Beranda Peristiwa Pelajaran Kehidupan dari Idul Adha yang Perlu Kita Pahami

Pelajaran Kehidupan dari Idul Adha yang Perlu Kita Pahami

891
0
Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Hari Raya Idul Adha memiliki cerita yang begitu kuat tentang keimanan sepasang ayah dan anak, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Keduanya sama-sama merelakan sesuatu yang paling dicintai, sebagai pembuktian bahwa cinta mereka kepada Allah SWT adalah mutlak di atas segalanya.

Nabi Ibrahim rela mempersembahkan putra yang sangat dicintainya, Ismail. Nabi Ismail pun merelakan nyawanya sebagai satu-satunya miliknya demi menjalankan perintah Allah.

Tapi tahukah kamu, apa makna Idul Adha yang ingin disampaikan Allah kepada kita? Bukan sekadar ber-qurban loh! Allah memberikan 5 makna yang juga sekaligus kunci kebahagiaan dalam hidup.

1. Cintai Tuhanmu dan terimalah balasan cintanya yang jauh lebih indah

Lewat Idul Adha, Allah ingin mengajarkan kita tentang kemurnian cinta. Kalau kamu belum tahu, Nabi Ibrahim baru dikaruniai seorang anak saat usianya memasuki senja. Doa beliau untuk memiliki putra dikabulkan dengan lahirnya Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.

Jadi, coba dibayangkan betapa hancurnya hati Nabi Ibrahim ketika anak yang dinantikan setelah sekian lama, dirawat dan dibesarkan sekian tahun, dicintai dengan segenap hati, harus direlakan ketika Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih Ismail. Pasti perasaannya hancur dan sangat pilu.

Namun rasa cinta Nabi Ibrahim yang begitu besar kepada Allah, mendorong hatinya untuk mempersembahkan Ismail, sesuai yang diperintahkan kepadanya. Nabi Ismail yang memiliki kecintaan yang sama murninya kepada Allah pun, merelakan dirinya dijadikan persembahan kepada Sang Pencipta.

Tapi, cinta Allah jauh lebih murni dari cinta siapapun. Allah mengakhiri ujiannya kepada sepasang ayah dan anak, dengan cara menukar Nabi Ismail dengan hewan qurban.

Intinya: bila kamu ingin hidup dengan bahagia, kamu cukup mencintai pencipta-Mu dengan tulus, dan Tuhan pun akan membalas cintamu dengan cara yang jauh lebih indah.

2. Doa orang yang taat tak pernah terlewat

Nabi Ibrahim dikenal sebagai nabi yang begitu taat kepada Allah. Kecintaannya tak perlu diragukan. Maka ketika Nabi Ibrahim menginginkan seorang putra di usianya yang senja, Allah tak segan-segan mengabulkannya.

Allah membalas ketaatan Nabi Ibrahim dengan keturunan-keturunan yang soleh dan berbakti pada orang tua. Jadi, kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

3. Ikhlas memberi rasa bahagia tanpa pamrih ataupun pamer

Beribadahlah hanya karena Allah. Ini yang bisa kita pelajari dari Nabi Ismail, saat beliau merelakan dirinya disembelih oleh ayahnya sendiri. Bagi Nabi Ismail, mengorbankan nyawa sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah adalah bagian dari ibadah.

Dan ketika Nabi Ismail ikhlas menyerahkan nyawanya, Allah membalas ke-ikhlasannya dengan usia yang panjang, dan derajat kehidupan yang lebih baik. Buktinya, kita selalu mengenang Nabi Ismail setiap tahunnya.

Ingat-ingat ya kalau beribadah haruslah karena Allah. Kalau beli hewan qurban gak perlu juga diunggah ke sosmed.

4. Idul Adha mengajarkan kita jadi anak berbakti

Kalau kita jadi Nabi Ismail, mungkin kita akan meminta Nabi Ibrahim untuk memohon kepada Allah, supaya menarik lagi perintahnya untuk menyembelih leher kita. Tapi, Nabi Ismail beda. Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail justru yang meminta ayahnya untuk segera menjalankan perintah tersebut. Sepertinya Nabi Ismail takut kalau Allah akan marah pada ayahnya dan memberikan hukuman pada ayahnya. Kalau kita? apa yang sudah kita lakukan untuk kedua orang tua kita?

5. Mau hidup bahagia? Berbagilah kepada sesama

Melalui Idul Adha, Allah ingin memberikan satu lagi kunci hidup bahagia. Selain mencintai-Nya dengan tulus, mencintai orang tua, kita juga harus mencintai sesama. Itu mengapa, berkurban disarankan untuk mereka yang mampu. Dengan harapan, saudara-saudara di sekitar kita yang belum mampu membeli daging yang harganya mahal bisa menikmati lezatnya berbagai menu olahan daging.

Tapi, peduli pada sesamanya jangan hanya saat Idul Adha saja, ya! Kita harus belajar peduli sesama setiap saat. Tidak bisa menyumbang uang, bisa menyumbang tenaga. Tidak bisa menyumbang tenaga, bisa menyumbang pikiran. Tidak bisa menyumbang pikiran, bisa menyumbang doa. (Red)

Sumber : IDN Times