Oleh Wahyu Arya
Ada manusia yang menemukan dirinya melalui permainan. Ada pula manusia yang menemukan dirinya melalui cerita. Dalam perjalanan hidup, keduanya bukanlah dua dunia yang terpisah. Permainan dapat berubah menjadi cerita; gerak tubuh dapat menjelma kata-kata; pengalaman yang semula berlangsung dalam diam tubuh akhirnya mencari bentuk dalam bahasa. Di ruang peralihan inilah buku Suara dari Alaska karya Heru Anwari menemukan maknanya.
Buku ini merekam perjalanan seorang individu dari homo ludens—manusia yang bermain—menuju homo fabulans—manusia yang bercerita.
Istilah homo ludens pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan dan filsuf budaya Belanda Johan Huizinga melalui bukunya yang terkenal, Homo Ludens. Dalam pemikirannya, Huizinga menolak anggapan bahwa manusia semata-mata adalah makhluk rasional (homo sapiens) atau makhluk ekonomi (homo economicus). Ia mengajukan gagasan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bermain.
Kata ludens sendiri berasal dari bahasa Latin ludere, yang berarti bermain, bersenang-senang, atau melakukan suatu aktivitas dengan semangat permainan. Bagi Huizinga, permainan bukan sekadar hiburan atau aktivitas anak-anak. Ia adalah unsur fundamental dalam kebudayaan manusia. Hukum, ritual, seni, bahkan perang dan politik, menurut Huizinga, sering kali mengandung struktur permainan: aturan, arena, kompetisi, serta kegembiraan yang lahir dari keterlibatan total.
Permainan memiliki ruangnya sendiri—sebuah lingkaran imajiner yang oleh Huizinga disebut sebagai magic circle. Di dalam lingkaran itu, manusia memasuki dunia yang berbeda dari keseharian: dunia yang memiliki aturan sendiri, ritme sendiri, dan makna yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang ikut bermain.
Jika teori Huizinga dibaca melalui kehidupan Heru Anwari, maka arena permainan itu tidak lain adalah dunia BMX freestyle.
Di atas roda sepeda, di tengah beton taman kota, di pinggir trotoar yang sepi, atau di ruang publik yang terlupakan, Heru belajar tentang ritme, risiko, dan keseimbangan. Dunia BMX bukan sekadar olahraga baginya. Ia adalah arena permainan yang sesungguhnya—sebuah magic circle tempat tubuh belajar berbicara melalui gerakan.
Namun seperti banyak perjalanan manusia, permainan tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Pada suatu titik, pengalaman tubuh yang begitu intens mulai mencari bentuk lain untuk bertahan. Gerak ingin menjadi ingatan. Ingatan ingin menjadi cerita.
Di sinilah Heru bergerak menuju bentuk lain dari keberadaan manusia: homo fabulans—manusia yang bercerita.
Istilah fabulans berasal dari kata Latin fabula, yang berarti cerita atau kisah. Jika homo ludens hidup dalam dunia permainan, maka homo fabulans hidup dalam dunia narasi. Ia menyusun pengalaman menjadi kisah, merangkai peristiwa menjadi makna, dan memberi bentuk pada kehidupan melalui bahasa.
Heru Anwari tampaknya tidak lagi merasa cukup hanya menjadi pemain. Dunia BMX telah memberinya pengalaman, tetapi pengalaman itu menuntut sesuatu yang lebih: pemaknaan.
Menulis dari Pengalaman Tubuh
Perkembangan ini tidak berlangsung di ruang teori atau di meja akademik. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang konkret. Dunia BMX freestyle yang membesarkan Heru menjadi titik awal bagi proses itu. Di atas sepeda, ia belajar menjaga ritme, mengelola risiko, dan menemukan keseimbangan. Pengalaman tubuh itulah yang kemudian menjadi dasar cara ia menulis.
Esai-esai dalam buku ini tidak lahir dari rujukan tekstual yang berat atau keinginan untuk tampil sebagai intelektual. Heru menulis dari pengalaman langsung: perjalanan, perjumpaan, dan pergulatan batin yang dialaminya sendiri. Karena berangkat dari pengalaman tubuh yang nyata, tulisannya terasa otentik. Ia tidak sekadar mengisahkan perjalanan, tetapi juga menghadirkan sudut pandang tentang hidup.
Buku ini lahir dari kegelisahan untuk berkisah. Bukan sekadar mencatat perjalanan, melainkan membagikan pengalaman batin yang muncul dari benturan budaya, perjumpaan dengan orang-orang baru, serta pencarian makna hidup. Karena itu, Suara dari Alaska tidak berhenti sebagai catatan perjalanan. Ia juga menjadi ruang refleksi pribadi.
Transformasi dari pemain menjadi pencerita tampak jelas di dalamnya. Dunia BMX membentuk karakter Heru sebagai homo ludens—manusia yang hidup dalam permainan, gerak, dan tantangan fisik. Namun pada titik tertentu, pengalaman itu tidak lagi cukup. Ia merasa perlu menafsirkan peristiwa yang dialami dan membagikannya kepada pembaca. Dari sinilah lahir dorongan untuk menulis.
Menariknya, cara pandang Heru tidak datang dari pusat dunia kesenian. Ia berdiri dari wilayah subkultur.
Dunia BMX, tempat ia tumbuh, bukan bagian dari seni arus utama, juga bukan wilayah seni avant-garde yang kerap menempatkan diri di podium atau di etalase institusi seni. Arena BMX justru hidup di ruang-ruang pinggiran kota: taman yang sepi, sudut beton yang tak terpakai, atau ruang publik yang belum sepenuhnya teratur. Di tempat-tempat itulah para rider mengasah keterampilan, bereksperimen dengan gerak, dan membangun komunitas.
Posisi “Pinggiran” Membentuk Perspektif
Heru tidak berbicara dari tengah panggung kesenian, melainkan dari tepiannya. Esai-esainya terasa seperti percakapan santai dari pinggir arena—bukan pidato dari podium. Ia tidak berusaha menjadi pusat perhatian dalam diskursus seni. Sebaliknya, ia berbagi pengalaman dari dunia yang sering dianggap kecil, tetapi justru kaya dengan praktik keseharian, solidaritas komunitas, dan kreativitas spontan.
Melalui esai-esainya, Heru juga merekam pengalaman lintas budaya selama perjalanan ke berbagai wilayah dunia: Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Australia. Dunia pertunjukan—mulai dari sirkus hingga atraksi panggung—menjadi ruang perjumpaan budaya. Di sana ia melihat perbedaan etos kerja, disiplin, serta cara masyarakat memandang seni.
Ia mengagumi profesionalitas yang ia temukan di Barat: manajemen waktu yang ketat, kedisiplinan, serta perhatian terhadap detail teknis dalam setiap pertunjukan. Bagi dirinya, standar kualitas yang tinggi lahir dari kerja keras dan konsistensi yang panjang.
Namun kekaguman itu tidak membuatnya kehilangan jarak kritis. Ia juga mencatat sisi lain kehidupan modern: hedonisme, materialisme, serta kecenderungan menjadikan seni sebagai komoditas. Dalam pengamatannya, kemajuan material tidak selalu berjalan seiring dengan kedalaman spiritual.
Metafora Keseimbangan
Bagi Heru, hidup menyerupai atraksi di atas sepeda BMX. Ia menuntut keseimbangan di tengah gerak, tekanan, dan risiko. Terlalu condong pada ambisi dapat membuat seseorang jatuh, tetapi terlalu takut bergerak juga membuatnya tidak pernah melaju. Keseimbangan bukan keadaan diam, melainkan proses yang terus-menerus dinegosiasikan.
Pengalaman sebagai atlet BMX membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Dalam setiap gerakan di atas sepeda terdapat pelajaran tentang keberanian, kegagalan, dan upaya bangkit kembali. Pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi refleksi tentang hidup.
Refleksi Heru juga tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Ia sering menimbang berbagai peristiwa melalui sudut pandang nilai dan agama. Dalam membaca fenomena budaya, ia mempertanyakan makna di baliknya: untuk apa seni diciptakan, dan ke mana manusia sebenarnya menuju.
Kekuatan Narasi Suara dari Alaska
Buku ini bukan sekadar cerita dari negeri jauh, tetapi suara batin seorang perantau yang mencoba memahami dunia tanpa kehilangan akar. Alaska menjadi simbol jarak—baik geografis maupun batin—yang justru membantu penulis melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih.
Secara gaya, esai-esai Heru terasa seperti percakapan pribadi. Ia tidak menempatkan diri sebagai pengajar yang menggurui pembaca. Sebaliknya, ia mengajak pembaca ikut merenung melalui cerita-cerita yang sederhana dan jujur.
Pada akhirnya, perjalanan Heru dari homo ludens menuju homo fabulans menunjukkan sesuatu yang sederhana namun penting: bahwa pengalaman bermain tidak berhenti pada permainan itu sendiri. Ia dapat berkembang menjadi refleksi, menjadi cerita, bahkan menjadi cara memahami kehidupan.
Dari roda sepeda menuju kata-kata, Heru mencoba menyusun kembali perjalanan hidupnya.
Ia tidak berbicara dari pusat panggung, melainkan dari pinggirannya—dari beton-beton kota yang sunyi, dari ruang publik yang terlupakan, dari komunitas kecil yang mengisi celah di antara kemegahan dunia.
Dan justru dari pinggiran itulah suaranya terdengar. Sederhana. Jujur. Dan dekat dengan kehidupan.
Seperti roda sepeda yang terus berputar, kisah-kisah dalam buku ini mengingatkan bahwa hidup adalah seni menjaga keseimbangan—di tengah gerak, risiko, dan perjalanan yang tak pernah benar-benar berhenti. Tabik!
