Beranda Peristiwa Pemilihan Supplier Program Sembako di Pandeglang Diwarnai Keributan

Pemilihan Supplier Program Sembako di Pandeglang Diwarnai Keributan

78
0
Ade Emon (kiri) sesaat setelah walk out dari acara pemilihan supplier. (Memed/red)

 

PANDEGLANG – Pemilihan supplier untuk program sembako (dulunya BPNT) yang dilakukan di gedung Pendopo Bupati Pandeglang diwarnai protes dan walk out dari sejumlah agen. Alasan mereka sempat walk out diduga karena tidak adanya keterbukaan terkait perusahaan penyedia barang.

Ketua Paguyuban Agen di 24 kecamatan, Ade Emon menyampaikan, alasan dia dan rekannya yang lain keluar karena merasa pemilihan supplier ini tidak terbuka. Pasalnya, para agen hanya dipersilakan memilih menu yang akan mereka pesan tetapi tidak dicantumkan nama perusahaannya.

“Pemahaman kami kenapa tadi keluar karena kalau salah memilih menu sedangkan itu bukan pilihan kami tidak sesuai dengan kapasitasnya maka itu menjadi kekhawatiran kami terkait kualitas dan kuantitasnya. Kalau yang kemarin kami yang memilih langsung supplier, Kami awalnya tidak paham kenapa kami harus memilih menu sedangkan di menu itu hampir semua supplier menunya sama,” kata Ade di sela-sela kegiatan, Jumat (14/2/2020).

Ade menegaskan, yang menjadi kekhawatiran para agen adalah kualitas dan kuantitas yang disediakan para supplier. Sebab, jika agen salah memilih supplier maka imbasnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kata dia, pengalaman tahun sebelumnya ada masyarakat miskin penerima bantuan sosial terpaksa menukarkan beras dengan bawang karena kualitas beras yang mereka terima sangat buruk. Oleh sebab itu, ia tidak menginginkan pengalaman itu kembali terulang.

“Agen ini pertanggungjawabannya pada pemerintah dan KPM atau masyarakat miskin, ketika hari ini kami salah memilih supplier maka kami yang akan menyesal selamanya. Jangan sampai terjadi beras menjadi bawang karena kualitasnya tidak layak dimakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, keinginan dari para agen sebenarnya sangat simpel yakni tim koordinator mencantumkan nama perusahaan penyedia barang agar agen bisa menentukan sesuai pilihan mereka.

“Keinginan kami tim koordinator mencantumkan atas nama perusahaan dan menunya. Ini bukan karena seseorang, siapapun pilihannya atas nama agen yang penting bisa mempertanggungjawabkan kualitas dan kuantitas, kami ini hanya jasa. Yang lebih kami pikirkan itu kuantitas dan kualitas,” tutupnya. (Med/Red)