PANDEGLANG – Pilihan tempat nongkrong di Kabupaten Pandeglang, Banten, semakin beragam. Salah satunya Kafe Sanemah yang menawarkan pengalaman ngopi dengan suasana seperti sedang bertamu ke rumah teman.
Kafe ini berlokasi di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.
Pemilik Kafe Sanemah, Taufik mengatakan, konsep ruang tamu sengaja dihadirkan agar pengunjung merasa lebih santai dan nyaman. Bahkan, pengunjung dibiasakan melepas alas kaki sebelum memasuki area tertentu untuk menciptakan suasana seperti di rumah sendiri.
“Kita pengin suasananya kayak di ruang tamu. Jadi ketika datang, kita biasakan lepas sepatu atau sandal biar lebih santai,” kata Taufik, Minggu (11/10/2026).

Tak hanya mengandalkan suasana rumahan, Sanemah juga membawa unsur budaya dan nostalgia ke dalam desain interiornya. Nama Sanemah terinspirasi dari seorang anak di Baduy Dalam, Kampung Cibeo, yang dikenal Taufik saat berkunjung ke kawasan tersebut.
Sementara itu, warna marun yang mendominasi interior kafe terinspirasi dari warna lipstik khas perempuan Baduy. Sentuhan tersebut menjadi bagian dari identitas visual yang ingin ditampilkan Sanemah.
Pengunjung juga bisa menemukan sejumlah sudut bertema nostalgia, mulai dari dekorasi kartun era 1990-an, alat musik lawas, hingga gambar tokoh dunia seperti Soekarno, Mahatma Gandhi, dan Che Guevara.
“Kita pengin kafe ini jadi ruang ekspresi dan nostalgia, biar orang bisa flashback ke masa kecil,” ujarnya.
Dari sisi menu, Sanemah menjadikan kopi sebagai sajian utama. Salah satu menu andalannya adalah Es Kopi Sanemah yang diracik dengan perpaduan rasa creamy dan manis yang seimbang.
Taufik mengatakan racikan tersebut dibuat agar bisa dinikmati berbagai kalangan tanpa rasa manis yang berlebihan ataupun rasa kopi yang terlalu pahit.
“Kita pengin rasa kopinya balance, nggak terlalu manis dan nggak pahit,” jelasnya.
Selain es kopi racikan khas, pengunjung dapat memilih menu lain seperti Americano, kopi hitam, dan kopi dengan metode seduh manual atau manual brew. Sementara pilihan makanan masih disesuaikan dengan selera pasar. Harga minuman di kafe ini berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 28 ribu.
Ke depan, Taufik juga berencana menggunakan kopi dari kawasan Gunung Karang sebagai bahan utama racikan Sanemah. Langkah itu diharapkan dapat menjadi cara untuk memperkenalkan potensi kopi lokal Pandeglang kepada lebih banyak penikmat kopi.
“Kopi Pandeglang itu bagus, cuma belum banyak dikenal. Ke depan kita mau angkat kopi Gunung Karang supaya makin dikenal,” tuturnya.
Menurut Taufik, bertambahnya tempat usaha kopi di Pandeglang diharapkan tidak hanya menjadi pilihan baru bagi masyarakat untuk berkumpul, tetapi juga ikut membangun pasar bagi produk kopi lokal.
Ia berharap masyarakat semakin tertarik menikmati kopi di daerah sendiri sehingga pelaku usaha lokal memiliki ruang untuk berkembang.
“Harapannya orang Pandeglang lebih bangga nongkrong dan ngopi di daerah sendiri. Semakin banyak kafe, pasar kopi lokal juga makin terbentuk,” pungkasnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Wahyudin
