PUSAT Kota Serang bukan hanya ruang modern dengan gedung-gedung pemerintahan dan pusat bisnis, tetapi juga panggung sejarah yang menyimpan jejak kolonial. Di sekitar Alun-alun Serang, berdiri bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan kota sejak abad ke-19. Arsitektur megah, warna tembok yang pudar dimakan usia, hingga lorong-lorong sunyi di sela bangunan, semuanya menawarkan pengalaman wisata sejarah yang kaya dan mendalam.
Berikut adalah lima bangunan warisan kolonial yang dapat Anda temui hanya dengan berjalan kaki dari sekitar kawasan Royal Baroe atau Alun-alun Serang—tiap bangunan menyimpan narasi unik tentang bagaimana kota ini dibangun, ditata, dan tumbuh.
1. Gedung Juang 45 – Saksi Diam Masa Perang dan Kemerdekaan
Gedung Juang 45 adalah salah satu bangunan kolonial paling ikonik di pusat Serang. Pada masa Hindia Belanda, bangunan ini berfungsi sebagai barak militer—tempat serdadu Belanda bermarkas, berlatih, dan mengatur strategi. Struktur bangunannya dibuat kokoh dengan tembok tebal dan jendela besar yang menjadi ciri khas gedung kolonial fungsional.
Memasuki masa pendudukan Jepang, gedung ini berubah drastis: ia dijadikan markas Kempetai, polisi militer Jepang yang dikenal keras. Aura sejarah tempat ini begitu pekat; bayangkan saja, di dalam bangunan inilah banyak keputusan militer penting diambil, beberapa di antaranya menentukan nasib rakyat Serang kala itu.
Kini, Gedung Juang 45 dialihfungsikan sebagai ruang publik dan cagar budaya. Banyak kegiatan seni, pameran, hingga diskusi kebudayaan dilakukan di sini. Wisatawan yang datang biasanya terpikat oleh suasana vintage yang kuat—temboknya yang mulai kusam justru memberikan kesan dramatis dan fotogenik untuk konten perjalanan.
2. Gedung Negara – Jejak Residen Belanda yang Jadi Pendopo Gubernur
Berlokasi tepat di samping Alun-alun, Barat Kota Serang bangunan yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Gubernur Banten dulunya merupakan Kantor Residen Banten, salah satu kantor pemerintahan terpenting kolonial Belanda di wilayah ini. Dibangun dengan gaya arsitektur Indische Empire, gedung ini dirancang untuk melambangkan kekuasaan kolonial: tinggi, luas, dan berwibawa.
Memasuki areal gedung ini, Anda diajak menelusuri sejarah panjang Banten pada masa kolonial. Di bangunan ini masih terdapat beberapa bangunan yang dulu berfungsi sebagai kantor pemerintahan masa keresidenan. Di sini juga terdapat bekas bangunan penjara.
Cerita horor urban legend ‘Noni Belanda’ yang kerap menampakan diri menambah seru tentang keberadaan gedung tersebut. Gedung ini pernah pula difungsikan sebagai Museum Negeri Banten namun saat ini digunakan sebagai pendopo untuk kegiatan pemerintahan dan di belakangnya dijadikan rumah dinas gubernur.
3. Gedung Polres Serang (Ex-OSVIA) – Sekolah Calon Birokrat Hindia Belanda
Tidak banyak yang menyadari bahwa gedung Polresta Serang Kota saat ini dulunya adalah OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren). Ini adalah sekolah khusus yang dibangun Belanda untuk mendidik calon pejabat pribumi—orang-orang Indonesia yang disiapkan untuk membantu menjalankan birokrasi kolonial.
Bangunannya khas pendidikan kolonial: sederhana namun berwibawa, dengan dinding putih tebal, struktur simetris, dan koridor panjang yang sejuk berkat ventilasi besar. Di masa kejayaannya, OSVIA adalah simbol status; tidak sembarang orang bisa bersekolah di sini. Mereka yang lulus umumnya menjadi pegawai pemerintah kolonial, guru, atau pejabat daerah.
Kini gedung ini digunakan sebagai kantor kepolisian, tetapi bentuk aslinya masih sangat terasa. Wisatawan yang mengamati dari luar dapat membayangkan bagaimana suasana pendidikan kolonial berlangsung lebih dari seabad lalu—di sini, para pemuda pribumi membaca buku hukum, mempelajari tata administrasi, dan dipersiapkan untuk menjadi pegawai pemerintah Belanda.
4. Markas Korem 064/Maulana Yusuf – Warisan Sekolah Guru dari Abad ke-19
Tidak jauh dari Royal Baroe, berdiri bangunan besar yang dahulu dikenal sebagai Normaal School, sebuah sekolah guru pada masa kolonial. Sekolah ini menjadi pusat pendidikan penting pada zamannya, melahirkan guru-guru yang ditempatkan di berbagai wilayah Banten dan sekitarnya.
Arsitekturnya sangat khas era Hindia Belanda: bangunan memanjang dengan jendela tinggi, memiliki atap besar, dan dilengkapi ventilasi lebar untuk menghadapi iklim tropis. Pada bagian fasad, wisatawan masih bisa melihat struktur bangunan klasik yang dipertahankan hingga kini.
Meskipun kini menjadi area militer—Markas Korem 064/Maulana Yusuf—Anda tetap bisa menikmati tampilan luarnya. Banyak yang berhenti sejenak untuk mengambil foto sambil membayangkan bagaimana riuhnya suasana sekolah guru di masa lalu. Dari sinilah lahir banyak tenaga pendidik yang kemudian menyebarkan ilmu ke kampung-kampung di Banten.
5. Pendopo Bupati Serang – Elegansi Kolonial di Tengah Kota
Bangunan pendopo mungkin identik dengan gaya tradisional Jawa, tetapi Pendopo Bupati Serang adalah perpaduan unik antara arsitektur lokal dan kolonial. Pada masa belanda, bangunan ini difungsikan sebagai kantor pemerintahan, lengkap dengan tiang-tiang besar yang melambangkan kekuasaan dan stabilitas.
Fasadnya luas dan terbuka, menonjolkan arsitektur tropis kolonial yang dibuat untuk sirkulasi udara optimal. Jika dikunjungi pada sore hari, cahaya matahari yang jatuh melalui tiang-tiang besar dan lantai yang mengilap menciptakan pemandangan yang sangat indah dan fotogenik. Banyak wisatawan menjadikan spot ini sebagai latar foto karena atmosfer klasiknya.
Pendopo masih aktif digunakan untuk kegiatan pemerintahan maupun acara seremonial, menjadikannya bagian penting dari kehidupan Kota Serang hingga hari ini.
Tim Redaksi
