Beranda Pilkada Serentak 2020 Kultur Masyarakat dan Pola Komunikasi Politik Jadi Kunci Kemenangan Calon Kepala Daerah...

Kultur Masyarakat dan Pola Komunikasi Politik Jadi Kunci Kemenangan Calon Kepala Daerah di Banten

Ilustrasi - foto istimewa google.com

SERANG – Hasil hitung cepat Pilkada 2020 di empat wilayah Provinsi Banten menggambarkan rasionalitas masyarakat dalam menentukan pilihan. Hal itu berkaitan dengan kultur wilayah dan pola komunikasi politik calon untuk memenangkan hati masyarakat di dalamnya.

Jika dibuat klaster kultural, masyarakat di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang menempati posisi masyarakat rural pedesaan yang masih kuat terikat kehidupan komunal pedesaan. Sedangkan masyarakat untuk wilayah Kota Cilegon dan Kota Tangerang Selatan lebih cenderung bercorak urban perkotaan.

Dua kultur masyarakat tersebut menurut Akademisi Bidang Komunikasi Politik, Abdul Malik akan mempengaruhi komunikasi politik yang digunakan calon untuk menggaet pilihan masyarakat. “Masyarakat Cilegon dan Tangsel bagaimanapun masyarakat yang urban pola komunikasi politiknya berbeda dengan misalnya Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang,” kata Malik berbincang dengan BantenNews.co.id, Jumat (11/12/2020).

Pendekatan yang tepat menjadi kunci keberhasilan calon kepala daerah di wilayah tertentu. Ratu Tatu Chasanah dan Irna Narulita yang sudah menjabat kepala daerah sudah membangun komunikasi politik dengan masyarakat.

“Kunjungan kedinasan menjadi ajang membangun kedekatan emosional dan investasi yang luar biasa bagi keduanya. Tidak bisa dilakukan oleh pasangan yang baru dipasangkan dalam beberapa bulan saja menjelang Pilkada,” ujar Malik.

Komunikasi politik yang dilakukan oleh kandidat penantang di dua daerah tersebut cenderung massif dan instan. Malik melihat berbeda kasus dengan pasangan Helldy dan Sanuji. Sebagai petarung lama, Helldy bukan kali pertama mencalonkan diri di kota yang dijuluki Kota Baja itu.

“Helldy sejak dulu sudah membangun komunikasi politik dan itu diingat oleh ruang pikir masyarakat. Mumu (Ali Mujahidin) sudah dikenal tapi gagasannya bisa jadi belum cukup menjual. Sementara yang lain di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang baru belakangan hari melakukan komunikasi politik,” tandas Malik.

Di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), faktor kemenangan karena meleknya teknologi informasi masyarakat dan investasi sosial Benyamin Davnie selama mendampingi kepemimpinan Airin Rachmi Diany.

“Benyamin punya track record yang baik di pemerintahan. Itu cukup memberikan keyakinan masyarakat bahwa Benyamin bisa melaksanakan tugas dan kepemimpinannya. Apalagi bagi saya melihat selama Airin menjabat Walikota Tangsel relatif tidak ada masalah. Ini investasi sosial dan kultural bagi Benyamin,” ujar Dekan di Kampus Universitas Serang Raya tersebut.

Di sisi lain isu korupsi dan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap petinggi partai Gerindra terkait benih lobster atau benur menjadikan masyarakat Tangsel berpikir ulang untuk menjatuhkan pilihan kepada Muhamad dan Saras.

“Masyarakat Tangsel ini masyarakat urban yang punya akses informasi cepat dan membuat pemilih lebih rasional. Sangat hati-hati dengan berbagai isu. Sangat mungkin hasil surveinya berimbang tapi gara-gara kasus benur kemudian masyarakat antipati dengan partai,” jelasnya.

Di sisi lain, sosok tokoh besar seperti Wakil Presiden Maa’ruf Amin dan Prabowo Subianto tidak tegak lurus dengan dukungan masyarakat kepada Siti Nur Azizah dan Saras yang merupakan anak kandung dan keponakan tokoh besar tersebut. “Anak Wapres mencalonkan tapi tidak mendongkrak suara, begitu juga Sara, yang dikagumi kan Prabowonya. Maka yang bermain adalah rasionalitas pemilih,” paparnya.

Di Kota Cilegon, menurut Hamid, pasangan calon yang menawarkan gagasan yang usang akan ditinggalkan pemilih yang bercorak urban, dinamis dan kritis.

“Ditambah lagi jumlah pasangannya banyak. Pola kepemimpinan sejak zaman Pak Tb Aat Syafaat hingga Ati Marliati cenderung sama pola dan modelnya masyarakat bisa jadi jenuh sehingga masyarakat mencari alternatif yang mewaliki selera masyarakatnya, khususnya kelas menengah. Kebetulan Helldy – Sanuji cukup memberikan gagasan yang berbeda dari kandidat lain,” ujar Malik.

Berbeda cerita, kata Malik, jika Pilkada Kota Cilegon hanya menghadirkan dua pasangan calon yakni Ati Marliati berhadapan dengan Helldy Agustian. “Ati punya peluang menang lebih besar.” Isu dinasti di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, menurut hemat dia, bisa jadi menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.

“Tapi masalahnya tidak ada pilihan lain karena kandidat lain minim pengalaman. Daripada memilih pasangan lain yang belum terbukti dan teruji masyarakat tidak ambil risiko. Masyarakat saya rasa juga cerdas dalam menentukan pilihannya.”

Pasangan Ulum – Eki dan Toni – Imat misalnya, belum punya pengalaman di birokrat. Di sisi lain masyarakat sudah merasakan ada pembangunan jalan di Kabupaten Serang hingga ke pelosok.

“Bu Tatu sudah membuktikan dan Pandji juga sudah punya pengalaman. Demikian juga di Pandeglang, Irna punya rekam jejak, terlepas rekam jejaknya jelek dia punya pengalaman me-manage sebuah wilayah, ditambah lagi wakilnya masih Tanto. Daripada memilih Toni dan Imat.”

Mengenai pola mempengaruhi masyarakat, khususnya politik uang, Malik menilai dengan teknologi informasi yang kian luas membuat tim pemenangan lebih berhati-hati. Letupan temuan praktik politik uang akan cepat menyebar luas ke Gakkumdu dengan media sosial yang makin cepat.

“Makanya mereka sangat hati-hati, apalagi kalau terang-terangan money politic akan habis. Pola mempengaruhinya sangat berbeda. Pasanganpun ragu-ragu jadi ‘dewa mabok’ (tebar uang) karena khawatir ketahuan,” jelasnya.

Malik menambahkan, bahwa tidak ada yang salah dibalik keterpilihan kepala daerah di Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon dan Kota Tangsel. “Itu berdasarkan rasional masyarakatnya di masing-masing wilayah, kita tidak bisa menyalahkan,” jelasnya.

(You/red)