Beranda Gaya Hidup Menguak Prostitusi Online di Banten

Menguak Prostitusi Online di Banten

(Sumber foto: istimewa)

Laporan Wahyudin (Bantennews.co.id)

/1/
Dua ibu jari IS tampak sibuk menekan tuts di layar kaca ponselnya. Beberapa pelanggan sudah menghubunginya. Ada yang sekadar iseng melontar rayuan gombal, ada juga yang serius mengajak kencan. Namun prisnsip IS satu: jadi pelacur tidak boleh jatuh hati kepada pelanggan.

Rata-rata pelanggan IS warga negara asing (WNA) yang bekerja di Kota Baja, Cilegon. IS mengaku punya 11 pelanggan WNA.
“Saya jarang dapat tamu orang Indonesia. Kalau WNA bayarannya gede. Mereka biasanya ambil paket LT (long time). Bisa 3 juta sampai lima juta untuk satu hari semalam kencan,” kata IS kepada BantenNews.co.id, Minggu, 15 Juli 2018 lalu di Kota Serang.

Malam itu, ia mengaku akan menemui Mr K, di salah satu hotel di Kota Cilegon. IS mengaku senang setiap kali diboking pria asing. “Dia tampan dan royal. Dan satu lagi, masih muda,” tutur IS sambil menunjukkan foto pria yang dimaksud.
Dari 11 pelanggan, IS mengaku terhubung melalui aplikasi komunikasi medsos. Para calon pelanggan akan menemukannya melalui aplikasi itu. Foto profile yang aduhai akan mengantar calon pelanggan untuk menghubunginya.

Memang ada juga beberapa pelanggan pegawai bank dan sales manager yang menjadi pelanggan IS. Paling malas ia meladeni pegawai pemerintah. Selain ribet juga terkenal pelit urusan duit.

“Kalau orang asing seneng liat wajah kayak saya. Nggak mancung dan kulit agak coklat,” seloroh IS sambil melepas tawa.
Salah satu pelanggan IS bahkan pernah menikahinya. Usia IS dan mantan suaminya memang terpaut jauh sekali. IS di usia 25, sedangkan suaminya saat pernikahan mereka sudah menginjak 63. Pernikahan itu, menurut IS bukan karena semata ia jatuh cinta. Kebaikan membuat ia luluh juga. “Dia baik orangnya. Mau ikut agama saya. Sayang sama saya dan anak saya. Kebutuhan hidup kami semuanya terpenuhi,” kenang IS.

Namun sayang, usia pernikahan IS hanya bertahan tiga tahun. Suaminya harus kembali ke Negeri Ginseng untuk kembali ke perusahaan pusat tempatnya bekerja. “Sebelum pulang, dia kasih uang ke saya untuk buat kontrakan dan ruko,” kata IS.
Setelah ditinggal suami, IS kembali pada dunianya yang lama. Menjadi wanita penghibur. Dunia malam bukan dunia yang asing bagi IS. Ia mengaku pernah menjadi penghuni lantai tiga Hotel A, Jakarta. “Saya setahun di sana sebagai penari (striptease),” kenang IS.

Penghasilan IS saat di Hotel A bisa mencapai Rp4 juta per malam. Namun sistem keamanan dan pengunjung yang rata-rata WNA di dalam hotel membuatnya tak betah. Terlebih setelah kejadian yang memilukan di depan matanya.
“Terlalu ketat. Kita nggak boleh cerita apa yang ada di dalam. Dua teman saya meniggal karena HIV karena melayani dua sampai tiga pria sekaligus tiap malam. Kulit mereka mengelupas seperti ular sebelum meninggal. Sementara saya hamil dan nggak tau dengan pria yang mana,” kata IS pilu.

Di tengah percakapan IS dengan Tim BantenNews.co.id, datang seorang pria menanyakan IS. Kepada lelaki itu, IS langsung menjawab bahwa dirinya adalah orang yang dimaksud. Lelaki itu langsung terlihat canggung ketika IS menanyakan maksud kedatangannya.

“Maaf ya Pak, Bapak belum buat janji dengan saya. Tamu-tamu saya biasanya janjian dulu. Kalau begini (belum ada janji) saya nggak bisa Pak,” kata IS kepada pria itu.

IS mengaku hanya melayani pria yang sudah membuat janji melalui aplikasi media sosial. Ia mengaku khawatir dengan orang baru. “Takutnya petugas. Saya nggak layani yang datang langsung tanpa membuat janji dulu,” jelas IS.

/2/

Usia NES mungkin baru menginjak 20 tahun. Namun perempuan muda yang satu ini terlihat berpengalaman dalam dunia pemasaran bisnis prostitusi di Kota Tangerang. NES punya akun medsos khusus berinisial CF. Dari akun ini NES menjajakan perempuan penghibur dengan berbagai tarif. Mulai dari Rp800 hingga Rp400 ribu dalam sekali kencan.

Cara menjalankan bisnisnya, calon pelanggan memesan jasa perempuan penghibur kepada NES. Setelah itu, calon pelanggan akan menerima foto perempuan dan tarif dalam sekali kencan. Jika cocok, pelanggan tinggal datang ke tempat yang sudah ditentukan.

Siang itu, Tim BantenNews.co.id dipandu oleh ke sebuah Apartemen P di Kota Tangerang. Apartemen ini benyak dihuni oleh muda-mudi usia 20 hingga 35 tahun. Beberapa terlihat warga negara asing (WNA). Perempuan bertato dengan rambut dicat merah melempar senyum ramah kepada BantenNews.co.id.

Tak lama, NES menemui Bantennews.co.id bersama satu orang perempuan yang masih seusia dengannya. Setelah bersalaman, BantenNews.co.id langsung diajak memasuki apartemen dan langsung menuju lantai enam.

Di dalam apartemen dua kamar itu, satu kamar digunakan NES bersama kekasihnya. Sementara kamar lain khusus untuk pelanggan yang datang.

Perempuan yang mengaku berinisial CF mengaku sudah dua bulan “bekerja” bersama NES. Perempuan yang hanya lulus SMP itu mengaku sudah bercerap dengan suaminya. Pernikahan dini di usia 17 tahun tak mampu ia pertahankan.
“Udah cerai dengan suami. Sekarang usia saya 20 tahun. Punya anak satu, sekarang tinggal dengan neneknya,” kata CF sambil tertunduk.

/3/

ND, langsung sibuk dengan ponselnya. Terapis di salah satu tempat pijat di kawasan Tangerang ini melayani chating pria yang janji datang ke tempatnya bekerja. Jam kerja ND mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB malam.
“Sering juga dapat yang cuma PHP (Pemberi Harapan Palsu). Tapi ada juga yang serius datang ke sini,” kata ND kepada BantenNews.co.id minggu lalu.

Dalam melayani tamu, ND punya standar operasional prosedur (SOP) sendiri. Tidak semua tamu yang datang untuk pijat bisa mendapatkan pelayanan plus-plus layaknya suami istri dengannya. Untuk jasa plus-plus, ia memasang tarif Rp400 ribu untuk sekali kencan.

Untuk pembayaran jasa plus-plus itu, menurut ND langsung diberikan pelanggan kepadanya. “Kalau yang bayar jasa pijatnya ke (kasir) depan,” jelas ND.

ND mengaku jengkel jika orang yang chating dengannya hanya iseng apalagi minta dikirim foto-fotonya namun ujung-ujung tidak datang ke tempatnya. Untuk yang kerap iseng seperti itu, ND memilih langsung memutuskan pertemanan.

/4/
Lain halnya dengan AM dan NTS. Di kalangan perempuan penghibur keduanya pasang tarif yang cukup tinggi. Mereka hanya melayani tarif kencan rata-rata 1,5 juta per kencan. Selain mengandalkan paras yang cantik keduanya menjanjikan surga dunia untuk lelaki hidung belang.

Untuk melayani pelanggan, AM dan NTS biasanya mengirim daftar harga kencan dan durasinya. Jika cocok, pelanggan bisa langsung mendatangi hotel berbintang yang sudah ditentukan. AM biasanya melayani pelanggan di hotel I, sedangkan NTS menggunakan hotel A.

AM tidak hanya menerima tamu di hotel kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Setelah calon tamu membuat janji melalui aplikasi medsos dan cocok dengan tarif yang ditawarkan, mereka bertemu di hotel yang dimaksud.

Berbeda dengan AM, NTS sudah menentukan hotel A sebagai lokasi tetap kencan. Selain dianggap dekat dengan rumah, rata-rata pelanggannya sudah biasa mendapatkan pelayanan di hotel A.

Jika sedang banyak tamu, NTS maupun AM bisa mendapat uang di atas lima juta per malam. “Cuma nggak tiap malam juga saya BO (boking),” kata AM. (Red)