Beranda Peristiwa Mahasiswa Soroti Pelanggaran HAM dan Disabilitas

Mahasiswa Soroti Pelanggaran HAM dan Disabilitas

sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Progresif (AMPES) dengan mengadakan aksi unjuk rasa di depan kampus UIN Sultan Maulana Hasanudin, Serang Banten.

SERANG – Masih banyaknya pelanggaran HAM serta abainya pemerintah terhadap masyarakat penyandang disabilitas disoroti oleh sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Progresif (AMPES) dengan mengadakan aksi unjuk rasa di depan kampus UIN Sultan Maulana Hasanudin, Serang Banten.

Aksi yang tersebut menyoroti beberapa isu diantaranya penuntasan kasus pelanggaran HAM, penghentian kasus diskriminasi terhadap minoritas khususnya penyandang disabilitas, serta perkuat peradilan Hukum dan HAM di Indonesia.

Koordinator lapangan Samsul mengatakan, aksi ini merupakan respon mahasiswa atas tindakan-tindakan pelanggaran HAM yang terjadi di beberapa tempat seperti Papua, Surabaya, Jogja, dan lainnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah harus menjalankan amanat konstitusi, yaitu untuk bisa menjaga dan melindungi HAM bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali, dan tidak hanya berpihak terhadap golongan tertentu saja.





“Syarat untuk menjadi negara modern adalah adanya pengakuan atas Hak Asasi Manusia didalam konstitusinya. Dan Indonesia sudah mengakuinya dalam amandemen UUD 1945. Namun ternyata, dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan amanat konstitusi,” ujarnya.

Menurut ketua dari Serikat Mahasiswa Sosial Demokratik (SWOT) tersebut, pemerintah tidak perlu repot-repot lagi dalam menjalankan wacana terkait dengan HAM. Pemerintah hanya cukup menjalankan apa yang telah diamanatkan oleh konstitusi dengan baik dan jeli.

Di tempat yang sama, peserta aksi dari HMI (MPO) Diebaj Ghuroofie dalam orasinya menyoroti isu disabilitas. Ia berkata dalam orasinya bahwa penyandang disabilitas merupakan korban pelanggaran HAM yang paling banyak.

“Isu disabilitas hari ini tidak menjadi prioritas bagi pemerintah. Bayangkan saja anggaran nasional untuk isu disabilitas hanya sebesar 0.015 persen dari total keseluruhan. Apakah mungkin dengan anggaran tersebut mampu menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas?,” ujarnya.

Dalam orasinya, ia juga mengajak para mahasiswa dan masyarakat umum untuk menjadikan isu disabilitas sebagai isu bersama sebelum pelanggaran-pelanggaran Hak penyandang disabilitas kembali wajar.

AMPES merupakan gabungan organisasi mahasiswa yang terdiri dari Serikat Mahasiswa Sosial Demokratik (SWOT), Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND), dan Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO).
Aksi ini juga dilakukan dalam rangka refleksi dan untuk memperingati hari HAM Internasional, pada 10 Desember kemarin. (Dhe/Red)