan budaya dapat dileburkan demi satu tujuan mulia: kemanusiaan dan keselamatan jiwa manusia.
Meskipun jasanya begitu besar dalam memodernisasi pelayanan medis di Serang, Rathschek senantiasa menunjukkan sikap yang sangat rendah hati.

Ia berulang kali menegaskan bahwa keberhasilan perkembangan rumah sakit tersebut bukanlah panggung kehebatan pribadinya, melainkan buah dari kemauan politik pemerintah daerah serta kerja keras seluruh tim medis lokal yang mendampinginya setiap hari.

Kisah pengabdian dr. H. J. Rathschek hingga awal dekade 1960-an menjadi salah satu lembaran sejarah kesehatan masyarakat Banten yang paling berkesan. Di sebuah kota kecil yang jauh dari kemewahan Eropa, seorang dokter Jerman telah mengukir jejak bakti—bukan untuk mencari ketenaran layaknya Albert Schweitzer, melainkan sekadar menjalankan tugas kemanusiaannya dengan tulus di antara riuk pasar, sungai, sawah, dan senyum ramah warga Serang.

Tim Redaksi