CILEGON – Kegiatan penanaman sejuta pohon yang baru dilaksanakan oleh Pemerintah (Pemkot) Cilegon pada Kamis (15/1/2026) kemarin dikritisi oleh Ketua Komisi I DPRD Cilegon, Ahmad Hafid.
Diketahui, kegiatan yang melibatkan seluruh OPD dan BUMD Cilegon itu dilakukan di empat titik, yakni di wilayah Kelurahan Bulakan, Bagendung, Citangkil, dan Kepuh.
Kegiatan yang tampak seolah sebagai upaya mencegah banjir yang belakangan ini marak terjadi di sejumlah wilayah di Cilegon ini disoroti oleh Ahmad Hafid. Menurutnya, penanaman pohon di musim penghujan dengan kondisi lingkungan yang masih rusak hanyalah tindakan percuma.
“Niatnya bagus, tapi saat ini saya rasa belum tepat karena musim penghujan masih terus berlanjut. Ketika pohon ditanami lalu kemudian terjadi banjir, ya pohon itu akan hilang, akan terseret banjir jadi sia-sia. Kalau mau ada program tanam pohon setelah selesai banjir, nanti di musim panas sehingga bisa tumbuh dengan baik,” kata politisi Partai Amanat Nasional itu, Jumat (16/1/2026).
Hafid mengaku heran dengan langkah Pemkot Cilegon dalam menghadapi bencana yang hampir selalu muncul saat hujan deras mengguyur Cilegon ini. Pasalnya, berdasarkan kondisi sementara di lapangan, banjir terjadi diakibatkan oleh penyempitan dan pendangkalan saluran air, namun Pemkot Cilegon justru memilih langkah yang kurang faktual.
“Saat ini harapan masyarakat bukan itu, tapi sungai-sungai perlu adanya normalisasi, selokan perlu diperlebar, lalu kemudian bikin beberapa titik sodetan baru, terus segera buat kubangan atau tandon yang sifatnya sementara lalu kemudian dilanjut menjadi permanen,” ungkapnya.
“Jadi tolonglah serius dalam menanggapi terkait banjir. Jangan sampai besok di kemudian hari ada banjir lagi, kita kebanjiran lagi. Ini jadi gagal paham Pemkot dalam hal penanganan banjir,” sambung Hafid.
Lebih jauh, Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menilai Pemkot Cilegon terkesan tidak berdaya dalam membangun komunikasi dengan ratusan industri yang menjamur di wilayahnya. Sebagai pemangku kebijakan, seharusnya dapat lebih tegas kepada para korporasi tersebut untuk benar-benar terlibat aktif dalam penanganan banjir, bukan seremonial semata.
“Apa susahnya sih kita ini kan kota industri banyak gitu CSR industri yang bisa digunakan. ada sekitar kurang lebih 300 perusahaan raksasa di Kota Cilegon ini, satu perusahaan sumbang Rp1 miliar. Saya rasa Cilegon enggak susah lah. Untuk apa banyaknya industri kalau penanganan banjir saja tidak bisa di tangani. Malu lah kita, malu lah para industri itu kalau tidak bisa menyelesaikan urusan banjir,” ujarnya.
Hafid mengungkapkan, permintaan kepada industri-industri itu dianggap wajar. Ia menegaskan agar tak melupakan bahwa keberadaan industri juga menjadi salah satu dari sekian banyak penyebab banjir di Cilegon lantaran aliran air menuju laut terhambat.
“Saya minta ketegasan serius baik Pemkot, industri ataupun masyarakat semuanya harus bersama mencari solusi agar banjir ke depan tidak terjadi lagi. Ini sinyal bahwa ini mengingatkan kita semua sebagai umat manusia kalau banjir hari ini tidak bisa diselesaikan, tidak ada solusinya, maka bisa jadi akan terjadi banjir yang lebih besar nanti,” tutupnya.
Penulis : Maulana
Editor : Gilang Fattah
