Beranda Opini Pandemi dan Hari Kemerdekaan

Pandemi dan Hari Kemerdekaan

Dr. Budiana, .Sos.,M.Pd Dosen STAI Syekh Manshur Pandeglang.

Dr.Budiana, S.Sos.,M.Pd
Dosen STAI Syekh Manshur Pandeglang

Dalam beberapa hari ke depan kita bangsa Indonesia akan memperingati hari
Kemerdekaan. 76 tahun yang lalu, tepatnya pada hari jumat, 17 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad hatta mewakili seluruh
bangsa Indonesia. Sejak diproklamasikannya kemerdekaan itu Indonesia resmi terlepas dari belenggu penjajahan, sekaligus menyatakan kepada khalayak di seluruh dunia bahwa kedudukan Indonesia adalah setara dengan negara lainnya yang telah merdeka.

Kemerdekaan sebagai puncak perjuangan didapatkan melalui proses yang
sangat panjang dan berliku. Upaya mengusir penjajah baik secara fisik
maupun diplomasi yang dilakukan awalnya bersifat kedaerahan sampai akhirnya
disatukan dalam gerakan Budi Utomo 1908 sebagai wadah kebangkitan nasional
yang membangkitkan rasa persatuan, nasionalisme untuk memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Kemudian kebangkitan nasional itu diperkuat dengan sumpah pemuda 20 oktober 1928 sebagai ikrar bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Kebangkitan nasional Indonesia ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo
20 Mei 1908 yang didirikan oleh dr.Wahidin Soedirohoesodo dan dr.Soetomo. Keberadaan organisasi sosial intelektual ini telah menyatukan semangat persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa
Indonesia.

Semangat sumpah pemuda telah membangkitkan jiwa dan sikap nasionalisme pemuda pemudi Indonesia dan seluruh rakyat nusantara untuk melawan dan mengusir para penjajah, semangat sumpah pemuda telah mempertebal rasa
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, semangat sumpah pemuda telah memperluas usaha-usaha dan kegiatan agar tercapainya kemerdekaaan Indonesia, semanghat sumpah pemuda telah menghilangkan rasa kedaerahan
yang selalu menjadi penghalang rakyat Indonesia untuk bersatu, semangat
sumpah pemuda telah menyatukan pemuda pemudi Indonesia dalam sebuah
semangat kebangsaan.

Membuka lembaran sejarah merupakan kewajiban bagi seluruh masyarakat
Indonesia agar dapat memahami bahwa apa yang kita nikmati hari ini
merupakan buah perjuangan para pendahulu di masa lalu. Mereka telah
mengorbankan tenaga, harta bahkan kehilangan nyawa untuk apa yang bisa kita

nikmati hari ini. Satu kenyataan dalam sejarah yang akan tetap relevan sebagai
modalitas cita-cita hidup bersama adalah terpeliharanya persatuan.

Membangun persatuan indonesia merupakan tantangan besar yang akan terus
berlangsung dalam mewarnai eksistensi keindonesiaan.Integrasi kemajemukan
dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika hanya dapat terwujud melalui pendekatan
konsep yang tepat, yang dapat memayungi seluruh material keberagaman
dengan seluruh resorsus yang dimiliki.
Sejak tanggal 17 Agustus 1945 sampai hari ini Indonesia melewati rangkaian
proses, Artinya bahwa Indonesia dalam jangka waktu tersebut berproses
mengindonesiakan keragaman, dari ras, agama, tradisi, bahasa, dan berbagai
macam kemajemukan lainnya yang menjadi modal dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Indonesia akan terus tumbuh dan perkembang dalam
dinamika ragam kemajemukan.

Tugas anak bangsa adalah memelihara
persatuan dalam kemajemukan sebagai wadah hidup bersama.

MEMAKNAI PANDEMI SEBAGAI PENJAJAHAN

Pandemi covid-19 (coronavirus disease 2019) menjangkit pertama kali di kota
Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Setelah itu covid-19 menular
antaramanusia dengan sangat cepat menyebar ke puluhan negara termasuk
Indonesia hanya dalam hitungan beberapa bulan kemudian. Penyebaran yang
sangat cepat itu, membuat beberapa negara menerapkan kebijakan
pemberlakuan lockdowan untuk mencegah penularan virus ini.

Sampai hari ini Bangsa-bangsa di dunia masih dihadapkan dengan perjuangan
melepaskan diri dari belenggu virus mematikan ini. Sebagai permasalahan
global, Indonesiapun tidak luput dari krisis kesehatan yang berdampak pada
hampir seluruh aspek kehidupan ini. Perjuangan membebaskan diri dari
ancaman covid-19 dilakukan dengan konsep dasar pembatasan aktivitas sosial.
Di Indonesia sendiri pemerintah memberlakukan kebijakan PSPB (Pembatasan
Sosial Berskala besar) dan terakhir dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan
Kegiatan Masyarakat).

Kegiatan-kegiatan sosial dibatasi beriringan dengan pelaksanaan program
vaksinasi masal guna membentuk herd immunity (kekebalan kelompok terhadap
penyakit). Semua berkeinginan bencana non alam ini segera dapat diakhiri,
semua orang menginginkan merebut kembali kebebasan normal seperti pada
masa-masa yang lalu. Kerinduan beribadah, bersekolah, bekerja, berdagang, bertransportasi dan sebagainya.

Sejauh ini pandemi covid-19 sebagai masalah kesehatan telah merusak sistem
sosial ekonomi, membelenggu kebebasan sosial umat manusia (Kerugian
material dan spiritual). Gejolak sosial sering kali terjadi sebagai ekspresi
kelelahan masyarakat yang tertekan, terbelenggu dalam ketidakpastian. Tidak
berlebihan kiranya bila pandemi covid-19 ini telah menjajah sisi-sisi penting kehidupan manusia.

Sebagai “penjajah” tentu saja pandemi ini harus dapat ditaklukan, bila tidak
maka penderitaan yang dirasakan akan terus berlangsung dan menenggelamkan
kita pada situasi yang lebih buruk. Karenanya modalitas persatuan sebagai
kekuatan utama bangsa, terlebih dalam momentum besar 17 Agustus harus
menjadi energi bagi bangkitnya persatuan melawan penjajahan covid-19.

Pada masa seperti ini bukan saatnya kita saling menyalahkan, melainkan
bagaimana kita sebagai bangsa bergandengan tangan bersama-sama
mengatasi krisis ini. Hari ini, 17 agustus 2021 kita memperingati hari
kemerdekaan dalam situasi PPKM (pemberlakukan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat) sebagai dampak masih ganasnya penyebaran covid-19. Tentu saja
situasi ini membuat kita mungkin tidak dapat memeriahkan hari kemerdekaan
dengan pesta, lomba-lomba atau pertunjukan. Kita sudah berkomitmen untuk membatasi intersaksi sosial guna mengakhiri bencana non alam covid-19 ini.

Masih terdapat ruang bagi kita dengan mengoptimalkan ruang-ruang
daring/digital agar tetap dapat merayakan momentum yang paling berharga ini.

MERDEKA DARI PANDEMI

17 Agustus bangsa Indonesia dan bangsa lain di dunia tengah berhadapan dengan
“penjajahan” Covid-19. Kehebatan semangat persatuan bangsa Indonesia
sedang diuji. Tidak berlebihan kiranya dalam prespektif yang lain, pandemi
tengah menguji kekuatan persatuan bangsa Indonesia untuk bersama-sama
membebaskan diri dari covid-19. Bila 76 tahun lalu bangsa Indonesia berhasil
membebaskan diri dari belenggu penjajahan dengan semangat persatuan.

Hari ini semangat persatuan Indonesia itu diharapkan akan mempercepat
peperangan agar kemerdekaan dari pandemi covid-19 ini dapat segera
terwujud. Kebijakan pemerintah memberlakukan pembatasan sosial untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini tentu saja berimplikasi terhadap dibatasinya berbagai sektor kehidupan. Tentu saja niat baik pemerintah harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. Bentuk dukungan dan tanggung jawab kita selaku warga negara adalah mengikuti seluruh prosedur yang ditetapkan, termasuk melaksanakan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Pada sisi lain
pemerintah berkewajiban memberikan bantuan yang memadai, terutama kepada
kelompok rentan sehingga mereka tetap dapat bertahan hidup selama
pemberlakukan pembatasan sosial.

Program-program pemulihan pasca bencana
non alam ini perlu dirumuskan secara matang sehingga masyarakat dapat
secepatnya bangkit dari keterpurukan.
Beragam isu yang berkembang melalui media menjadikan masyarakat terbelah.
Pro dan kontra dalam menyikapi keberadaan pandemi covid-19. Kondisi ini telahmempersulit proses percepatan penyelesaiannya. Kita membutuhkan persatuan seperti semangat para pendahulu dalam memperjuangkan kebebasan dari penguasaan kolonialisime.

Pada momentum hari kemerdekaan Republik
Indonesia ke-76 ini kita nyalakan semangat persatuan sebagaimana telah
diwariskan para pendahulu untuk melawan apapun yang mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini mengusung tema “Indonesia
Tangguh Indonesia Tumbuh”. Tema tersebut mengajak kita semua untuk tetap
tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan dengan tetap bertumbuh
lebih baik dalam menyongsong masa depan.
Relevansi kata tangguh dan tumbuh dalam kondisi seperti sekarang adalah
ketangguhan kita sebagai bangsa melawan covid-19 yang dimanifestasikan
dalam bentuk mengikuti arahan pemerintah, memperketat protokol kesehatan, mengikuti program vaksinasi agar segera kembali merdeka dari belenggu bencana nonalam ini dan tetap tumbuh untuk menyongsong masa depan yang
lebih baik.

Dirgahayu negeriku, Indonesia tangguh Indonesia Tumbuh. (***)