LEBAK — Sawarna punya banyak wajah seperti Tanjung Layar sudah lama menjadi ikon. Namun, di balik bukit dan hamparan sawah, Legon Pari menawarkan wajah lain, pantai yang lebih sunyi, sederhana, dan masih terjaga.
Dari pusat Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, perjalanan menuju Legon Pari membutuhkan sedikit usaha. Pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 45 menit atau menggunakan ojek lokal dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.
Jalurnya menanjak dan menurun, tetapi rasa lelah itu seketika terbayar ketika teluk mulai terlihat dari balik bukit.
Di depan mata terbentang garis pantai sekitar 4 kilometer. Pasir putih membentuk lengkungan seperti huruf U. Hamparannya luas, lembut, dan relatif bersih. Suasananya juga jauh lebih tenang dibandingkan Tanjung Layar yang lebih ramai.
Warga setempat, Udin, menyebut nama Legon Pari berasal dari bahasa Sunda. Kata “Ngelago” berarti teluk yang menjorok ke daratan, sedangkan “pari” merujuk pada ikan pari yang dulu banyak ditemukan di kawasan tersebut.
“Secara geografis, bentuk celuknya menjadi berkah. Ombak Samudra Hindia yang terkenal ganas tertahan. Saat musim kemarau Juni sampai Agustus, airnya bisa tenang seperti danau, aman untuk anak-anak berenang dan bermain pasir. Saat ombak besar datang, gulungannya justru jadi panggung para peselancar dan pemancing,” kata Udin kepada Bantennews, Sabtu (26/9/2026).
Legon Pari juga belum dipenuhi bangunan permanen. Warga masih mempertahankan kawasan itu dengan fasilitas sederhana.
Beberapa warung kayu berdiri di sekitar pantai dan menawarkan ikan bakar hasil tangkapan nelayan, kelapa muda hingga sale pisang khas Sawarna.
Menjelang sore, suasana pantai berubah lebih hidup. Nelayan menarik perahu ke daratan. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki di atas pasir.
Sementara pengunjung bisa duduk lebih lama menikmati suara ombak tanpa hiruk-pikuk kawasan wisata yang terlalu padat.
“Keindahannya belum banyak dijamah. Tiket masuknya pun hanya Rp10.000. Legon Pari bukan pantai untuk pamer di media sosial saja. Lebih dari itu, pantai ini sangat cocok untuk santai atau duduk lebih lama, mendengar deburan ombak tanpa backsound musik kafe dan melihat sunrise tanpa terhalang payung-payung sewaan,” ujar Udin.
Ia bahkan menyebut Legon Pari sebagai bagian penting dari pengalaman menjelajah Sawarna.
“Kalau kamu ke Sawarna dan hanya ke Tanjung Layar, berarti kamu belum benar-benar ke Sawarna,” ucap Udin.
Pengunjung bernama Reni punya catatan lain. Ia menyarankan wisatawan datang pagi atau sore karena matahari tengah hari terasa cukup menyengat.
Reni juga mendorong wisatawan menggunakan jasa ojek lokal. Menurutnya, pilihan itu bukan sekadar menghemat tenaga, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi warga yang tinggal di sekitar kawasan wisata.
“Bagusnya pagi atau sore hari datang ke sini. Kalau bisa pakai jasa ojek lokal, selain hemat tenaga kita juga bisa bantu ekonomi warga. Dan jangan buang sampah sembarangan karena pantai ini masih sangat bersih,” tandasnya.
Legon Pari mungkin tidak menawarkan kemewahan. Justru kesederhanaan itulah yang membuatnya berbeda.
Pantai ini masih memberi ruang bagi pasir, nelayan, warung kecil, dan suara ombak untuk menjadi daya tarik utama.
Di tengah geliat wisata Sawarna, Legon Pari menunjukkan bahwa sebuah destinasi tidak harus penuh bangunan dan keramaian untuk menarik pengunjung.
Kadang, perjalanan yang sedikit melelahkan justru membawa wisatawan pada tempat yang paling ingin mereka temukan: pantai yang masih punya ruang untuk sunyi.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
