Beranda Sosial dan Budaya Mewahnya Mahkota Sultan Banten

Mewahnya Mahkota Sultan Banten

Mahkota Kesultanan Banten. (Googleimages)

Dalam sejarah kerajaan di Nusantara, mahkota merupakan penanda dari sebuah kekuasaan. Mahkota merupakan regalia (perangkat kebesaran) utama bagi raja atau sultan. Seorang pengganti raja atau sultan disebut putra mahkota dan ketika ditahbiskan sebagai penguasa baru akan dimahkotai.

Setiap raja atau sultan di Nusantara pasti memilikinya dengan bentuk khas dan rata-rata terbuat dari emas. Sayangnya, saat kerajaan itu hancur, mahkota lebih banyak dirusak atau hilang begitu saja sehingga jejaknya susah ditemukan.

Saat Kesultanan Banten runtuh, salah satu regalia milik Kesultanan Banten yang terselamatkan adalah mahkota.





Mahkota Sultan Banten telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 170/M/2018. Tanda kebesaran Kesultanan Banten ini  berdiameter 20 cm dan tinggi 17 cm. Saat ini mahkota tersebut tersimpan di Museum Nasional.

Pada September 2015, replika mahkota sultan ini pernah dipajang di pendopo lama Gubernur Banten yang difungsikan sebagai Museum Negeri Provinsi Banten.

Menurut arkeolog Heriyanti Ongkodharma Untoro dalam ‘Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten, 1522-1684’, regalia yang terbuat dari emas atau perak merupakan simbol kewibawaan sebagai penguasa, kebesaran atau kepercayaan suatu pemerintahan, dan legitimasi kekuasaan.

Heriyanti menyebutkan bahwa mahkota yang digunakan sultan Banten ini terbuat dari emas bertahtakan batu permata, namun tidak diketahui di mana mahkota tersebut dibuat. Mahkota ini juga dihiasi batu mirah, berlian, batu emerald, dan mutiara.

Majalah Tempo (1990) menyebut motif ukiran mahkota itu dibuat dengan teknik kerawangan (sulur yang terbuka) dan bergambar pohon hayat dalam panil-panil. Dibuat menurut gaya mahkota Salokoa, mahkota Kerajaan Goa abad ke-14.

Mahkota ini terbuat dari logam dengan lapisan perak dan emas terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama merupakan mahkota asli terbuat dari emas. Bentuknya menyerupai bokor dengan puncak bentuk kuncup bunga terdiri dari atas bintang segi enam. Setiap sisi bintang, berbentuk daun. Hiasan mahkota berupa ukiran tembus (krawangan) motif sulur di dalam panel dengan bertatahtakan 116 butir permata. Bagian atas berhias ukiran berwarna hijau motif sulur, pinggiran motif sulur dan titik-titik putih. Saringan mahkota (rangkapan) terbuat dari emas bentuk seperti tempurung terpotong. Hiasan motif sulur (krawangan) yang membentuk bokor merupakan tatakan saringan  mahkota.

Berdasarkan motif yang ada pada mahkota tersebut membuktikan bahwa adanya pengaruh (budaya) Islam. Mahkota bentuk setengah bundar tersebut dketahui berasal dari wilayah Kesultanan Banten yang menganut ajaran Islam dengan kuat. Hal tersebut tampak pada motif-motif daun di mahkota dan ukiran pepohonan yang abstrak, serta pada lapisan email di bagian atas.

Mahkota ini merupakan Regalia Kesultanan Banten. Sejak abad ke-16 hingga ke-19, Kesultanan Banten memegang peranan penting dalam perkembangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Selain itu, Kesultanan Banten merupakan pintu gerbang untuk masuk ke pulau Jawa dari arah Pulau Sumatra (Ambary 1996:50-52) maka tidak mengherankan bilamana pengaruh Islam terlihat pada corak karya seni yang ada pada masa tersebut. Salah satunya buktinya, yakni terdapat dalam rancanganMahkota Kesultanan Banten terebut. Mahkota berlapis emas ini merupakan karya seni yang indah, di bagian dalam mahkota terdapat penutup kepala dari perak yang penuh dengan rajutan benang emas yang sangat halus.

Mahkota itu menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sultan-sultan Banten. Setelah Kesultanan Banten runtuh (1832), mahkota itu diambil oleh Belanda dan disimpan di Bataviaasch Genootschap (kini Museum Nasional). (Ink/Red)