KAB. TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Tangerang menunjukkan komitmennya dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan, anak, serta Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), termasuk di lingkungan pendidikan dan pondok pesantren.
Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, mengajak para guru ngaji, ustaz, ustazah, serta pimpinan pondok pesantren (ponpes) untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan TPPO.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan TPPO belum lama ini.
“Kami mohon bantuan para guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pengelola pondok pesantren untuk bergandengan tangan mencegah berbagai pelanggaran pidana. Jangan pernah lelah untuk terus mengedukasi masyarakat,” kata Maesyal.
Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak serta perdagangan orang bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga merupakan tragedi kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial.
“Persoalan kekerasan ini bukan sekadar pelanggaran hukum pidana, melainkan tragedi kemanusiaan yang mencederai norma-norma agama dan kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Maesyal menyoroti meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi setiap tahun. Karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren, untuk berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pimpinan pondok pesantren merupakan garda terdepan dalam pembinaan umat yang memiliki peran penting dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan keluarga.
“Saya berharap para guru ngaji, kiai, ustaz, ustazah, dan pimpinan pondok pesantren terus menyampaikan edukasi mengenai keharmonisan rumah tangga, tanggung jawab suami-istri, serta pola asuh anak dalam setiap ceramah. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama menekan angka kasus KDRT yang terus meningkat,” ujarnya.
Selain itu, Maesyal juga mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren.
Ia menilai lahan kosong yang dimiliki pondok pesantren dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, seperti budidaya hortikultura, tanaman palawija, maupun usaha perikanan bioflok guna meningkatkan kesejahteraan santri dan tenaga pengajar.
“Jika ada lahan pesantren yang belum dimanfaatkan, kami akan berupaya melalui DP3A maupun dinas terkait untuk mendukung kegiatan produktif seperti penanaman hortikultura, palawija, atau budidaya ikan bioflok. Selain menjadi aktivitas yang bermanfaat bagi santri dan guru ngaji, kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus bebas dari segala bentuk kekerasan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Sekolah bagi Guru PAUD dan TK se-Kabupaten Tangerang, Rabu (10/6/2026).
“Saya ingin menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Kita harus memastikan sekolah benar-benar bebas dari kekerasan, baik fisik, verbal, psikologis, perundungan, maupun bentuk kekerasan lainnya,” tegas Intan.
Ia menyebut kekerasan terhadap anak bukanlah persoalan sepele. Bentakan, ejekan, kata-kata yang merendahkan, hingga perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang membekas dan memengaruhi tumbuh kembang anak.
Karena itu, menurutnya, pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi positif, kesabaran, dan keteladanan harus menjadi budaya dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan usia dini.
“Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru hari ini akan melekat dalam ingatan anak-anak hingga mereka dewasa nanti. Karena itu, saya meyakini bahwa guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pelindung, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran strategis guru PAUD dan TK dalam membentuk karakter anak pada masa emas pertumbuhannya. Menurutnya, kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
“Kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, hingga seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya. Bapak dan Ibu guru merupakan salah satu garda terdepan dalam mewujudkan Kabupaten Tangerang Layak Anak,” tandasnya.
Intan menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Ia pun mengajak seluruh guru PAUD dan TK untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.
“Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak. Ketika anak-anak tumbuh tanpa kekerasan, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, serta bimbingan penuh kasih sayang, maka kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” pungkasnya. (ADV)
