Beranda Pemerintahan Miris! APBD Rp1,8 Triliun, Masih Ada Jembatan Bambu di Cilegon

Miris! APBD Rp1,8 Triliun, Masih Ada Jembatan Bambu di Cilegon

Jembatan Bambu di Lingkungan Langon Poksor, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. (Usman/bantennews.co.id)

CILEGON – Warga Lingkungan Langon Poksor, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon merindukan jembatan yang layak. Ini lantaran sejak beberapa tahun lalu, jembatan di wilayah mereka hanya terbuat dari bambu. Kondisi ini jelas membahayakan bagi warga sekitar, terlebih saat musim hujan tiba.

Anggota DPRD Kota Cilegon, Rahmatulloh melakukan inspeksi mendadak ke lokasi jembatan untuk mengetahui secara langsung.

Politisi Partai Demokrat itu mengaku miris dengan kondisi jembatan yang menghubungkan ratusan kepala keluarga di wilayah perbatasan antara Kelurahan Tamansari dan Kelurahan Mekarsari tersebut.





“Saya ikut prihatin kalau di Cilegon masih ada jembatan yang terbuat dari bambu dan sudah lapuk. APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Cilegon saja sudah Rp1,8 triliun, masa sih masih ada jembatan bambu,” ujar Rahmatulloh, Jumat (30/11/2018).

Menurut politisi Demokrat ini, Pemkot Cilegon memang pernah membuatkan jembatan di wilayah sekitar. Namun hancur setelah dihantam banjir. Namun demikian dalam perbaikannya tak tanggap. Hingga akhirnya terbengkalai dan kemudian warga secara swadaya membuat sendiri menggunakan bambu karena memang sangat dibutuhkan untuk aktivitas warga.

“Kita juga tidak habis pikir, kenapa sudah cukup lama tidak diperbaiki oleh Pemkot Cilegon dengan membuat jembatan yang kokoh. Tadi saya coba juga cukup riskan, tadi saya lewat juga goyang jembatannya, apalagi ada motor lewat. Jembatan itu tidak kokoh karena pasti bila terjadi banjir akan hanyut lagi,” katanya.

Dia mendesak Pemkot Cilegon segera memperbaiki jembatan bambu dengan jembatan yang kokoh.

“Kalau 2019 tercantum ada anggaran rehab atau perbaikan jembatan di Langon ini agar segera dilaksanakan. Kalau tidak ada anggarannya, kami minta DPUTR segera dimasukkan pada anggaran perubahan,” tandasnya.

Sementara itu Sultoni warga sekitar mengungkapkan warga setempat sangat membutuhkan jembatan yang terbuat dari bambu itu dibangun secara kokoh. Sebab, jembatan tersebut akses utama masyarakat sekitar.

“Jembatan bambu ini kita bangun melalui swadaya masyarakat. Ini juga sudah dibangun kesekian kali, soalnya setiap banjir, jembatan ini hanyut. Kalau hanyut ya warga bikin lagi,” ucapnya.

Dia mengungkapkan bahwa jembatan tersebut sangat urgent. Sebab, digunakan berbagai aktivitas warga. Walaupun ada jalan alternatif, namun harus memutar cukup jauh.

“Yang kasihan itu kalau ada warga yang meninggal. Kita khawatir kalau lewat jembatan ini, takut ambruk. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki. Informasinya sih sudah diajukan ke Pemkot Cilegon, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ucapnya. (Man/Red)