Beranda Opini Ketidaksetaraan Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Ketidaksetaraan Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

428
0
Ilustrasi - foto istimewa rimma.co

Oleh : Fenisa Ayu Indira, Mahasiswi UIN Jakarta

COVID-19 mulai berdampak terhadap bidang pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. UNESCO memperkirakan bahwa hampir 1,3 miliar siswa telah mengalami penutupan sekolah di 186 negara. Ketidaksetaraan kualitas perndidikanpun tidak dapat terhindarkan. Bersumber dari Liputan6.com, pemerintah di negara-negara dengan tingkat penggunaan digital yang tinggi seperti Jepang, Hongkong, Italia, dan Uni Emirat Arab telah berupaya mengganti kehadiran fisik di sekolah dengan pendidikan secara digital dan berupaya mencari cara untuk meminimalkan penyebaran virus tanpa menganggu proses pembelajaran yang berdampak terhadap kualitas pendidikan.

Pemerintah di berbagai negara telah mempertimbangkan fokus pada perangkat digital untuk pembelajaran. Bagi para pembuat kebijakan yang bergantung pada teknologi, pembelajaran dengan dukungan komputer menjadi pilihan yang jelas dan efektif. Tetapi bahkan negara-negara barat yang makmur pun mengalami perbedaan dalam akses digital. Krisis saat ini memaparkan dan memperbesar ketidaksetaraan yang ada di banyak bidang kehidupan, begitu pula dengan sector pendidikan.

Bersumber dari Badan Uni Eropa untuk Hak Fundamental (FRA), dengan sebagian besar negara di Eropa menutup lembaga pendidikan dan memaksa guru, akademisi, dan tenaga kependidikan lainnya untuk bekerja dari rumah yang berdampak terhadap kualitas dan inklusivitas pendidikan. Beberapa kelompok seperti pengungsi dan keluarga migran juga sangat sulit menjangkau informasi atau layanan internet. Hal ini terutama merugikan perempuan dan / atau guru migran dan mereka yang bekerja di daerah pedesaan. Banyak guru dan tenaga kependidikan lainnya juga tidak didukung untuk mengembangkan tingkat kemahiran TIK yang tinggi, yang sekarang menjadi aspek terpenting untuk melaksanakan pembelajaran secara digital.

Terlebih lagi, kurangnya guru dengan kompetensi dan bahan ajar dalam lingkungan multikultural, atau dengan siswa yang kurang beruntung bahkan lebih bermasalah daripada biasanya, karena hal itu dinilai sangat merugikan para pelajar yang membutuhkan dukungan ekstra di sekolah terutama para pelajar berkebutuhan khusus.
Sebagian besar pelajar dan guru tidak memiliki lingkungan yang mendukung untuk belajar dan bekerja di rumah.

Tidak setiap rumah memiliki komputer yang dapat digunakan dan koneksi internet yang baik serta cukup untuk melakukan pembelajaran secara digital. Menurut Sutton Trust di Inggris, beberapa guru mengajar kelas di mana sebanyak sepertiga dari semua siswa mungkin tidak memiliki akses ke perangkat digital atau konektivitas internet yang memadai. Bersumber dari news.cgtn.com, para pelajar dari kalangan yang kurang mampu, seperti di Afrika sub-Sahara, menghadapi peningkatan hambatan untuk mencapai nilai bagus karena mereka memiliki sumber daya online yang terbatas selama pandemi. Di seluruh Afrika sub-Sahara, hanya 64 persen guru sekolah dasar dan 50 persen guru sekolah menengah telah menerima pelatihan minimum, dan ini sering tidak termasuk TIK, menurut situs web UNESCO. Apa yang disebut kesenjangan digital ini telah menimbulkan keprihatinan banyak orang.

Dalam menghadapi perbedaan seperti itu untuk menyesuaikan mode penyediaan, pemerintah bermaksud untuk memberikan laptop dan router kepada siswa yang membutuhkan. Tetapi penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa pada kenyataannya, tidak semua daerah menerima bantuan itu sehingga ketidaksetaraan dalam program pembelajaran jarak jauh menjadi terhambat. Perpindahan ke pengajaran dan pembelajaran online mungkin cocok untuk sekolah di daerah yang lebih maju dan lebih makmur terutama sekolah swasta, tetapi merupakan pilihan yang jauh lebih tidak memuaskan bagi sekolah-sekolah di daerah yang kurang mampu.

Salah satu cara untuk mengatasi ketidakrataan pembagian perangkat pendukung pembelajaran digital adalah sekolah memanfaatkan sebaik-baiknya semua sarana komunikasi yang tersedia seperti menggunakan televisi yang menampilkan berbagai program pendidikan serta penggunaan aplikasi-aplikasi pendidikan di telepon genggam yang dinilai lebih efektif dan dapat dijangkau semua kalangan. Ketentuan semacam itu mungkin masih tidak sesuai dengan beberapa siswa, tetapi langkah itu lebih baik daripada sebelumnya. Dari berbagai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah, peran sekolah sangatlah penting, terutama dalam hal ekonomi, dan siswa diharapkan untuk memperoleh keterampilan yang membuat mereka kompetitif dalam angkatan kerja.

Menurut Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, sementara upaya untuk menyediakan konektivitas untuk semua harus diperbanyak, kita sekarang tahu bahwa pengajaran dan pembelajaran yang berkelanjutan tidak dapat terbatas pada sarana online. Untuk mengurangi ketidaksetaraan yang sudah ada, kita juga harus mendukung alternatif lain termasuk penggunaan radio komunitas dan siaran televisi, dan kreativitas dalam semua cara belajar. Ini adalah solusi yang kami tangani dengan mitra Koalisi Global kami.

Menurut saya, memang pandemi COVID-19 ini sangat berdampak di dunia pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan tidak hanya pemberian materi oleh guru dan pelajar hanya perlu mengerjakannya, tetapi diperlukannya juga tatap muka dan pembelajaran secara langsung, bukannya hanya materi tetapi juga norma-norma dan nilai-nilai kehidupan yang dapat ditiru dan dicontoh oleh para pelajar dari guru mereka.

Tetapi peran sekolah sebenarnya jauh lebih luas dan lebih kompleks, dan melibatkan pengembangan pengetahuan yang lebih luas, sehingga para siswa belajar tentang masyarakat dan siap menjadi bagian budaya mereka, berperan aktif, dan bermanfaat bagi orang lain. Ini tidak dapat dicapai hanya melalui pembelajaran secara digital melainkan membutuhkan interaksi secara langsung antara guru dan murid.

(**)