Beranda Sosial Mengenal Wajah Lebak: Satu Rumah, Tiga Pintu

Mengenal Wajah Lebak: Satu Rumah, Tiga Pintu

Potret Stasiun Rangkasbitung, yang menjadi salah satu pintu masuk Kabupaten Lebak,/Aldo Marantika/Bantennews

LEBAK – Bayangkan jika kalian memiliki satu rumah besar, dengan pintu pertama menghadap laut, pintu kedua menghadap jalan raya dan rel kereta, sementara pintu ketiga menghadap hutan. Itulah gambaran tentang wajah Kabupaten Lebak, yang memiliki luas wilayah 3.426 km².

Lebak seperti menyimpan tiga dunia berbeda dalam satu atap. Tiga kali luas Jakarta, tapi warganya hanya 1.511.011 jiwa. Di Kabupaten Lebak kamu bisa merasakan bising kota di pagi hari, tenang di sore hari dan hening total di malam hari.

Warga Menyebut Lebak Sebagai Rumah

Salah seorang warga, Jaja mengatakan, bahwa Kabupaten Lebak baginya bukan hanya sekedar rumah untuk pulang. Lebih dari itu, Lebak memiliki tiga keistimewaan yang belum tentu dimiliki oleh daerah lain.

“Lebak ini unik, dia seperti memiliki tiga pintu, pintu pertama menghadap laut, kalau kamu ke selatan, kamu akan ketemu Bayah dan Malingping. Di sini lautnya tidak ramah, ombaknya besar, karangnya tajam, dan pasirnya putih,” kata Jaja kepada awak media, Minggu 5 Juli 2026.

Jaja menceritakan, dulu sebagian besar anak-anak muda di Lebak Selatan hanya memiliki dua pilihan, melaut atau merantau. Namun, seiring berjalannya waktu mereka memilih pulang dan memanfaatkan potensi alam yang ada di kampung halaman.

“Wisata jadi nafas baru, tidak ada hotel tinggi, yang ada hanya homestay, open selancar dan pemuda lokal yang jadi pemandu,” ungkapnya.

Rangkasbitung Jantungnya Kabupaten Lebak

Pintu kedua Lebak menghadap ke pusat ibukota yakni Rangkasbitung, pintu ini paling ramai, ada suara klakson kreta, ada pasar yang buka dari Pukul 04.00 subuh, ada perkantoran, sekolah dan pabrik.

Ibarat kata, Rangkas ini merupakan ruang tamu Kabupaten Lebak, semua orang yang datang ke Lebak mampir di sini. Petani dari gunung bawa sayur dan anak desa naik angkot untuk bersekolah.

Baca Juga :  Kejar PAD Rp9 M, Pemkot Serang Bidik Rumah yang Diperluas dan Beralih Fungsi

“Sebagai jantungnya Kabupaten Lebak, perangkat harus tetap hidup, karena di sini ada stasiun terakhir KRL dari Jakarta, ada pasar induk, perkantoran dan pabrik,” ujarnya.

Hening, Penanda Pintu Ketiga “Rumah Suku Baduy”

Pintu ini tidak ada listrik, tidak ada motor, ada handphone, yang ada hanya rumah panggung, ladang warga yang menghijau, dan sungai yang jernih.

“Wisatawan yang masuk ke pintu ini tidak hanya pulang bawa oleh-oleh. Tapi mereka juga pulang membawa diam, mereka banyak belajar bahwa hidup cukup itu kayak. Oleh karena itu, dengan ditutupnya pintu ini dari modernisasi, hutan Lebak Utara masih hijau dan airnya masih jernih,” terangnya.

Satu rumah, Satu Tantangan

Lebih lanjut Jaja menyampaikan, punya tiga pintu itu indah, tapi merawatnya tidak mudah. “Tentu sangat tidak mudah untuk merawat 3 keistimewaan yang dimiliki Lebak ini. Tapi yang pasti ini tugas kita semua, bukan hanya pemerintah,” tandasnya. (Mg-Aldo Marantika)