Beranda Komunitas Mengapa Banten Dikenal Gudangnya Ilmu Magi

Mengapa Banten Dikenal Gudangnya Ilmu Magi

Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy mencoba atraksi kesenian debus - foto istimewa

Selain dikenal sebagai kota seribu kyai sejuta santri, Banten juga sangat akrab dengan ciri atau identitas magi. Di banyak tempat ketika menyebut “Banten” asosiasi orang akan mengarah pada ilmu kanuragan, santet dan pelet. Sepertinya ketika mengaku orang Banten selalu memiliki kemampuan khusus yang bersifat supranatural.

“Jangan mengaku orang Banten kalau masih luka oleh tebasan golok” adalah contoh kecil bagaimana anggapan umum bahwa praktik magi dan ilmu kanuragan menjadi kemampuan umum serta hal sehari-hari di masyarakat. Padahal banyak juga orang Banten yang tak menguasai atau pernah bersentuhan dengan praktik magi tersebut.

Dalam buku berjudul Akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam Magi Banten (2014), yang merupakan disertasi di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ayatullah Humaeni menjelaskan bahwa terjadinya praktik magi banyak berhubungan dengan akulturasi Islam dan budaya lokal masyarakat Banten.

(Istimewa)

Agen-agen akulturasi dalam tradisi magi di Banten biasanya diwakili oleh kyai yang merangkap ahli hikmah kemudian jawara, dukun, praktisi seni tradisi dan masyarakat pada umumnya.

Adapun institusi yang melestarikan tradisi magi di Banten sebut saja pesantren, aliran dan komunitas tarekat, debus, kelompok dan komunitas seni tradisi.

Ayat menyebutkan bentuk ritual magis di Banten terbagi dalam dua kategori umum seperti yang dinyatakan oleh Dhavamony. Bentuk pertama yaitu ritual musiman yang bersifat komunal masih dapat disaksikan hingga saat ini di beberapa daerah di Banten misalnya ritual sedekah laut yang dilakukan setiap satu tahun sekali pada bulan dan tanggal tertentu. Ada juga wiridan, dan puasa yang sifatnya personal.

Dalam penelitiannya Ayat menemukan ada beberapa jenis ritual yang harus dilakukan oleh seseorang ketika melakukan ritual magi untuk memperoleh atau menguasai ilmu tertentu.

Puasa

Selain puasa yang biasa dilakukan pada bulan Ramadan di Banten juga dikenal dengan beberapa puasa seperti puasa mutih yang hanya memperbolehkan memakan nasi putih dan air tawar selama berbuka dan sahur; puasa tawar yakni puasa 40 hari yang dilakukan dengan cara berbuka dan sahur hanya dengan makanan tawar seperti nasi putih singkong dan air tawar.

Ada juga puasa makanan yang bernyawa. selamat puasa ini seseorang tidak diperkenankan memakan makanan yang bernyawa seperti daging ikan telur dan sebagainya.

Puasa Senen-Kemis puasa ini dilakukan pada hari Senin dan Kamis dalam beberapa Minggu sambil melakukan wiridan atau amalan magi tertentu. Selain itu masyarakat Banten juga mengenal puasa Mati Geni atau Pati Geni yaitu puasa yang dilakukan dengan cara tidak makan tidak minum tidak tidur dan tidak berbicara dengan orang lain selama 24 jam atau lebih.

Selain itu ada juga puasa ngomong dan puasa ngrowot. Puasa ngomong dilakukan dengan cara tidak makan tidak minum dan juga tidak berbicara dengan siapapun selama waktu yang sudah ditentukan oleh gurunya. Sementara puasa Ngrowot yaitu jenis puasa yang saat berbuka dan sahur hanya boleh memakan jenis sayur-sayuran yang direbus tanpa menggunakan garam gula bumbu bumbu dan penyedap rasa lain.

Ngamal/ngewirid

Ritual ngamal atau ngewirid merupakan salah satu ritual dalam mengamalkan ilmu magi di Banten yang harus dijalani oleh si pengamal terutama si pengamal yang proses mendapatkan ilmu magi-nya dengan cara mentah. Proses ngamal atau wiridan dilakukan pada waktu dan tempat tertentu biasanya juga diiringi dengan puasa selama beberapa hari.

Kalimat yang dibaca saat prosesi ini ada yang mengutip dari ayat Quran ada juga yang bersifat jangjawokan atau mantra dari tradisi lokal.

Selain proses tadi, ada juga yang melakukan ritual magi dengan ziarah, menjalani tirakat di suatu tempat, menguasai benda magi (wafak, dll), melakukan gerak badaniah tertentu, dan sebagainya.

Dari praktik magi seperti itu, Banten kemudian dikenal oleh masyarakat luar sebagai gudangnya ilmu magi. Tradisi tersebut hingga kini masih bisa ditemui dalam berbagai bentuk. Mulai dari seni tradisi debus, santet, pelet, dan sebagainya. (Red)