Beranda Opini Menata Kota atau Meniru Kota? Ketika Wajah Baru Cilegon Dipertanyakan Warganya

Menata Kota atau Meniru Kota? Ketika Wajah Baru Cilegon Dipertanyakan Warganya

Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fauzi Sanusi. (dok.pribadi)

Seri Evaluasi 17 Program Unggulan Wali Kota di Tahun Pertama Pemerintahan

Oleh : Fauzi Sanusi
Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Seri evaluasi 17 program unggulan Walikota di tahun pertama pemerintahan kali ini adalah tentang penataan wajah kota Cilegon mulai dari teras PCI sampai dengan simpang tiga.

Penataan wajah kota di jalan protokol menuai pujian sekaligus kritik. Memang lampu hias menyala, trotoar tampak lebih rapi, dan koridor utama kota terlihat “naik kelas”. Namun, di balik itu muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar dari warga: mengapa desainnya terasa seperti Jogja? Mengapa bukan yang mencirikan Cilegon?

Kritik ini bukan sekadar soal selera estetika. Ia menyentuh isu yang lebih mendasar yaitu identitas dan karakter kota.

Banyak warga menilai gaya lampu, ornamen, hingga nuansa ruang publik yang dibangun mengingatkan pada kawasan wisata budaya seperti Yogyakarta yang ramah, dekoratif, dan romantik. Pendekatan itu sah-sah saja bila diterapkan di kota pariwisata. Masalahnya, Cilegon bukan Jogja. Cilegon adalah kota industri, kota pelabuhan, kota produksi dan kota pejuang yang religius.

Di titik inilah kritik warga menjadi relevan.

Indah, Tapi Bukan Kita?

Secara kasat mata, penataan koridor PCI–Simpang Tiga memang mempercantik kota. Ruang publik terasa lebih hidup pada malam hari. Namun, sebagian warga merasakan ada yang “janggal”. Wajah kota terlihat indah, tetapi tidak berbicara tentang siapa Cilegon sebenarnya.

Padahal, Cilegon memiliki karakter yang sangat kuat: sejarah perlawanan rakyat, budaya Banten yang jujur sekaligus religius, denyut industri baja dan petrokimia, serta peran strategis sebagai gerbang logistik. Ironisnya, kekayaan narasi itu nyaris tidak hadir dalam bahasa visual kota. Lihat saja desain lampu, pola trotoar, maupun elemen ruang publik tidak banyak berceritera tentang Cilegon, malah berkisah tentang kota lain.

Baca Juga :  Gaya Belajar yang Kreatif dan Inovatif

Memang sih desainnya terkesan generik: nyaman, familiar, dan mudah diterima. Indah, tetapi terasa “dapat pinjam”.

Bukan Soal Meniru, Tapi Soal Konsep

Perlu ditegaskan: masalahnya bukan karena pemerintah “meniru Jogja”. Dalam praktik tata kota, referensi adalah hal wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketiadaan konsep identitas Cilegon yang jelas.

Tanpa pedoman desain berbasis karakter lokal, penataan kota mudah tergelincir menjadi sekadar proyek estetika. Cantik secara visual, tetapi hampa makna. Dalam istilah perencanaan kota, ini sering disebut aesthetic without narrative, indah, namun tidak bercerita.

Akibatnya, ruang publik gagal membangun sense of belonging. Warga menikmati hasilnya, tetapi sulit merasa memiliki.

Seperti Apa Seharusnya Wajah Cilegon?

Membangun identitas kota bukan berarti membuat ruang publik menjadi keras atau kaku. Menurut pikiran saya Cilegon tidak harus penuh simbol baja atau ornamen pabrik. Yang dibutuhkan adalah kejujuran tentang karakter kota.

Dalam bayangan saya, lampu jalan dengan sentuhan desain industrial modern, trotoar dengan motif yang terinspirasi pelabuhan atau laut, palet warna yang merefleksikan energi, baja, dan pesisir. Jadinya nampak sederhana, tegas, dan ada nilai-nilai heroik, namun tetap estetik. Dari sana, orang akan langsung tahu: ini Cilegon, bukan kota Jogja atau Bandung atau kota lainnya.

Mengapa Kritik Ini Penting Didengar?

Penataan wajah kota tidak hanya proyek kosmetik apalagi pencitraan. Ia adalah pesan simbolik nilai-nilai kepemimpinan. Wajah kota mencerminkan bagaimana pemerintah melihat warganya dan bagaimana kota ingin dikenali oleh dunia luar—termasuk investor dan pelaku industri.

Jika desain kota terus bersifat generik, Cilegon berisiko kehilangan diferensiasi. Tidak ada bedanya karena tidak ada keunikannya. Yang terjadi adalah program penataan dengan biaya yang mahal, tetapi dampak kebanggaan dan identitasnya murahan. Kota menjadi cantik, namun karakternya tidak menarik.

Baca Juga :  Rencana Ngutang Ditolak DPRD, Pemkot Cilegon Konsultasi ke Kemendagri

Penutup

Kritik warga tentang “nuansa Jogja” seharusnya tidak dianggap nyinyir atau bahkan ditanggapi secara kikir. Sebaliknya, kritik itu adalah alarm penting: Cilegon sedang mencari wajahnya sendiri.

Tantangan pemerintah ke depan bukan sekadar menambah lampu atau mempercantik trotoar, melainkan merumuskan identitas kota yang jujur, konsisten, dan berani. Karena kota yang kuat bukan hanya yang terang di malam hari, tetapi yang mampu berkata pada warganya: Inilah kita sang Juare.