Beranda Opini Libur Panjang dengan Harapan yang Tidak Normal

Libur Panjang dengan Harapan yang Tidak Normal

Sugiyarto.S.E.,M.M Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Oleh: Sugiyarto.S.E.,M.M, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Sebelum masa pendemi covid-19, musim libur panjang seperti saat ini, banyak di manfaatkan oleh masyarakat untuk liburan bersama keluarga. Kebiasaan masyarakat modern dalam menyambut libur panjang selalu di manfaatkan secara maksimum bersama dengan keluarga. Tidak terlepas seprti libur akhir pekan yang selalu lebih banyak dimanfaatkan untuk liburan bersama untuk menghilangkan rasa jenuh setelah menjalani rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Banyak cara yang bisa digunakan oleh masyarakat modern dalam mengisi libur akhir pekan, ada yang sekedar makan bersama keluarga di pusat perbelanjaan, atau sekedar jalan di pusat perbelanjaan. Bagi masyarakat tertentu yang memiliki budget lebih dari cukup liburan bisa di sisi dengan keluar kota untuk menikmati indahnya alam Indonesia. Namun bagi sebagian masyarakat kelas bawah, liburan akhir pekan cukup diisi dengan jalan sore di lingkungan komplek perumahan sambil makan cilok yang dijual di sepanjang jalan komplek perumahan.





Namun semenjak pandemi covid-19 hampir seluruh masyarakat takut untuk keluar rumah, namun tidak sedikit yang berani bahkan tidak menghiraukan anjuran pemerintah untuk selalu menjalankan protokol kesehatan dalam menjalankan kehidupan normal baru. Itulah kondisi masyarakat kita di lapangan.
Kalau kita pergi belanja kebutuhan pokok di pusat perbelanjaan modern, kita bisa melihat hampir sebagian besar pengunjung sudah terbiasa hidup dengan menggunakan masker dan terbiasa dengan normal baru. Artinya untuk masyarakat menengah ke atas tingkat kesadaran dalam menjalankan protokol kesehatan sudah cukup baik. Gerai makanan yang sudah operasional di pusat perbelanjaan mulai ramai pada akhir pekan dan konsisten menerapkan protokol kesehatan terhadap pengunjung.

Kita tidak boleh takut untuk melakukan aktivitas dengan kondisi kehidupan normal baru. Semua harus disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari – hari. Selain oleh raga secara teratur, pola makan sehat dengan mengkonsumsi sayuran, buah dan makan lain yang banyak mengandung protein. Seorang pemain sepak bola sekelas Ronaldo yang secara umum sudah pasti sehat dengan kondisi phisiknya yang selalu prima, masih bisa terkena Covid-19, apalagi masyarakat umum yang masih kurang peduli terhadap kesehatan dirinya, maka akan lebih mudah terpapar covid-19.

Kita juga mengetahui pembalap motor GP legendaris Valentino Rosi, juga terpapar covid-19 sehingga harus rela dirinya tidak bisa mengikuti balapan motor GP di beberapa seri.
Libur panjang yang menjadi ketetapan pemerintah selama lima hari, banyak mengundang perdebatan banyak pihak, bahkan ada yang meramalkan akan terjadinya kenaikan penderita covid19 pasca libur panjang nanti. Bahkan di beberapa wilayah tujuan wisata melakukan rapid test kepada pengunjung dan ada beberapa pengunjung yang di nyatakan hasilnya reaktif.

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan terlihat dari cara masyarakat dalam melakukan perjalan keluar kota. Hal ini tentu membuat kita semua sedikit senang dan memberikan harapan yang baik bagi kita semua. Bagi pelaku usaha kecil libur panjang adalah harapan untuk mendapatakan rezeki keberuntungan dengan kembali berjualan. Walaupun kesadaran para pedagang dalam menjalankan protokol kesehatan masih rendah, menjadi tantangan bagi kita semua untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan bersama.

Para pelaku usaha kecil ini sebagian besar tinggal di kontrakan dengan berkelompok di daerah tertentu. Sebenarnya sangat mudah dalam mengarahkan pedagang dengan di berikan penyuluhan secara teratur apparat atau relawan pentingnya menggunakan masker dalam berjualan. Perlu di berikan penjelasan kepada para pedagang bahwa pembeli dagangan mereka adalah masyarakat yang sudah memiliki pemahaman yang baik dalam kehidupan normal baru. Ada rasa kawatir dari pembeli untuk membeli barang dagangan mereka jika penjual atau pelayannya tidak menggunakan masker atau tidak menyediakan tempat cuci tangan.

Jika kita mampu memberikan pemahaman yang baik kepada pelaku usaha kecil ini, maka peputaran ekonomi dengan menggerakan pelaku UMKM yang jumlahnya mencapai 60 jutaan ini bisa memutar roda perekonomian negara kita.
Banyak orang yang bisa membuat produk namun tidak mampu menjual. Begitu juga sebaliknya, banyak orang pandai menjual produk , namun tidak bisa membuat produk yang berkwalitas.

Seorang pedagang harus memiliki data riset terkait dengan prilaku pasar, termasuk kebiasaan masyarakat pada musim libur panjang suka berbelanja apa. Selain harga, pedagang harus mengamati prilaku pembeli selama pendemi covid-19 apakah mereka berbelanja pada pedagan yang penjual dan pelayannya mengggunakan masker ? Hal ini penting untuk diketahui oleh pelaku usaha kecil agar kepercayaan pembeli terhadap produk yang kita jual terjaga dengan baik.

Para pelaku usaha kecil juga bisa belajar kepada pelaku usaha modern dipusat perbelanjaan bagaimana mereka menerapkan protokol kesehatan yang ketat kepada karyawan untuk menggunakan masker dan face shield yang bisa membuat para penhunjung merasa nyaman. Masyarakat sejatinya ingin kehidupan berjalan normal seperti biasa, namun normalnya kehidupan baru dalam kondisi pandemic covid-19 adalah kehidupan yang kita jalani dalam kondisi seperti saat ini.

(***)