Beranda Peristiwa Merayap di Jalan ‘Cicak’ Kota Serang saat Jam Sibuk

Merayap di Jalan ‘Cicak’ Kota Serang saat Jam Sibuk

Kemacetan di Jalan Ciracas - Kepandean. (Qizink/bantennews)

SEKITAR pukul 06.30 WIB, deretan kendaraan  merayap pelan di jalur ‘Cicak’  (Ciracas–Kepandean), di Jalan Kolonel Tb Suwandi hingga Jalan Letnan Jidun, Kota Serang, Banten. Suara klakson bersahut-sahutan dengan deru mesin kendaraan yang berebut jalan dan memancing emosi.

 Rizal (32), karyawan sebuah perusahaan di Kota Cilegon, menghela napas panjang di dalam kendaraannya. “Kalau sudah lewat dari jam enam, pasti macet,” keluhnya, Jumat (10/1/2026).

Baginya, kemacetan di jalur ini sudah seperti ‘ritual’ sebelum tiba di tempat kerja. Rizal harus pintar-pintar bersiasat agar tak terlambat. “Kalau cuaca lagi hujan atau gerimis, ya saya berangkat lebih pagi lagi. Biasanya macetnya makin parah kalau pas cuaca gerimis,” ujarnya.

Rizal tidak sendiri. Jalur Cicak di Jalan Lingkar Selatan ini telah menjadi saksi perjalanan ribuan warga terjebak dalam  kemacetan pada jam-jam sibuk. Jalan ini merupakan jalur alternatif bagi warga Kota Serang yang menuju Kota Cilegon atau Pandeglang.

Saat arus kendaraan makin menumpuk, terutama dari arah Jalan Yumaga (Benggala) dan Kebon Jahe  menuju jalur ini, kemacetan pasti tak terhindarkan. Jam sibuk pada pagi hari atau sore hari merupakan waktu rawan kemacetan. Jalan dari lampu merah Benggala hingga Kepandean yang berjarak hanya sekitar 4 KM terkadang harus ditempuh lebih dari setengah jam.

Penyebabnya bukan hanya satu. Jalan yang tidak terlalu lebar dengan volume kendaraan yang tinggi ditambah pergerakan kendaraan dari berbagai arah yang saling bersilang, membuat beberapa persimpangan menjadi titik penyumbatan kemacetan. Simpang Lima Ciracas dan Perempatan Cikulur kerap menjadi titik penyumbatan. Lampu lalu lintas Sayabulu, Ciracas, hingga Kepandean pun sering kali tidak mampu menyesuaikan derasnya arus pada jam sibuk.

Baca Juga :  Pengendara Keluhkan Jalan Berlubang di Tol Tangerang–Merak

Beberapa tahun terakhir, kawasan di sepanjang Jalur Cicak memang berkembang pesat. Kawasan perumahan, kafe atau tempat makanan, dan pertokoan tumbuh di sepanjang jalur penunjang pusat kota ini. Namun pertumbuhan pusat pergerakan manusia itu tak diimbangi dengan penambahan infrastruktur jalan. Pelebaran jalan tidak berjalan secepat pembangunan komersial yang ada.

Hasilnya? Jalan yang dulu cukup nyaman dilintasi, kini kewalahan menanggung volume kendaraan yang terus bertambah. Terlebih di sepanjang ini juga terdapat sejumlah lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, hingga gedung partai. Pada saat ada acara di gedung-gedung tersebut, kemacetan pun akan semakin parah.

Bagi warga, kondisi itu memunculkan dilema klasik: semakin banyak fasilitas, semakin besar pula volume manusia yang bergerak, namun ruang jalannya tetap sama.

Satu hal lain yang turut berkontribusi adalah perilaku pengemudi angkutan kota yang sering tak sesuai trayek dan berhenti sewaktu-waktu untuk menaik-turunkan penumpang secara sembarang. Jenis angkutan besar seperti truk hingga bus juga semakin mempersempit badan jalan untuk dilalui. Bus-bus pengangkut karyawan ke kawasan industri Cilegon atau Kabupaten Serang kerap hilir mudik di jalur ini pada saat jam sibuk. Hal ini juga diperparah dengan terkadang tidak adanya petugas yang mengatur arus lalu lintas. Bahkan di pertigaan Ciracas dan perempatan Cikulur, lebih sering malah ‘Pak Ogah’ yang mengatur lalu lintas dibandingkan pegawai dari instansi pemerintah.

Meski kemacetan di jalur Ciracas–Kepandean belum menunjukkan tanda-tanda mereda, perbaikan yang berkesinambungan memberikan secercah harapan.

Bagi Rizal dan ribuan pengendara lain yang setiap hari melintasi jalur tersebut, mereka menaruh harapan pemerintah segera mencari solusi untuk segera mengatasi kemacetan yang rutin di jalur ini.  “Moga aja jalan ini bisa segera diperlebar atau ada solusi lain” ujarnya.

Baca Juga :  Terdakwa Korupsi Pembangunan JLS Cilegon Dituntut 7 Tahun Penjara

 

Penulis : TB Ahmad Fauzi

Editor : TB Ahmad Fauzi