SERANG – Langkah Gubernur Banten, Andra Soni terasa mantap saat menapaki area lingkar luar Pasar Induk Rau (PIR), Kota Serang. Di bawah sengatan matahari pagi yang kian terik, ia berdiri menyaksikan pembongkaran lapak-lapak yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup ratusan pedagang kecil. Suasana penuh debu dan suara palu menghantam seng menyambut kedatangannya.
Andra tak datang sendiri. Ia didampingi Wali Kota Serang, Budi Rustandi dan sejumlah pejabat Pemkot Serang. Namun, sorotan utama tertuju padanya—orang nomor satu di Provinsi Banten—yang memilih turun langsung meninjau penertiban kawasan pasar yang selama ini dikenal semrawut dan kumuh.
“Hari ini saya berkesempatan mendampingi Pak Wali Kota Serang meninjau langsung proses penertiban pedagang yang dilakukan Pemkot Serang di Pasar Rau,” ucap Andra, usai menyusuri jalanan pasar yang setengah terbuka, diapit lapak-lapak yang tinggal kerangka.
Kehadiran Andra bukan sekadar inspeksi seremonial. Ia menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Serang yang tengah menata ulang kawasan pasar terbesar di ibu kota provinsi itu. Penataan yang tak mudah—dengan risiko gejolak sosial dari para pedagang yang terdampak.
Namun, Andra justru melihat ada semangat baru yang menyala di tengah bongkaran seng dan kayu bekas lapak. “Saya melihat semangat optimisme dari Pemkot Serang dalam merevitalisasi kawasan ini. Langkah ini sejalan dengan visi menjadikan Kota Serang lebih bersih, lebih maju, dan masyarakatnya lebih bahagia,” katanya.
Ia yakin, Pasar Induk Rau memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya digarap. Tak sekadar tempat jual-beli, pasar ini disebut-sebut bisa menjadi pusat gravitasi ekonomi baru di Banten. “Kami yakin Pasar Rau bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di Banten. Dukungan masyarakat juga terlihat kuat, dan itu menjadi modal penting dalam proses penataan,” kata Andra.
Dalam sorotannya, revitalisasi pasar bukan sekadar menggeser lapak ke tempat lain atau membangun bangunan baru yang lebih rapi. Tapi juga soal perubahan pola pikir—membangun ekosistem yang memungkinkan pasar tradisional bertahan, namun dalam format yang lebih modern dan tertib.
Salah satu lapak yang tersisa menunjukkan kontras mencolok: seng tua berkarat di tengah papan-papan proyek yang mencolok dengan huruf tebal bertuliskan “Revitalisasi Zona Timur PIR”. Di balik lapak itu, sekelompok ibu-ibu pedagang duduk termenung, sebagian memeluk karung berisi sisa dagangan. Suasana yang tak asing dalam sejarah pembangunan kota-kota: yang lama ditertibkan, yang baru masih janji.
Namun Andra memilih melihat sisi harapan. Baginya, ini bukan akhir, melainkan awal. “Apa yang dilakukan Pak Wali sudah sesuai dengan komitmen beliau sejak awal, yaitu ingin menjadikan Kota Serang sebagai kota yang menyala, yang maju. Ini patut kita apresiasi,” ujarnya.
Ia pun memastikan bahwa Pemprov Banten tidak tinggal diam. Kolaborasi antar-pemerintah daerah, katanya, menjadi kunci. “Pak Wali sudah menyampaikan kepada kami bahwa dibutuhkan kolaborasi untuk mewujudkan pasar yang lebih bersih, nyaman, dan modern. In syaa Allah Pemprov Banten akan mendukung,” tuturnya.
Siang kian tinggi. Suara mesin pemotong besi masih terdengar, menggema di antara tembok pasar tua. Gubernur pun berlalu, meninggalkan jejak sepatu di atas tanah berdebu dan wacana besar di antara bongkaran.
Untuk sebagian warga, itu mungkin hanya kunjungan singkat seorang pejabat. Tapi bagi Pemkot Serang, dan barangkali juga sejarah Pasar Rau, itu bisa jadi penanda awal perubahan besar. Jika revitalisasi benar terwujud seperti janji-janji itu, maka hari ini bisa dikenang sebagai momen lahirnya pasar yang tak hanya bersih, tapi juga punya arah.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo
