Beranda Pemerintahan Lulusan SMK Dominasi Pengangguran di Banten, Pengamat : Masalah Klasik!

Lulusan SMK Dominasi Pengangguran di Banten, Pengamat : Masalah Klasik!

Ilustrasi - foto istimewa google.com

SERANG – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menempati posisi tertinggi penyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Banten. Hal itu terungkap dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten.

“Lulusan SMK masih menempati posisi tertinggi menyumbang TPT dibanding jenjang pendidikan lain yaitu 13,03 persen pada Agustus 2019,” kata Kepala BPS Banten Adhi Wiriana┬ámelalui rilis yang diterima wartawan.

Adhi menambahkan, jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2019 sebesar 5,56 juta orang, naik sekitar 230 ribu pekerja jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2018 Pada periode yang sama juga terjadi penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 8,52 persen menjadi 8,11 persen.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Firman Hadiansyah melihat fenomena pengangguran di Banten yang banyak disumbang oleh lulusan SMK merupakan persoalan klasik namun lambat diatasi oleh pemerintah.

Persoalan link and match alias kesesuaian lulusan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja menjadi pekerjaan rumah pihak pemangku kepentingan, dalam hal ini Dinas Pendidikan Provinsi Banten untuk menyediakan pendidikan berbasis vokasional.

“Ada beberapa kondisi yang menuntut revitalisasi SMK sebagai hal sangat urgen. Selama ini banyak jurusan yang out off date (kadaluarsa) dan tidak lagi memiliki segmentasi pasar tenaga kerja,” kata Firman, Rabu (6/11/2019).

Jurusan yang sudah kadaluarsa dan tak memiliki pasar tenaga kerja tersebut menurut Firman harus ditutup dan digantikan dengan jurusan yang sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja. “Kejuruan yang susah diserap pasar jangan dibuka lagi. Selama ini jurusan, maaf, sekretaris atau manajemen tidak banyak diserap pasar. Bagaimana mau bersaing. Harus ada jurusan yang update dengan kondisi pasar tenaga kerja,” kata dia.

Ia menyarankan, perlunya kerja sama yang tuntas antara industri dan sekolah. Bukan semata hanya menyusun desain dan materi pendidikan di SMK, namun menghadirkan pendidik atau instruktur dari perusahaan industri tertentu secara berkelanjutan. “Bila perlu rekrutmen tenaga kerja dari lulusan SMK tersebut,” ujarnya.

Untuk Provinsi Banten, Firman menambahkan, sektor pertanian kerap kali dilupakan. Padahal sektor tersebut masih menjadi peluang menyerap tenaga kerja ke depan. Kebijakan Pemprov Banten yang akan menanam ribuan pohon jengkol dan mengembangkan pertanian kopi perlu mendapat perhatian.

Belum lagi, wilayah selatan Banten yang masih potensial untuk digarap sebagai lahan pertanian. Di sisi lain sektor pariwisata dan perhotelan masih bisa menjadi alternatif di samping jurusan kesenian sebagai pendukung pariwisata dan perhotelan. “Industri tersebut bukan hanya sektor perusahaan industri, tapi industri kreatif yang selama ini punya peluang baik di Banten,” ujarnya.

(You/Red)