KAB. SERANG — Gemercik air dari perahu karet serta kayuhan dayung memecah tenang aliran Sungai Ciujung Lama, Kabupaten Serang, di pagi hari.
Di atas perahu itu, mahasiswa, pegiat budaya, aktivis lingkungan, seniman, hingga warga bantaran sungai menyusuri jejak sejarah yang selama ini nyaris tenggelam oleh modernisasi dan kerusakan lingkungan.
Mereka tidak sekadar berwisata. Mereka sedang mencari kembali ingatan tentang Serang Utara.
Gerakan itu lahir lewat Seruan Kebudayaan Serang Utara (SERUBUK), sebuah konvensi kolektif yang mempertemukan komunitas budaya, warga, pelajar, mahasiswa, dan aktivis lingkungan di kawasan pesisir utara Kabupaten Serang, Banten.
Selama 19-20 Mei 2026, SERUBUK menggelar ekspedisi, diskusi budaya, hingga pendokumentasian Sungai Ciujung Lama di Kecamatan Pontang dan Tirtayasa.
Sungai yang dulu menjadi urat nadi perdagangan dan peradaban Kesultanan Banten kini justru menghadapi ancaman kehilangan identitas.
Rasyid Ridho atau Ido, Ketua Linggih Studio Banten sekaligus inisiator kegiatan, menyebut SERUBUK sebagai upaya membangunkan kembali kesadaran warga terhadap sejarah dan ruang hidup mereka sendiri.
“Ini bukan sekadar acara budaya. Kami ingin menjadikan Sungai Ciujung Lama sebagai titik lompat sejarah bagi warga Serang Utara,” kata Ido saat dihubungi, Jumat (22/5/2026).
Bersama Gerakan Mahasiswa Serang Utara (GAMSUT) dan Ciujung Institute, SERUBUK lahir dari keresahan yang sama, kawasan pesisir utara Serang terus berubah menjadi ruang industri dan pembangunan, sementara jejak peradaban sungai perlahan terlupakan.
Padahal, di sepanjang bantaran Ciujung Lama, kehidupan tumbuh selama ratusan tahun. Sungai itu menjadi jalur perdagangan sejak era Sultan Ageng Tirtayasa pada 1650-an. Kapal-kapal dagang melintas membawa hasil bumi, budaya, hingga perjumpaan berbagai etnis.
Kini, sebagian warga muda bahkan mulai asing dengan sejarah sungainya sendiri.
Melawan Lupa
Selama dua hari, peserta menyusuri Sungai Ciujung Lama dari Desa Kaserangan hingga Desa Pontang sejauh sekitar delapan kilometer.
Mereka mendokumentasikan kondisi sungai, merekam cerita warga, hingga memetakan lanskap budaya yang masih tersisa.
“Kami ingin mengungkap kembali pengetahuan tentang Sungai Ciujung Lama sebagai endemik peradaban kuno,” ujar Ketua Panitia SERUBUK, Handoko Agus.
Menurut Handoko, bantaran sungai bukan hanya ruang geografis. Di sana hidup tradisi, keterampilan warga, vegetasi alami, hingga hubungan sosial yang membentuk identitas masyarakat pesisir.
“Peradaban sungai ini masih hidup, tapi terus terdesak,” tegasnya.
Kegiatan SERUBUK berlangsung secara swadaya. Komunitas budaya, aktivis lingkungan, dan warga gotong royong menyediakan kebutuhan kegiatan, termasuk perahu karet dan pelampung yang difasilitasi Komunitas Rumah Singgah Kota Serang.
Di tengah keterbatasan itu, semangat peserta justru terasa kuat.
Hari pertama kegiatan di Wisata Bumi Tirtayasa menghadirkan pembacaan puisi kebudayaan, workshop fotografi, diskusi sejarah Sungai Ciujung Lama, hingga pertunjukan rampak bedug dari Sanggar Tari Yudha Asri Pamarayan.
Wakil Bupati Serang, unsur Muspika, OPD Pemkab Serang, hingga Dindikbud Provinsi Banten ikut hadir.
Namun, perhatian utama justru tertuju pada suara-suara warga bantaran sungai yang selama ini jarang mendapat ruang.
Bagi sebagian peserta, SERUBUK bukan sekadar festival budaya. Kegiatan itu menjadi bentuk perlawanan terhadap hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir akibat pembangunan yang sering melupakan sejarah dan ekologi.
Di tepian Sungai Ciujung Lama, warga masih menggantungkan hidup pada sungai yang sama seperti ratusan tahun lalu. Anak-anak masih bermain di bantaran. Nelayan kecil masih mencari ikan. Petani masih memanfaatkan aliran airnya.
Tetapi di saat bersamaan, modernisasi terus bergerak cepat.
SERUBUK hadir dengan satu pesan tegas: pembangunan tanpa ingatan budaya hanya akan melahirkan generasi yang tercerabut dari akar sejarahnya sendiri.
Dan dari aliran Sungai Ciujung Lama, warga Serang Utara mencoba mengingat kembali siapa mereka sebenarnya.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
