Beranda Opini Gaya Belajar yang Kreatif dan Inovatif

Gaya Belajar yang Kreatif dan Inovatif

Ilustrasi - foto istimewa

Oleh : Intan Idaman Halawa, Mahasiswa Universitas Pamulang prodi Matematika

 

Belajar adalah proses untuk mengubah tingkah laku dan menambah ilmu pengetahuan serta mengembangkan keterampilan. Gaya Belajar Kreatif dan Inovatif merupakan gaya belajar yang tidak monoton baik cara maupun medianya. Perlunya belajar kreatif dan inovatif agar menghasilkan produk yang bermanfaat bagi orang lain.





Belajar dengan menunggu materi dari pengajar merupakan gaya belajar yang pasif dan monoton. Hal ini akan membuat pelajar berwawasan sempit dan terkesan kurang kreatif. Di era global ini, kita bisa belajar di mana saja, apa saja dan kapan saja. Melalui jagat media yang saat ini telah menjadi wadah untuk belajar lebih kreatif dan inovatif.

Jagat media yang ada saat ini telah menjadi media hiburan sekaligus menjadi media pembelajaran yang efektif. Dalam aplikasi yang menyediakan soal-soal yang sederhana tapi cukup menantang mampu melatih otak untuk berpikir lebih kreatif.

Apalagi ditengah pandemi saat ini, kita hendaknya menggunakan waktu luang kita untuk memunculkan ide-ide gila. Seperti halnya Nikola Tesla yang mengatakan, “Ia memang lebih muda dibanding Edison, namun ia merupakan penemu dan ilmuan paling jenius di abad 19. Ia dijuluki ‘ilmuan Gila’ (mad scientist) karena pemikiran anehnya tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia pertama kali mengembangkan ide arus bolak-balik (AC-Alternating Current)”, (Alif Ahmad).

Oleh karena itu, jangan berpikir anda gila dengan ide gilamu. Karena penemu-penemu ternama di dunia bersumber dari ide gila. Untuk memunculkan sebuah ide kreatif, kita tidak harus mondar mandiri ke luar negeri untuk mencari informasi yang dapat menambah wawasan dan melatih skill kita. Saat ini, jagat media telah menyediakan jutaan informasi yang membantu kita untuk memunculkan ide cemerlang dan cara melakukannya.

Belajar tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan akademis namun mengenai keterampilan yang dapat diasah agar lebih produktif. Pembelajaran dalam berbagai media dapat dilakukan di rumah, di sekolah maupun di luar sekolah. Berkreasi juga merupakan proses pembelajaran yang dapat menunjang kreatifitas.

Pembelajaran yang dilakukan dapat berupa SAVI (Somatis, Auditory, Visual, dan Intelektual), (Pratiwi dan Pujiastuti, 2014). Kita bisa belajar somatis yaitu dengan menggunakan alat gerak untuk berbuat sesuatu (ada action). Semakin sering kita berlatih, maka kita akan semakin memahami proses dan penerapannya.

Orang yang mengetahui banyak teori fisika namun tidak tahu cara mempraktekannya sama saja sia-sia (tidak berguna). Atau seorang yang pandai matematika namun tidak tahu penerapannya, hal itu sama saja nol. Karena pada hakikatnya air jernih yang tetap diam lama-lama akan menjadi keruh. Demikian pengetahuan tanpa praktek dan penerapannya tidak ada faedahnya.

Kemudian, kita juga bisa belajar melalui auditory yaitu belajar dengan mendengarkan baik berita melalui radio maupun media lainnya. Hal ini akan melatih kemampuan otak kita untuk menyimak sesuatu yang kita dengar.

Selain itu, kita juga bisa belajar visual yaitu berfokus pada penglihatan. Hal-hal baru yang kita lihat dapat kita jadikan bahan untuk dipelajari sehingga menambah dan menyempurnakan skill yang kita miliki. Kemudian, belajar intelektual yaitu kemampuan belajar dari pengalaman. Hal ini dapat mengasah kemampuan berpikir dan menganalisis fenomena di lingkungan sekitar maupun informasi dalam berbagai media.

Ketika kita merasa bosan belajar sendiri, kita juga bisa belajar secara berkelompok. Teman sebaya yang merupakan teman bermain dapat pula menjadi teman belajar yang mengusir kebosanan. Berkumpul sambil tebak-tebak kata, teka-teki matematika dan lain sebagainya. Hal ini dapat mengasah kemampuan berpikir cepat dan tepat.

Istilah belajar sambil bermain ataupun bermain sambil belajar tidak hanya diperuntukkan untuk anak-anak. Akan tetapi, bagi mahasiswa dan pelajar lainnya juga butuh sifat rileks dalam belajar. Sebab, belajar terlalu serius akan lebih mudah menimbulkan kelelahan dan stress. Maka dari itu, pelajar diharapkan belajar dengan gaya yang kreatif dan inovatif.

Melalui gaya belajar yang kreatif dan inovatif diharapkan pelajar dapat menghasilkan suatu produk yang bermanfaat. Seperti mahasiswa Universitas Gajah Mada yang mampu menemukan alat GeNose yang digunakan untuk mendeteksi covid-19.

Untuk mencapai hal di atas, diharapkan tenaga pengajar baik guru maupun dosen untuk mengarahkan dan membimbing siswa maupun mahasiswa untuk melaksanakan program dari pemerintah. Khususnya untuk mahasiswa salah program yang mampu menambah keterampilan yang dimiliki yaitu PKM. Melalui program ini, mahasiswa diarahkan berpikir lebih kreatif dan inovatif agar mampu menghasilkan suatu produk. Misalnya, kegiatan PKM-KC dengan ide “membuat hand sanitizer dari kulit durian”. Selain menambah produktifitas mahasiswa, dapat pula dimanfaatkan oleh masyarakat pada umumnya.

Selain melaksanakan program dari pemerintah diharapkan juga setiap sekolah maupun kampus membuat suatu program yang menjadi wadah untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang sudah diterima oleh siswa maupun mahasiswa. Hal ini dapat menuntun siswa dan mahasiswa untuk berkarya bagi negeri dan menjadi lulusan yang berguna.

(***)