Beranda Sosial dan Budaya Penanganan Anjal di Kota Serang Belum Maksimal

Penanganan Anjal di Kota Serang Belum Maksimal

154
0
Seorang anak tampak mengemis di sekitar lampu merah di Kota Serang. (Ade/bantennews)

SERANG– Penanganan anak jalanan (anjal) saat ini masih belum terlihat adanya kemajuan yang signifikan. Hal ini terlihat dari masih maraknya anjal di beberapa titik di Kota Serang.

Lebih mirisnya, dalam radius kurang dari 100 meter dari kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang, tepatnya di lampu merah Kebon Jahe, terdapat anjal yang sedang mengemis dengan sedikit memaksa.

Anjal tersebut mengakui bahwa dirinya sengaja meminta-minta untuk mencari uang jajan. “Ayah ibu lagi kerja,” ujarnya dengan tidak mau memberitahukan namanya, Jumat (9/8/2019).

Sementara itu, salah satu pedagang di sekitar lampu merah Kebon Jahe, Rizki, menuturkan bahwa anjal tersebut sudah dua hari berada di sana, untuk meminta-minta.

 

Rizki mengatakan, anjal tersebut dalam meminta uang kepada pengguna jalan sering dengan cara sedikit memaksa. Pengguna jalan yang menjadi incarannya, lanjut Rizki, adalah pengendara roda empat.

“Ya kayak yang mas lihat tadi saja, dia sengaja nempelin badannya ke mobil yang dia minta. Trus juga gak mau pindah kalau gak dikasih. Terkadang juga sambil mukul-mukul kayak gendang gitu,” ujarnya.

Ia pun berharap, pihak yang berwajib dapat menertibkan anjal. Selain mengganggu, ia mengaku bahwa dirinya merasa kasihan, karena berbahaya bagi anjal tersebut.

“Kasihan mas, dia terkadang harus ada di tengah kendaraan, yang tiba-tiba berjalan karena lampunya sudah hijau. Berbahaya saya lihatnya buat anak sekecil itu,” ucapnya.

Kasi Resos Anak dan Lansia pada Dinsos Kota Serang, Hendri Sudiarni, mengakui bahwa pihaknya masih belum bisa menertibkan permasalaham anjal. Hal ini dikarenakan masih minimnya kesadaran keluarga, dalam melakukan pencegahan terhadap anak-anaknya.

“Kalau berbicara apakah sudah berupaya, tentu sudah. Dari mulai memberikan pemahaman hingga menempatkan anjal tersebut di rumah singgah. Namun terkadang, keluarganya yang tidak paham,” ujarnya.

Untuk rumah singgah pun, lanjutnya, masih belum sesuai dengan kebutuhan Dinsos Kota Serang. “Rumah singgah saat ini memang tidak representatif,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa banyak diantara Anjal yang pihaknya coba untuk rehabilitasi, melakukan penolakan. Karena, menurut para Anjal, menjadi peminta-minta merupakan pekerjaan yang menguntungkan.

“Kami kan memberi mereka pelatihan keterampilan, namun mereka tidak mau. Mereka bilangnya lebih baik meminta-minta, karena sehari bisa dapat Rp65.000 hingga Rp100.000. Daripada misalnya menjual pulsa,” ujarnya.

Selain itu, ia mengakui bahwa pihak Dinsos Kota Serang memiliki petugas yang disebut dengan petugas Pos Sahabat Anak. Mereka memiliki tugas untuk memantau keberadaan anjal agar dapat dilakukan penindakan.

“Namun saat ini, mereka hanya turun beberapa kali dalam seminggu. Karena ternyata anggaran untuk honor mereka bisa dikatakan kurang. Meskipun memang mereka tidak menuntut honor juga sih,” ujarnya.(Dhe/Red).