SERANG — Suasana duka menyelmuti kediaman keluarga Hamrah (80) warga Kelurahan Kaligandu, Kota Serang, yang tewas tertimpa material bangunan rumah yang roboh, Minggu (1/2/2026) petang.
Peristiwa tragis itu terjadi saat korban berada seorang diri di dalam rumah yang berlokasi di RT 02 RW 19, Kecamatan Serang. Saat kejadian, keluarga korban diketahui tengah bersiap melaksanakan salat Magrib.
Anak korban, Rohmat mengungkapkan, ayahnya telah lebih dulu berangkat ke masjid, sementara ibunya berniat mengambil air wudu.
“Ibu baru mau masuk ke dalam rumah, tiba-tiba bangunannya langsung roboh,” ujar Rohmat, Senin (2/2/2026).
Menurut Rohmat, korban ditemukan dalam kondisi tertimpa reruntuhan bangunan. Posisi tubuhnya terlentang dan sedikit miring, dengan bagian dinding dan atap rumah menimpa tubuh korban.
“Bagian itu yang langsung ketimpa,” ujarnya.
Rumah tersebut dihuni oleh tiga anggota keluarga. Selain merenggut korban jiwa, robohnya bangunan juga berdampak pada rumah tetangga di sisi samping.
“Rumah sebelah ikut terdampak. Dindingnya retak, tapi tidak ada korban lain,” ujarnya.
Warga sekitar yang mendengar suara runtuhan keras langsung berdatangan ke lokasi dan berupaya mengevakuasi korban dari puing-puing bangunan.
Korban sempat ditemukan dalam kondisi masih bernapas dan segera dilarikan ke klinik terdekat. Namun, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia sebelum mendapat penanganan medis.
Salah seorang tetangga korban, Hubaidillah, mengatakan suara robohan terdengar sangat keras hingga membuat warga panik.
“Tiba-tiba terdengar suara keras. Kami langsung keluar rumah dan melihat rumah Bu Hamrah sudah roboh,” ujarnya.
Hubaidillah mengaku rumahnya turut terdampak akibat reruntuhan bangunan korban.
“Dinding rumah saya retak, terutama di bagian yang berbatasan langsung,” katanya.
Meski begitu, ia memastikan tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban. “Alhamdulillah hanya bangunan yang rusak,” ucapnya.
Sementara itu, Camat Serang Basuni mengatakan, kondisi rumah korban memang sudah tidak layak huni. Bangunan tersebut terbuat dari bata mentah yang belum disemen secara permanen, sehingga sangat rentan roboh, terlebih saat musim hujan.
“Bangunan hanya dari bata mentah dicampur kapur dan sedikit semen, ditambah hujan lebat beberapa minggu terakhir,” jelasnya.
Basuni menambahkan, sepanjang musim penghujan tahun ini hampir 10 rumah di wilayah Kecamatan Serang mengalami kerusakan hingga roboh akibat cuaca ekstrem dan kondisi bangunan yang rapuh.
Pasca kejadian, pihak kecamatan bersama BPBD, Dinas Sosial, serta Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Serang langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan identifikasi.
“Pada malam kejadian seluruh unsur langsung ke lokasi untuk pendataan rumah dan korban,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak kecamatan menginstruksikan lurah serta RT dan RW untuk segera mendata rumah-rumah tidak layak huni di wilayah masing-masing.
“Kami minta jangan menunggu sampai terjadi roboh. Rumah yang tidak layak huni harus segera dilaporkan,” ujarnya.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
