PANDEGLANG – Di sebuah meja di Posko Dermaga Marina Carita, foto delapan orang berdiri di antara bunga-bunga putih dan beberapa carik pesan yang ditulis dengan tangan.
Salah satu kertas hijau muda itu berisi pesan singkat. “Bagus pulang, kita janji bacakan masak taucho di rumah.” Kalimat sederhana itu menjadi penanda sebuah penantian yang belum selesai.
Kalimat lain, “meski jasadnya belum ditemukan, karyamu akan terus dikenang!”
Delapan orang dalam foto itu mengenakan pelampung. Mereka berdiri bersama dengan latar Gunung Anak Krakatau (GAK).
Tidak ada yang istimewa dari benda-benda di atas meja itu. Foto, bunga, dan beberapa lembar kertas kecil. Namun bagi keluarga, semuanya menyimpan kenangan tentang orang-orang yang selama sepuluh hari terakhir mereka tunggu kepulangannya.
Sepuluh hari pencarian Arupadathu 01 berakhir tanpa menemukan kapal tersebut. Tim SAR gabungan telah menyisir perairan Selat Sunda selama tujuh hari, kemudian memperpanjang operasi selama tiga hari.
Sejumlah wilayah laut diperiksa. Pulau-pulau ditelusuri. Helikopter dikerahkan untuk memantau dari udara. Namun Arupadathu 01 tak kunjung ditemukan. Delapan orang yang berada di dalam kapal itu juga belum diketahui keberadaannya.
Pada Kamis (17/9/2026), operasi pencarian resmi dihentikan. Keputusan tersebut disampaikan Gubernur Banten Andra Soni setelah rapat evaluasi bersama Tim SAR di Posko Dermaga Marina Carita.

“Setelah masa pencarian perpanjangan, pihak Basarnas menyampaikan bahwa operasi gabungan ini oleh pihak yang memiliki kewenangan dihentikan,” kata Andra saat konferensi pers.
Selama pencarian, tim SAR menemukan 13 objek di laut. Beberapa di antaranya berupa terpal dan jaket pelampung.
Satu per satu benda tersebut diperiksa untuk memastikan apakah memiliki kaitan dengan Arupadathu 01. Hasilnya, tidak ada satu pun yang dinyatakan berkaitan dengan kapal tersebut.
Bagi Tim SAR, pencarian telah selesai sesuai prosedur. Bagi keluarga, justru di titik itulah penantian terasa semakin panjang.
Foto yang Belum Dibawa Pulang
Desi Purnamasari datang dalam rapat evaluasi pencarian. Ia adalah istri jurnalis foto Antara, Bagus Khoirunnas, salah satu dari delapan orang yang berada di Arupadathu 01.
Di hadapan tim SAR dan pemerintah, Desi menyampaikan permintaan keluarga agar pencarian diperpanjang. Ia meminta sejumlah pulau di wilayah Banten dan Lampung kembali diperiksa. Menurut keluarga, masih ada beberapa lokasi yang perlu ditelusuri lebih jauh.
Di antaranya Pulau Tinjil Besar, Tinjil Kecil, Panjurit, Kandang Lunik, Kandang Balak, Pulau Penyu, Panaitan, Sebuku, dan Handeuleum.
“Saya berharap proses pencarian ini diperpanjang dan lebih dimaksimalkan lagi. Mungkin memang sebelumnya sudah sangat maksimal, tapi mungkin ada beberapa wilayah atau pulau yang belum tersentuh,” kata Desi.
Ia berharap lokasi-lokasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk pencarian lanjutan. “Karena kami dari pihak keluarga sangat berharap dan yakin mereka pasti bisa ditemukan,” ujarnya.
Desi dan keluarga korban lain tidak sekadar menunggu. Mereka mencoba memetakan kemungkinan lokasi yang perlu diperiksa kembali.
Untuk Pulau Tinjil Besar dan Tinjil Kecil, misalnya, Desi meminta penyisiran dilakukan dari arah selatan Binuangeun.
Wilayah Lampung juga menjadi perhatian keluarga. Desi menyebut Pulau Panjurit, Kandang Lunik, Kandang Balak, dan Pulau Penyu. Ia juga meminta kawasan Panaitan, Sebuku, dan Handeuleum kembali diperiksa.
Bukan hanya laut di sekitar pulau yang ingin ditelusuri. Desi meminta tim turun langsung ke daratan dan memeriksa bagian dalam pulau.
“Izin Pak, untuk proses pengecekan pulau, kami juga memohon untuk proses pengecekannya dapat dilakukan langsung turun ke pulaunya, langsung menyusuri setiap pulau. Untuk dicek ke dalam pulau,” ujarnya.
Harapan itu disampaikan ketika tambahan waktu pencarian selama tiga hari telah mencapai batasnya.
Laut yang Belum Memberi Jawaban
Arupadathu 01 sebelumnya berangkat membawa lima jurnalis dan tiga awak untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kapal tersebut kemudian hilang kontak. Sejak saat itu, laut Selat Sunda menjadi ruang pencarian yang luas.
Tim SAR gabungan bergerak dari berbagai arah. Kapal menyisir perairan. Helikopter mengamati dari udara. Sejumlah pulau diperiksa.
Tetapi laut belum memberikan jawaban.
Hingga hari terakhir operasi, tidak ada tanda yang dapat memastikan keberadaan Arupadathu 01 dan delapan orang di dalamnya.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menjelaskan bahwa operasi SAR memiliki batas waktu sesuai prosedur.
Pencarian dilakukan selama tujuh hari. Jika diperlukan, operasi dapat diperpanjang selama tiga hari.
Setelah masa tersebut berakhir dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi SAR dihentikan.
Namun penghentian operasi bukan berarti pencarian informasi berhenti.
Basarnas akan melanjutkan pemantauan melalui penyebaran informasi kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda.
Informasi juga disampaikan kepada unsur TNI Angkatan Laut dan Polairud yang melakukan patroli di wilayah tersebut.
“Kalau kami dalam hal pencarian dan pertolongan, SOP kami tujuh hari. Setelah itu ada permintaan perpanjangan tiga hari. Kalau tidak ada tanda-tanda korban ditemukan, operasi SAR kita hentikan dan kita lanjutkan broadcast dan pemapelan,” kata Al Amrad.
Penantian yang Belum Selesai
Operasi pencarian memang telah dihentikan. Kapal-kapal SAR meninggalkan satu per satu wilayah pencarian. Posko tidak lagi menjadi pusat pengerahan operasi seperti sepuluh hari sebelumnya.
Namun bagi keluarga, tidak ada kata selesai. Di sebuah meja, foto delapan orang itu masih berdiri.
Bunga-bunga putih masih berada di depannya. Dan secarik kertas hijau muda masih menyimpan sebuah pesan yang terasa sederhana, tetapi begitu dalam bagi orang yang menunggunya.
Sepuluh hari telah berlalu. Pencarian resmi berakhir.
Tetapi bagi keluarga Arupadathu 01, harapan untuk melihat mereka pulang belum berakhir.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Wahyudin
