PANDEGLANG — Krisis air bersih masih menghantam Kabupaten Pandeglang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Pandeglang mencatat 27 kecamatan sudah meminta dan menerima bantuan air bersih sejak penanganan kekeringan dimulai Juni 2026.
Hingga Rabu (30/9/2026), BPBDPK Pandeglang telah mengirim sekitar 9.870 liter air ke sejumlah wilayah terdampak. Namun, permintaan warga masih terus berdatangan dan belum seluruhnya terlayani.
Sekretaris BPBDPK Pandeglang, Nana Mulyana mengatakan, salah satu distribusi terbaru menyasar Desa Banjar, Kecamatan Banjar, dengan volume sekitar 3.000 liter.
“Kurang lebih sudah 9.870 liter air yang kami distribusikan. Untuk saat ini di Kecamatan Banjar, tepatnya Desa Banjar, kami kirim sekitar 3.000 liter atau 3 kubik,” kata Nana.
Menurut Nana, hampir seluruh kecamatan sudah menerima bantuan. Namun, banyaknya permintaan membuat BPBDPK harus mengatur pengiriman secara bertahap.
“Kurang lebih sudah 27 kecamatan dan itu sudah seluruhnya mendapatkan bantuan air. Walaupun masih ada yang belum terkirim karena begitu banyak permintaan yang diberikan kepada BPBD,” ujarnya.
BPBDPK mulai menerima permintaan bantuan air sejak Juni 2026. Sampai sekarang, warga dari berbagai wilayah masih mengandalkan distribusi pemerintah karena sumber air semakin sulit.
Keterbatasan sumber air juga menghambat distribusi. Sejumlah depot pengisian yang biasa digunakan BPBDPK di Karang Tanjung, Labuan, dan Menes mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
“Depot pengisian air bersih yang ada itu terbatas. Ada di Karang Tanjung, Labuan dan Menes. Namun saat ini depot-depot itu juga sudah kesulitan untuk mengambil air,” kata Nana.
Persoalan lain datang dari keterbatasan armada. BPBDPK hanya memiliki tiga unit tangki untuk melayani permintaan di 27 kecamatan.
“Unit kita yang punya terbatas, ada tiga tangki. Namun demi pelayanan kepada masyarakat, kami berupaya yang penting masyarakat terlayani,” ujarnya.
Untuk mengejar kebutuhan distribusi, BPBDPK sementara mengalihfungsikan kendaraan dapur menjadi armada pengangkut air.
Kondisi ini menunjukkan penanganan kekeringan di Pandeglang tidak hanya menghadapi minimnya air, tetapi juga keterbatasan sumber pengisian dan armada distribusi.
BPBDPK mendapat informasi dari BMKG bahwa hujan kemungkinan mulai turun pada akhir November 2026. Namun, Nana menegaskan prediksi tersebut masih berupa perkiraan.
“Kalau informasi BMKG, dari rapat kemarin kami mendapatkan informasi sekitar akhir November sudah mulai hujan. Itu perkiraan,” pungkasnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
