
LEBAK – Di balik rimbunnya pepohonan Kampung Kopi, Desa Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, berdiri sebuah gubuk bambu sederhana berukuran sekitar 5×5 meter. Bangunan tua bekas tempat pengolahan kopra itu menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi Madhalim (86) dan istrinya.
Gubuk itu jauh dari kata layak. Dinding bambu mulai lapuk, cahaya matahari sulit masuk, ventilasi sangat terbatas, dan atapnya kerap bocor setiap hujan mengguyur.
Pada malam hari, pasangan lansia itu hidup dengan penerangan seadanya.
Belum lama ini, nama Madhalim menjadi perhatian publik setelah videonya viral saat menahan lapar ketika berjualan kangkung. Namun, kenyataan yang ia hadapi ternyata lebih memilukan.
Kelaparan bukan satu-satunya persoalan yang harus ia lawan setiap hari. Ia juga hidup di atas tanah milik orang lain tanpa kepastian masa depan.
“Sudah dua tahun tinggal di sini. Saung sama tanah ini punya orang, kakek cuma numpang di sini,” kata Madhalim kepada BantenNews, Jumat (31/7/2026).
Setiap pagi, Madhalim tetap memaksakan tubuhnya bekerja meski usia sudah senja. Ia memungut brondolan sawit yang tercecer di kebun untuk dijual.
Jika kondisi tubuhnya masih kuat, ia membawa beberapa ikat kangkung untuk dijajakan demi menambah penghasilan.
“Sehari-harinya kakek pemulung buah sawit. Kalau jualan kangkung jarang-jarang karena kondisi kesehatan kakek sudah sakit-sakitan,” ujarnya.
Pendapatan yang tidak menentu membuat pasangan lansia itu hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup dari hari ke hari. Di usia ketika banyak orang menikmati masa tua bersama keluarga, Madhalim justru masih berjibaku mencari makan sambil dihantui kekhawatiran kehilangan tempat berteduh.
Harapan yang ia sampaikan pun sederhana. Ia tidak meminta banyak, hanya sebuah rumah kecil yang bisa ditempati dengan tenang bersama istrinya.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa menyediakan tempat yang layak bagi kami, soalnya ini tempat punya orang, lahannya punya orang,” harapnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mengakui kondisi Madhalim membutuhkan perhatian segera. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Lebak, Iyan Fitriani mengatakan, kebutuhan paling mendesak saat ini ialah tempat tinggal yang layak.
Pemerintah desa, kata Iyan, tengah mencari lahan bengkok yang dapat digunakan untuk membangun rumah bagi Madhalim. Di saat yang sama, Pemkab Lebak juga menyiapkan usulan pembangunan Rumah Sejahtera Terpadu (RST) melalui UPT Baznas Banten.
“Yang paling dibutuhkan Kakek Madhalim saat ini adalah rumah. Karena itu kami menyiapkan usulan pembangunan Rumah Sejahtera Terpadu melalui UPT Baznas Banten,” kata Iyan.
Kini, di sudut gubuk bambu yang mulai rapuh dimakan usia, Madhalim dan istrinya hanya bisa berharap janji itu segera menjadi kenyataan. Sebab, selama rumah itu masih berdiri di atas tanah pinjaman, mereka tidak pernah benar-benar memiliki kepastian untuk hari esok.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd