Beranda Opini Literasi dan Generasi Masa Kini

Literasi dan Generasi Masa Kini

581
0
Ilustrasi - foto istimewa

Oleh : Puji Lestari, Mahasiswa

Berbicara tentang generasi masa kini, mungkin kita hanya akrab dengan sebutan Generasi Milenial saja. Tapi, di bawah Generasi Milenial masih ada lho yang namanya Generasi Z atau Zomer dan juga Generasi Alpha. Secara umum, Generasi Milenial adalah generasi yang kira-kira lahir pada tahun 1981 – 1995. Lalu, Generasi Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1995 hingga awal tahun 2010-an.

Terakhir, Generasi Alpha, generasi ini merupakan nama generasi bagi mereka yang lahir pada abad 21, atau sekitar tahun 2010-an hingga saat ini.
Dimulai sejak Generasi Milenial, perangkat keras seperti komputer, smartphones, gadget, video games, dan juga internet, sudah mulai booming, lalu berlanjut hingga sekarang. Semakin zaman berkembang, semakin berkembang pula peran digital di dunia ini. Generasi Z sendiri bahkan disebut pula sebagai generasi pertama yang ‘terlahir digital’, lalu untuk Generasi Alpha merupakan generasi yang sudah sangat akrab dengan teknologi digital.



Semakin meningkatnya intensitas penggunaan teknologi digital, semakin berkurang pula minat literasi bagi generasi masa kini. Karena, banyak sekali generasi masa kini yang lebih memilih video games dan juga console games dibanding membaca.
Padahal pada kenyataannya, menurut data UNESCO pada 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Yang mana artinya hanya ada 1 orang yang rajin membaca dari 1.000 orang Indonesia.

Bahkan, Indonesia sendiri berada di peringkat 60 dari 61 negara. Hanya 1 tingkat di atas peringkat terendah. Namun, akhirnya pada tahun 2018, berdasar pada hasil survei World Culture Index Score 2018, kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat secara signifikan. Indonesia menempati urutan ke-17 dari total 30 negara.

Sudah menjadi sebuah keharusan, informasi dan teknologi yang semakin berkembang diimbangi dengan minat baca yang semakin berkembang pula. Terlebih sekarang ini semua sudah lebih praktis. Kita tak perlu membawa buku-buku bacaan yang berat dan tebal jika ingin membaca, cukup unduh saja buku digital (e-book) pada smartphone masing-masing. Bahkan, ketika kita ingin meminjam sebuah buku di perpustakaan nasional misalnya, kita tak lagi perlu untuk datang langsung.

Unduh saja aplikasi perpusnas di gawai dan kamu bisa meminjam buku-buku yang ada dengan versi digital. Semuanya sudah sangat mudah memang di zaman yang serba canggih ini, namun, tetap hati-hati, jangan sampai kita sendiri yang dikendalikan oleh teknologi.

Pada zaman era digital seperti sekarang ini, literasi menjadi tantangan tersendiri bagi para generasi muda. Di mana literasi bukan lagi hanya sekadar kegiatan membaca sebuah buku, namun lebih mengarah kepada literasi media, yang mana cakupannya juga sudah menjadi lebih luas bahkan sangat luas. Tantangan yang cukup berarti bagi Generasi Masa Kini dalam era literasi digital adalah diujinya kemampuan mereka dalam meyerap informasi dalam arti yang sebenarnya.

Seperti yang kita ketahui, pada saat ini, arus informasi penyebarannya semakin pesat, semakin cepat, yang mana artinya pesat pula penyebaran informasi yang belum tentu benar adanya (hoax). Jika dilihat dari hal tersebut bisa dikatakan bahwa yang menjadi tantangan utamanya adalah kemampuan para generasi muda, generasi masa kini, untuk dapat memahami maskud dari semua informasi yang didapatkan.

Tentu saja dengan melakukan peninjauan terhadap informasi tersebut dan tidak ditelan mentah-mentah begitu saja. Jika dibandingkan dengan menulis atau membaca, memahami dan mengerti memang lebih sulit ‘kan.
Pada saat ini, terlebih di masa pandemi seperti sekarang. Membaca dan menulis menjadi sebuah kegiatan yang digemari oleh para generasi masa kini. Bisa dilihat dari banyaknya penulis-penulis baru dari Generasi Z yang bermunculan dengan karya-karya yang luar biasa bagusnya, yang akhirnya menarik minat para Generasi Z untuk mulai membaca, membaca dan membaca. Sebagai contoh, kita bisa ambil penulis dengan nama pena Rintiksedu.

Rintiksedu sendiri merupakan sebuah penulis yang bisa dikategorikan sebagai penulis baru, namun, memiliki pembaca yang jumlahnya lebih dari 2.000.000 orang. Bukankah hal tersebut merupakan hal yang luar biasa? Dengan satu orang penulis dan jutaan pembaca, tentu kita mampu untuk menaikkan peringkat Indonesia dalam hal literasi. Itu hanya dari satu penulis, bagaimana dengan penulis-penulis lain juga para pembacanya? Tentu kita bisa mendobrak lagi peringkat literasi negara kita ini.

Seperti yang sudah saya katakan di atas. Tantangan literasi bagi kita para generasi masa kini bukan hanya tentang membaca dan menulis. Tetapi, tentang, bagaimana kemampuan kita dalam memilih serta memilah seluruh informasi yang kita dapatkan agar kita tidak terbawa oleh berita-berita bohong.

Kita perlu untuk melek dan membuka mata dalam hal literasi teknologi. Karena, jika kita tidak mampu melek dalam hal tersebut, maka akan sangat mudah kita dikuasai, diakali oleh teknologi. Jadi, berhati-hati. Jangan sampai kita yang dikuasai oleh yang namanya teknologi.

(***)