Beranda Sosial dan Budaya Perjumpaan di ‘Sungai Merah’ Karya Gebar Sasmita

Perjumpaan di ‘Sungai Merah’ Karya Gebar Sasmita

Lukisan berjudul 'Sungai Merah' karya Gebar Sasmita. (Repro)

CUKUP lama saya memandangi lukisan berjudul ‘Sungai Merah’ karya Gebar Sasmita dalam event Banten Biennale I, di Museum Negeri Banten, beberapa tahun silam.

Dua sosok bertubuh ringkih memandangi sungai berwarna merah. Hulu sungai memusar hingga menuju matahari dengan latar kuning sementara hilirnya entah di mana. Sungai itu dibelah jembatan yang terputus. Di sebelah kanan sekelompok orang berpakaian serba putih menuju jembatan, berhadapan dengan kelompok lainnya di seberang sungai. Tak jelas, kedua kelompok itu hendak memperbaiki jembatan yang terputus atau malah semakin merusaknya.

Sementara di antara dua kelompok tersebut, dua sosok duduk bersimpuh seakan meratap duka.

“Jembatan itu tak akan pernah nyambung selama airnya memerah. Sungai merah, merah darah, darah siapa,” ujar Gebar Sasmita kepadaku di malam penutupan pameran.

Dengan ditemani segelas bandrek dan kacang rebus, aku berbincang dengan Kang Gebar tentang lukisan tersebut. “Terinspirasi dari buku Revolusi di Sungai Merah ya Kang?” tanyaku menerka.

Kang Gebar menggelengkan kepala bahkan ia mengaku belum membaca buku karya Agus Marwan. Buku terbitan Ombak itu mengisahkan bagaimana Vietnam bisa mengesampingkan sejarah kelam hubungannya dengan Tiongkok dan kemudian Amerika. Sementara Indonesia masih terus menempatkan kepahitan masa lalu sebagai pertimbangan penting dalam menapak masa depan?

Kang Gebar mengaku merasa aneh dengan sekelompok orang di negeri ini yang terus saja memendam dendam dan menghasilkan kekerasan. Apalagi dengan isu sensitif komunis.

Kang Gebar pernah mengalami efek tragedi 1965. Pada tahun itu, saat pelukis asal pandeglang masih duduk di bangku SMP, ia harus menjalani hidup di penjara tanpa pengadilan hanya gara-gara membawa mesin tik milik kerabatnya yang kebetulan kader PKI. Padahal ia membawa mesin tik itu untuk belajar mengetik di rumahnya.

Walau pahit, Kang Gebar tetap bersyukur mengalami kehidupan sebagai buangan. Di daerah buangan ia bisa bertemu dengan maesteo lukis Hendra Gunawan yang kemudian menjadi gurunya. Ia juga tak membenci aparat keamanan yang telah menjebloskannya ke penjara. Salah satu hasil karyanya yaitu monumen perjuangan manunggal ABRI dan rakyat di Cilegon, Banten.

Lewat lukisannya Kang Gebar seakan mengajak semua pihak untuk melakukan rekonsiliasi, berdamai dengan masa lalu. Saatnya untuk membersihkan sungai menjadi jernih dan menyambung kembali jembatan yang terputus. (Ink/Red)