Beranda Peristiwa Ludeskan Rp36 M, 14 Geosite Geopark Ujung Kulon Pandeglang Tak Optimal

Ludeskan Rp36 M, 14 Geosite Geopark Ujung Kulon Pandeglang Tak Optimal

Kantor Disparbud Kabupaten Pandeglang/Madani Prasetia - Bantennews.

PANDEGLANG – Pengembangan Geopark Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Meski telah ditetapkan sejak 2023 dan memiliki 14 geosite yang tersebar di delapan kecamatan, pengelolaannya diakui belum berjalan optimal.

Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut pemeliharaan kawasan geosite, tetapi juga bagaimana fasilitas wisata yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendongkrak kunjungan wisatawan dan perekonomian masyarakat.

Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, Akhmad Jaya Jajuli, mengakui pengelolaan Geopark Ujung Kulon saat ini belum terlalu optimal. Ia berharap seluruh geosite yang telah ditetapkan mendapat perhatian serius, terutama dari sisi pemeliharaan.

“Pengelolaannya memang belum terlalu besar. Saya juga berharap ke depan geosite-geosite yang sudah ditetapkan, jumlahnya 14 geosite, itu bisa terpelihara,” kata Akhmad saat diwawancarai BantenNews.co.id, Senin (2/11/2026).

Ke-14 geosite tersebut berada di delapan kecamatan, membentang dari kawasan Carita hingga Sumur. Namun, keberadaan belasan titik geosite tersebut perlu diikuti dengan program pemeliharaan, pengembangan atraksi wisata, serta pengawasan lingkungan yang terukur.

Sementara itu, Disparbud mengaku lebih banyak mengambil peran dalam mendukung promosi dan keberlangsungan program. Adapun pelaksanaan kegiatan geopark berada di bawah badan pengelola tersendiri.

“Kalau dari Disparbud, terutama bidang kami, men-support dan mempromosikan untuk keberlangsungan geopark tersebut,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, ia berkilah Disparbud berencana menggelar festival secara berkelanjutan melalui agenda bulanan. Program tersebut akan melibatkan sekolah-sekolah di Kabupaten Pandeglang melalui kegiatan School Go to Geopark Ujung Kulon.

Menurut Akhmad, kegiatan itu diharapkan tidak hanya menjadi agenda pariwisata, tetapi juga sarana edukasi bagi pelajar agar mengenal dan memiliki kepedulian terhadap potensi daerahnya.

Baca Juga :  PHRI Nilai Penataan Destinasi Wisata di Pandeglang Setengah Hati

“Bagaimana masyarakat Pandeglang mengetahui dan memiliki rasa memiliki terhadap geopark ini, terutama para pelajar,” tuturnya.

Namun, festival dan kegiatan kunjungan pelajar tentu tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pengembangan geopark. Pemerintah daerah juga perlu menunjukkan bagaimana strategi menjaga kelestarian lingkungan berjalan beriringan dengan aktivitas pariwisata. Terlebih, kawasan Ujung Kulon memiliki nilai konservasi yang harus dijaga.

Dari sisi ekonomi, Akhmad menyebut keberadaan Geopark Ujung Kulon berpotensi memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Sumber pendapatan tersebut antara lain berasal dari tiket masuk, aktivitas UMKM, hingga kegiatan pendukung lainnya.

Ia mengungkapkan, Disparbud memperkirakan potensi pendapatan dari tiket mencapai sekitar Rp614 juta. Akan tetapi, angka tersebut masih sebatas estimasi dan belum termasuk potensi penerimaan dari sektor lainnya.

“Estimasi kita sekitar Rp614 juta. Itu baru menghitung dari tiket, belum termasuk dari sewa-sewa dan lainnya,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menyisakan pertanyaan mengenai realisasi pendapatan yang benar-benar masuk ke kas daerah. Sebab, estimasi potensi pendapatan tidak bisa disamakan dengan capaian PAD. Pemerintah daerah perlu membuka data jumlah pengunjung, penerimaan tiket, biaya operasional, serta kontribusi ekonomi yang diterima masyarakat sekitar.

Sorotan lainnya datang dari besarnya dukungan anggaran pemerintah pusat untuk pembangunan desa wisata penyangga Geopark Ujung Kulon. Akhmad menyebut anggaran yang telah digelontorkan untuk pembangunan kawasan pendukung tersebut hampir mencapai Rp36 miliar.

Menurutnya, anggaran itu berasal dari program hibah yang disalurkan melalui pemerintah daerah dan diwujudkan dalam pembangunan sejumlah fasilitas wisata.

“Anggaran dari pemerintah pusat hampir Rp36 miliar untuk pembangunan desa wisata yang mendukung geopark. Bangunannya sudah bagus-bagus dan sudah jadi,” jelasnya.

Meski demikian, pembangunan fisik belum otomatis menjamin keberhasilan pengembangan pariwisata. Akhmad mengakui masih diperlukan inovasi agar fasilitas yang sudah dibangun benar-benar dimanfaatkan dan mampu menarik wisatawan.

Baca Juga :  Tagline "Pandeglang Bangkit, Selat Sunda Aman" Menuai Kritik

“Tinggal bagaimana inovasinya. Bangunannya sudah bagus-bagus, sudah jadi, tetapi harus ada kegiatan yang bisa mendukung keberlangsungan geopark,” katanya.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Pandeglang. Dengan dukungan anggaran puluhan miliar rupiah dan potensi PAD ratusan juta rupiah, pengembangan Geopark Ujung Kulon perlu dibuktikan melalui hasil yang terukur, bukan sekadar pembangunan fasilitas maupun agenda festival.

Publik juga berhak mengetahui bagaimana kondisi 14 geosite saat ini, siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaannya, berapa biaya pengelolaan yang dibutuhkan, serta sejauh mana keberadaan geopark memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Jangan sampai fasilitas wisata yang dibangun dengan anggaran besar hanya menjadi bangunan tanpa aktivitas berkelanjutan. Sebab, tujuan pengembangan geopark semestinya bukan sekadar menghadirkan destinasi baru, melainkan menjaga warisan geologi, melestarikan lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Akhmad berharap pengembangan Geopark Ujung Kulon ke depan dapat melibatkan lebih banyak unsur masyarakat sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan bersama.

“Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut dan masyarakat Pandeglang, terutama para pelajar, bisa merasa memiliki geopark tersebut,” pungkasnya.

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Wahyudin