Beranda Pariwisata PHRI Nilai Penataan Destinasi Wisata di Pandeglang Setengah Hati

PHRI Nilai Penataan Destinasi Wisata di Pandeglang Setengah Hati

74
0
Ketua PHRI Pandeglang, Widiasmanto

PANDEGLANG – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pandeglang menganggap keseriusan pemerintah dalam menata destinasi wisata di Pandeglang masih setengah hati.

Ketua PHRI Pandeglang, Widiasmanto mengatakan, hingga saat ini niat pemerintah untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih maju tidak kunjung terlihat. Malah hampir satu tahun pasca tsunami Selat Sunda, industri pariwisata di Pandeglang tak juga membaik.

“Sebetulnya kelemahan kita di destinasi. Penataan destinasi akan sukses kalau memang semua stakeholder kompak,” kata Widi, Sabtu (25/10/2019).

Kata dia, meski tidak sepenuhnya namun masih banyak kegiatan Pemkab Pandeglang yang dilakukan di luar daerah. Hal itu bertolak belakang dengan kata-kata Bupati Pandeglang yang selalu menggemborakkan agar wisatawan dari luar daerah berkunjung ke Pandeglang.

“Soal instruksi menggelar kegiatan di daerah terdampak, kami rasa belum total. Masih kita dengar beberapa kegiatan di luar daerah. Kan ini disayangkan. Disaat kita masih kesulitan, harusnya yang bisa nolong siapa lagi?,” ungkapnya.

PHRI mengingatkan pemerintah agar membuat promosi yang baik menjelang liburan akhir tahun nanti. Karena saat itu lah biasanya pariwisata di Pandeglang mencapai puncaknya selain momentum libur lebaran.

“Kami berharap moment akhir tahun nanti supaya ada promosi yang lebih tepat sasaran dan tepat market. Karena momen lebaran kemarin kurang maksimal,” ucapnya.

Keluhan senada diungkapkan General Manager Horison Altama, Haris Daud Suardi. Dirinya mengungkapkan, pengelola hotel dan restoran dihadapi persoalan yang pelik saat tingkat hunian merosot, namun pengelola diminta untuk tidak mem-PHK karyawannya.

“Dampak lain, saat kita membayar gaji pada karyawan, kewajiban pada PLN, akhirnya seperti tambal sulam. Kita dituntut tidak mem-PHK karyawan, apalagi 99% karyawan kita warga Pandeglang, tetapi pemasukan tidak ada,” keluhnya.

Daud juga memaparkan, agenda promosi yang dilakukan pemerintah baiknya diimbangi dengan penataan destinasi. Soalnya, kedua kegiatan itu sampai saat ini belum berjalan secara terstruktur dan terorganisir.

Akibatnya tak jarang Horison Altama kesulitan menggiring konsumennya mengunjungi tempat-tempat yang menarik di Kabupaten Pandeglang.

“Jadi saya menginginkan dari pemerintah itu support dari sisi promosi. Lalu kesiapan destinasi wisata, UMKM yang menyajikan berbagai kerajinan? Kan belum. Kalau ada tamu saya menanyakan soal kuliner atau cinderamata, saya bingung. Kadang buka kadang enggak,” tutupnya. (Med/Red)