Beranda Sosial dan Budaya Mengenal Sosok Gebar Sasmita, Seniman Asal Pandeglang Murid Hendra Gunawan

Mengenal Sosok Gebar Sasmita, Seniman Asal Pandeglang Murid Hendra Gunawan

Gebar Sasmita. (IST)

SERANG – Nama Gebar Sasmita sudah tidak asing lagi di telinga para pegiat seni. Sosok pelukis asal Kabupaten Pandeglang yang akrab disapa Kang Gebar ini dikenal melalui karya-karyanya yang luar biasa.

Perjalanan hidupnya untuk menjadi pelukis penuh lika-liku. Dirinya yang saat itu masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Teknik Negeri (STN) ditangkap oleh pemerintah pada 23 Desember 1965 silam dan ditahan di Serang.

Ia ditangkap lantaran tergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Kang Gebar yang tidak mengetahui salahnya apa hanya bisa pasrah saat ditangkap.

Kang Gebar yang saat itu juga menjadi tahanan paling muda harus berjuang untuk bisa tetap hidup. Ia bahkan rela memakan berbagai binatang hingga membuat bubur dari tanah demi tidak kelaparan.

“Selama di tahanan ketika saya di Kebonwaru, Bandung, dua tahun tidak dikasih makan, jauh dari orangtua, jauh dari besukan. Sampai waktu itu untuk saya bisa bertahan hidup saya sampai makan tanah, bubur tanah. Tanah itu dibubur agar kita tidak terasa lapar,” ceritanya.

“Kita berupaya supaya kita tidak mati, akhirnya sampai tanah pun dimakan. Apa yang bisa dimakan ya dimakan, dedek kita makan, bonggol akar pepaya kita makan kita rebus, binatang-binatang seperti cicak, kadal, sampai tikus, keong racun dimakan, karena saya ingin hidup,” tambahnya.

Meski menjadi tahanan dan hidup dengan keterbatasan selama 14 tahun di bui, Kang Gebar justru mempelajari banyak hal mulai dari mengasah bakat seni lukis yang sudah dimilikinya sejak SD, melatih seni pahat, hingga belajar memasak. Di dalam penjara, Kang Gebar juga berkesempatan belajar melukis kepada maestro Hendra Gunawan.

Menjalani hari-hari pada tahun 1966-1973 bersama sang maestro Hendra Gunawan di sel tahanan Kebonwaru, Kota Bandung membuat Kang Gebar kecil termotivasi menjadi pelukis dari seseorang yang dianggap gurunya tersebut.

Peralatan melukis di dalam penjara didapatnya dari hasil membuat kerajinan tangan mainan anak-anak. Kerajinan itu nantinya ia titipkan kepada orang yang membesuk Kang Gebar untuk dijual.

“Jadi sama orang-orang yang besuk itu dijual, saya dapat uang, uangnya sebagian untuk makan, sebagian untuk alat-alat lukis. Dari sana saya bisa sedikit hidup, dari sana saya juga bisa melukis,” kata Kang Gebar.

Sayangnya ketika sedang menimba ilmu dari sang guru, keadaan harus memisahkan mereka. Pada 1973, dirinya harus dipindahkan ke Nusa Kambangan. Kang Gebar berada di Nusa Kambangan sampai dirinya bebas pada 27 Desember 1979.

Usai bebas, Kang Gebar langsung menjalani kehidupannya sebagai pelukis dan menghasilkan beberapa karya diantaranya Self Portrait, Sungai Merah, dan monumen perjuangan manunggal ABRI dan rakyat di Kota Cilegon, Banten.

Dalam lukisan Self Portrait, Kang Gebar menggambarkan perjalanan hidup dan perasaannya saat menjadi tahanan politik 57 tahun yang lalu. Lukisan Self Portrait dibuat oleh dirinya pertama kali setelah beberapa tahun bebas dari penjara tepatnya pada 1985, kemudian dilukis kembali sekitar tahun 2000 karena lukisan pertama sudah habis dimakan rayap.

Ungkapan kerinduan Kang Gebar terhadap sang ibu juga diungkapkannya dalam lukisan itu melalui kalimat yang tersemat di bagian bawah, ‘Ibu di mana engkau? Aku ingin makan bersamamu’.

Saat Kang Gebar bebas, kedua orangtuanya sudah tiada. Padahal momen bersama orangtuanya menjadi hal yang ditunggu-tunggu ketika dirinya terbebas.

Karya-karya lukisan Kang Gebar memiliki aliran impresionisme. Tampilan warna yang khas serta tegas menjadi salah satu ciri yang dimiliki lukisannya.

Bagi Kang Gebar, melukis tidak hanya sekadar menggambar. Perasaan yang tulus dan kecintaan terhadap seni menjadikan suatu lukisan bisa bernyawa. “Untuk menjadi seniman itu tumbuhkan rasa cinta pada profesi itu, kalau rasa cinta tidak ditumbuhkan kita bisa sakit di tengah jalan,” katanya. (Nin/Red)