Beranda Opini Kurikulum dalam Perubahan Zaman

Kurikulum dalam Perubahan Zaman

Ilustrasi - foto istimewa

Oleh Mayang Santika Dewi

Dunia berkembang dan berubah sangat pesat. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi mampu mengubah lahan kosong menjadi gedung-gedung pencakar langit, mengubah pedesaan menjadi perkotaan, bahkan mampu memindahkan ibu kota dengan berbagai kompleksitasnya. Semua serba terburu-buru, tergesa, tak menunggu kesiapan. Begitu pula dalam ranah pendidikan.

Kurikulum berubah memacu praktisi pendidikan bergegas menemukan fomula terbaik mengembangkan pendidikan untuk generasi kini dan masa depan. Lagi-lagi tak menunggu kesiapan, pascapulih dari wabah covid-19, perubahan pembelajaran daring menyambut luring, dan peralihan Kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka begitu tergesa. Kurikulum yang terus berubah-ubah sebagaiamana jabatan yang tergantikan mengakibatkan praktisi pendidikan antipati terhadap kurikulum.

Penyesuaian dengan setiap perubahan tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, namun kurikulum tidak dapat dipergunakan dalam satu waktu secara terus menerus. Merumuskan kurikulum yang ajek namun fleksibel sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman perlu dilakukan. Kurikulum perlu diubah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

Harapan dari pendidikan agar peserta didik mampu mengembangkan potensi mereka yang sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa depan. Sebagaimana zaman yang terus berubah, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi mengalami perkembangan yang pesat, dan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam menyikapi perubahan tersebut haruslah berkembang maka pendidikan dalam membentuk peserta didik haruslah disesuaikan dengan keadaan saat ini.

Seperti ungkapan Ki Hajar Dewantara “Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat”.

Saat ini, majunya tekhnologi dan informasi membuka peluang beragam profesi baru. Profesi-profesi yang membutuhkan kreatifitas tinggi sangat digandrungi orang-orang masa kini. Merujuk hal tersebut, pendidikan adalah langkah awal mempersiapkan generasi masa depan yang mampu bersaing dengan zamannya. Proses belajar akan lebih optimal jika peserta didik belajar dari keadaan nyata yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu, kurikulum harus dapat digunakan secara fleksibel.

Untuk menyikapi kurikulum yang terus berubah, pendidik harus mempelajari dan memahami tujuan dari kurikulum tersebut agar pencapaian yang diharapkan dapat terlaksana dengan optimal. Pendidik harus mampu menyadari bahwa setiap perubahan membutuhkan perlakuan yang berbeda. Kurikulum yang berubah mengharuskan pendidik kembali belajar dan terus belajar menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan perubahan kebutuhan peserta didik. Pendidik harus mampu menjadi penggerak menumbuhkan kesadaran belajar peserta didik. Sebagai fasilitator dan eksekutor, pendidik diharapkan mampu menyentuh rasa ingin tahu dan membuka kesadaran peserta didik dalam berpikir kritis.

Maka belajar tidak hanya terjadi pada peserta didik, tapi dalam hal ini pendidik juga melakukan pembelajaran mengenali keadaan peserta didik, memahami keadaan lingkungan belajar, dan memahami kebutuhan zaman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar memiliki tiga makna, yakni: 1. berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2. berlatih; 3. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dalam pengertian 1 dan 2 belajar merupakan proses yang sederhana, namun pada ‘perubahan tingkah laku oleh pengalaman’, pembelajaran menjadi proses yang kompleks.

Belajar tidak hanya terjadi dalam lingkungan kelas, namun juga harus berlangsung kehidupan peserta didik dalam menghimpun pengalaman-pengalaman belajar, maka menumbuhkan rasa ingin tahu dan membuka kesadaran berpikir kritis bagi peserta didik sangat perlu dilakukan oleh pendidik. Belajar tidak lagi terkurung dalam kelas terbatas buku dan pena. Belajar mestinya terjadi dari hati untuk pengembangan diri. Seperti kutipan Albert Einstein, “jangan pernah menganggap belajar sebagai tugas, tapi anggaplah sebagai kesempatan berharga untuk mempelajari sesuatu”.

Penulis adalah guru di SMAN 6 Tangerang dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.