Beranda Opini Masa Depan Literasi Jomplang

Masa Depan Literasi Jomplang

710
0
Perpustakaan Kota Tangerang - (Foto Alwan/BantenNews.co.id)

Oleh : Nina Ayu Kumala Dewi, Mahasiswi Universitas Pamulang, Prodi Sastra Indonesia

Jika berbicara tentang masa depan, siapa yang tidak ingin memiliki masa depan yang cerah dan berkualitas bukan?. Setiap orang pasti ingin mengenyam pendidikan setinggi-tingginya untuk masa depan yang sebagus-bagusnya.
Sering kita melihat di berbagai media seperti orang-orang terpelajar dan berprestasi bahkan sekolah sampai ke luar negeri dan kita kerap berjumpa dengan orang-orang berdasi yang keluar masuk perusahaan juga naik turun mobil pribadi maupun dinas.

Orang-orang tersebut kita yakini pasti melalui pendidikan yang amat tinggi bahkan go internasional, dan yang kita pikirkan bahwa mereka adalah orang yang kaya raya dan punya segalanya. Sebenarnya, tidak semua apa yang kita pikirkan benar dengan fakta yang mereka alami. Seperti yang sudah disebutkan tadi dan melanjutkan pendidikan kemanapun yang mereka mau.

Ada sebagian orang yang memang berasal dari kalangan di bawah rata-rata dan hanya mengandalkan beasiswa agar dapat meraih masa depan yang cemerlang. Hal seperti ini memang tidak mudah, bahkan menjadi tantangan yang sangat menantang di era seperti sekarang. Apalagi muda-mudi sekarang melek dengan berbagai teknologi, sehingga persaingan di dunia pendidikan semakin ketat. Tidak hanya itu, kemajuan teknologi pun dimanfaatkan untuk memajukan perekonomian dunia.

Orang-orang sukses yang kita jumpai tersebut merupakan orang-orang yang hanya tinggal menikmati manisnya saja, sebab kepahitan sudah mereka telan sebelum kesuksesan mereka genggam.

Lalu bagaimana dengan literasi millenial saat ini?. Sejauh ini banyak dari berbagai kalangan yang hanya memahami bahwa literasi hanya sebuah kemampuan membaca saja yang merujuk pada sebuah tulisan. Sebenarnya literasi bukan pada aspek kemampuan membaca saja, melainkan merupakan kemampuan seseorang dari berbagai aspek, baik dalam membaca, berbicara, mendengar, menulis, menghitung dan sikap bijak dalam berbagai hal seperti menanggapi informasi dari berbagai media, mengolah dan menyerap informasi.

Teknologi memang semakin maju, namun saat ini sadarkah kita bahwa kualitas manusianya semakin menurun. Misalnya saja, jika kita perhitungkan berapa persen masyarakat di Indonesia yang minat dalam kegiatan membaca?. Berapa persen masyarakat Indonesia dapat bijak dalam menanggapi informasi? dan masih banyak lagi yang dapat kita perhitungkan.

Hal seperti inilah yang tengah krisis di tengah-tengah kita dan dapat mengurangi kualitas masyarakat di negeri kita. Saya rasa anda setuju dengan pernyataan tersebut.
Seperti sebulan lalu telah terjadi demonstrasi di berbagai daerah yang konon disebabkan masyarakat tidak menyaring terlebih dahulu informasi yang didapat dan langsung mempercayainya begitu saja, sontak emosi pun bersulut-sulut bak api disiram bensin karena masyarakat menganggap informasi tersebut dampaknya akan sangat merugikan masyarakat, padahal berita tersebut adalah hoaks.

Jika di masa mendatang kita sebagai masyarat masih saja begini, bagaimana masa depan negeri kita yang akan dipimpin oleh generasi millenial mendatang?.
Sudah pasti dapat kita bayangkan, jika kondisi literasi kita masih seperti ini ketika pemerintah mengeluarkan keputusan dan kita menerima informasi keputusan tersebut dengan kepala kosong juga tidak meyerap informasi tersebut maka pasti kerusuhan sebulan yang lalu dan sebelumnya akan terjadi kembali dimana-mana bahkan bisa lebih parah lagi.

Lalu apa yang harus kita upayakan agar literasi mendatang dan seterusnya tidak jomplang?
Bunga yang indah berasal dari pohon yang dirawat dengan baik dan bibit yang baik pula. Namun tidak semua bibit yang berkualitas bunganya akan mekar dengan sempurna, jika perawatannya saja tidak maksimal bahkan hanya akan membunuh bibit tersebut. Jika pun bunganya mekar, pasti tidak akan sebagus yang dirawat. Seperti itulah perumpamaan pemimpin masa depan.

Oleh karenanya menyiapkan generasi mendatang dengan sebaik-baiknya, pendidikan yang baik, Budi pekerti yang luhur serta dihiasi dengan pendidikan keagamaan adalah hal yang sangat penting untuk kita terapkan kepada anak-anak kita sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan.

Dalam kitab Tarbiyah al-Awlad fi Al-Islam, karya Abdullah Nashih Ulwan, dalam Alquran maupun hadis Nabi Muhammad SAW, telah diterangkan tentang tata cara mendidik anak bahkan sedini mungkin.
Dalam karyanya tersebut, Abdullah Nashih Ulwan menegaskan persyaratan pendidikan harus sejak dini. Semasa mengandung, ibu harus rajin mengajarkan akhlak yang positif.

Ketika telah lahir ke dunia langkah pertama adalah melantunkan lafadz tauhid pada telinganya (Azan ditelinga sebelah kanan dan iqomah ditelinga sebelah kiri). Selain itu orang tua pun harus memberi nama yang baik untuk buah hatinya, melakukan aqiqah, mengkhitankan kemudian menyekolahkannya.

Hal ini merupakan manifestasi dan kepedulian terhadap anak sejak dalam kandungan hingga beranjak dewasa dan pendidikan baik ilmu duniawi maupun akhirat harus dilakukan dengan simultan dan berkesinambungan tanpa henti.
Setiap anak tentu akan meniru perilaku dan sikap yang orang tuanya lakukan, dan meniru apa-apa saja yang dilihatnya.

Maka dari itu, melakukan hal-hal yang baik dan positif merupakan langkah awal untuk memberikan stimulasi terbaik kepada anak, baik untuk bersosialisasi dan mengenal lingkungan. Karena sejatinya buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya dan begitu juga kepribadian seorang anak tidak akan jauh dari kepribadian orang tuanya.
Jadi kita sebagai orang tua maupun guru atau dosen atau mahasiswa juga kakak kelas mesti berupaya agar anak-anak kita, anak didik kita, mahasiswa kita dan adik-adik kita mau untuk jatuh cinta lagi dan semakin mencintai literasi.

Mereka harus terus dipupuk dengan begitu mereka akan tumbuh dan berkembang serta dapat terus menyebarkan minat yang sama di daerahnya masing-masing. Tidak lupa semangat dan kepercayaan diri juga perlu dijadikan sebagai asupan agar mereka mau cinta dengan literasi. Ada sebuah kutipan yang sangat penuh makna dan mendorong saya menulis artikel ini.

“Bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa kelas teri jika dipenuhi kemampuan literasi. Sebab bangsa yang tingkat literasinya tinggi, akan menjadi bangsa yang disegani di dunia.” Seperti itulah kutipan Najwa Shihab.

(***)