Beranda Opini Kota Serang, The Spirit of Banten

Kota Serang, The Spirit of Banten

Kawasan Wisata Religi Banten Lama

Oleh: Ken Supriyono

Kota Serang genap berusia 13 tahun pada 10 Agustus 2020. Hari jadi yang istimewa karena senafas dengan gempitanya hari Kemerdekaan Indonesia, yang berselang sepekan. Kita patut merefleksikan, juga merayakan lewat ragam aktivitas dan yang menggugah spirit.

Hanya saja, hingga hari puncak, tidak tampak ada acara istimewa. Kecuali, seremonial paripurna tahunan yang diikuti pejabat pemerintahan di Gedung DPRD Kota Serang. Keikutsertaan rakyat pun hanya sebagian. Sekadar tamu undangan rapat tahunan, yang katanya paripurna istimewa. Keriuhan lainnya, disemarakan gelaran aksi mahasiswa, yang juga masih sebatas seremonial. Lalu, bubar jalan tanpa jejak, kecuali selfie.

Ketiadaan gemerlapnya hari jadi, bisa lantaran pandemi Covid-19. Dan itu, bisa jadi pem—benar—an. Toh, pandemi memang memaksa seluruh aktivitas berubah dari biasanya dan serba terbatas. Tapi, bagi yang berpikir ke depan, pandemi ini bisa menjadi momentum untuk kalibrasi ulang. Masa depan yang direncanakan bisa belok, dan harus dirancang ulang supaya tidak terlanjur salah arah.

Momentum hari jadi Kota Serang pun bisa menjadi titik balik. Agar perhelatan hari jadi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang biasa-biasa saja. Belum ada yang tampak dan terasa istimewa. Yang setiap puncaknya, hanya ada paripurna—istimewa—tahunan. Selebihnya, seremoni yang menyibukan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Serang.

Jika pun ada pawai di jalan protokol, atau Alun-alun Kota Serang, kita belum merasakan—pawai yang diklaim sebagai pawai budaya itu—. Pawai itu, masih sebatas arak-arakan mobil, yang dihias sedemikian rupa masing-masing perangkat aparat dari setiap dinas. Warga datang menonton, tapi tak terlibat secara langsung. Apalagi menangkapnya sebagai pesan kebudayaan.

Kota Serang secara administrasi, boleh dibilang baru 13 tahun. Usia yang baru memasuki fase remaja, masih dalam proses pencarian jatidiri. Tapi, kelahirannya tidak bisa dimaknai sebagai kelahiran sebuah kota baru an sich. Melainkan, kota yang dikukuhkan, sekaligus sebagai Ibukota Provinsi Banten. Status yang menempatkannya sebagai wajah, juga barometer Banten secara umum.

Meski masih remaja, Kota Serang sebagai jalan kebudayaan bisa disebut sebagai evolusi kelanjutan sejarah peradaban Banten. Kendati tidak mudah untuk menjelaskannya. Tapi warisan jejaknya masih dapat terlihat. Semua warisan itu berada dalam batas ruang administrasi wilayah Kota Serang. Tempat yang secara historis menjadi pusat peradaban Banten di masa lalu.

Keberadaan situs Banten Girang, di Kampung Telaya, Kelurahan Sempu-Kecamatan Serang adalah bukti sahihnya. Jejak yang menggambarkan potret kebudayaan, yang dalam pembabakan sejarah Banten disebut masa klasik Hindu-Budha atau pra-Islam.

Jejak itu pun pertalian dengan sahibul hikayat masa Kesultanan Banten, yang sebermula adalah vasal Pajajaran—pada lima abad silam—. Sampai tibalah Langkah Sunan Gunung Jati mengislamkan Banten pada 1525. Hingga Sang Sunan menobatkan sang Putra, Maulana Hasanuddin sebagai raja pada 1552. Sang wasangkarta (pemula) dari penguasa Banten masa Islam. Yang dalam daulatnya, pusat kekuasaan dari muara Sungai Cibanten, dipindahkan ke Surosowan–Banten Lama–, di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen.

Sedari awal, wilayah administrasi Kota Serang berada di antara eks Kawasan Banten Girang dan Kawasan Banten lama. Situs yang kini menjadi kawasan cagar budaya. Tempat yang bisa disebut menjadi persemaian jati diri kebudayaan Banten. Bahkan, hingga masa Pemerintah Hindia Belanda, dan pendudukan Jepang yang singkat sekalipun. Kota Serang tetap menempatkan diri sebagai pusat kota, dan pertumbuhan budaya dan sosial ekonomi.

Kiranya tidak berlebihan, jika Kota Serang mengklaim diri sebagai tanah-kota yang mewarisi kebudayaan Banten. Kota yang menjadi jiwa sekaligus spirit Banten. Terlebih, kelahiran Kota Serang juga sebagai tuntutan atas berdirinya Banten sebagai Provinsi, pada 4 Oktober 2000 lalu. Masa pemerintahan era millennium baru yang juga menempatkan pusat pemerintahannya di Kota Serang.

Penegasan kota yang mewarisi Banten dilukiskan pula dalam lambang kota Serang. Narasinya menyatakan, Kota Serang sebagai kegigihan dan ketahanan masyarakat Banten dalam menghadapi semua tantangan di masa depan.
Kalimat itu ditegaskan lagi secara simbolis dengan Gapura Kaibon. Simbol yang dinyatakan sebagai ciri khas Banten. Bagian dari sejarah Banten yang tidak terpisahkan dari Kota Serang. Gapura yang mengukuhkan posisi Kota Serang sebagai Ibukota Provinsi. Juga gapura yang menjadi pintu kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Banten di semua bidang. (Baca: Kota Serang).

Lambang tersebut juga menunjukkan karakter lingkungan alamnya yang merekflrsikan sifat tanah-air atau laut-daratan. Sifat lautan yang menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungan. Sifat lautan yang dalam keluasannya mampu menampung segala keragaman jenis dan ukuran.

Sementara, sifat tanahnya sebagaimana nama “Serang” sendiri. Hamparan ladang persawahan yang subur dan memberi sumber penghidupan. Tanah hijau yang melambangkan sumber daya alam wilayah pertanian dan kekayaan hortikultura sebagai kondisi dan potensi yang terkandung di dalamnya. Etos pertanian masyarakat yang bersifat religious dan gotong royong dalam meringankan penggarapan lahan secara bersama-sama.

Sifat religious dan sensitivitas kekeluargaan ini juga memijarkan daya etis dan estetis yang kuat. Maka, jadilah Kota Serang sebagai tanah-air warisan Banten. Warisan dari pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya, yang mengembangkan pelbagai corak kebudayaan. Taman sari kebudayaan yang makmur, kosmopolit, religius, tolerans, dan berselimut kekeluargaan dari beragama kelompok/golongan manusia yang mendiaminya.

Tiga belas tahun perjalanan Kota Serang memang semakin kompleks untuk dipahami secara keseluruhan. Banyak ragam bentuk kebudayaan dengan segala kompleksitasnya yang perlu diberi pemaknaan ulang. Apalagi, jika dilekatkan dalam rangkaian fase perkembangan kesejarahan Banten.

Dalam seluruh fase sejarah umat manusia, Arkeolog Ali Fadilah membahasakan, Banten adalah ruang dan waktu yang mewarisi berbagai peristiwa penting. Sekaligus, merefleksikan mentalitas dalam wujud gagasan, perilaku, budaya material. Semua itu, memberi karakter pada peradaban yang sebagian masih aktual dalam konteks modern atau kekinian.

Skema kronologis bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan juga sebuah bingkai budaya yang membalut dinamika masyarakatnya, dan tidak pernah berhenti mengalami transformasi. Nilai dan norma dalam warisan budaya itu menjadi penting dalam konteks kebangkitan era new society. Terlebih, di tengah-tengah pergaulan sekaligus pergumulan berbagai kelompok pembawa identitas yang kian majemuk.

Masalahnya, apakah Kota Serang dan warganya sebagai pewaris peradaban Banten, mampu mengaktualisasikan kembali berbagai fenomena sejarah itu masa kini? Jika tidak, sejarah hanya akan menjadi hantu. Bahkan, membuat kita menderita demam. Sejurus kemudian, hanya menjadikan kebesaran masa lalu menutupi kemampuan orang masa kini, untuk membangkitkan kemampuan menjadi besar.

Padahal, kita sebagai pewaris sekaligus pelanjut sejarah butuh pemaknaan baru, jalan irama, dan nada dasar menemukan identitas baru pada peradaban masa kini, juga masa depan. Karena itu, pengkajian, pelestarian, dan pemberdayaan warisan budaya mesti menjadi solusi fundamental.
Kota Serang yang konon masih dalam proses pencarian jati dirinya, bisa kembali menggali akar sejarah, dan kepribadian jati dirinya yang terkandung dalam buminya sendiri. Kita hanya butuh keberanian dan kesungguhan menyambungkan memori masa lalu dan menyambungkannya dengan imajinasi masa depan.

Momentum hari jadi bisa menjadi jalan merekonstruksi spirit dasar dari peradaban Banten tersebut. Yakni, menggali gagasan nilai-nilai Kebantenan menjadi lebih hidup, efektif, dan petunjuk tata kelola pemerintahan Kota Serang. Sejalan dengan itu pula, membangun kesadaran bersama agar warga Kota Serang berkembang di atas local wisdom atau dasar-dasar kebudayaannya sendiri.

Memang menggali, apalagi membumikan nilai-nilai yang lama terkubur bukan perkara sederhana. Butuh political will dari aparatur Pemerintah Kota Serang. Butuh kerja-kerja kognitif-saintifik dari para sejarawan, budayawan, dan intelektual pada lembaga pendidikan di Kota Serang. Butuh kerja-kerja ekspresif-estetis dari pelaku seni dan budaya. Juga kerja-kerja yang lebih praktis dalam mengkampanyekan nilai-nilai tersebut melalui berbagai kegiatan.

Pawai budaya pada hari jadi Kota Serang bisa menjadi salah satu agenda memulainya. Pawai yang sebelum-sebelumnya berisi arak-arakan mobil hias dinas, dapat digubah dengan pawai yang benar-benar memperlihatkan pelbagai corak kebudayaan Kota Serang.
Anggaran yang biasanya untuk menghias tiap mobil dinas itu, dapat dialihkan kepada sanggar/kelompok seni agar terlibat langsung dalam pawai budaya. Apalagi jika pelaku usaha kudapan/panganan yang khas Serang, dan elemen lainnya dapat ikut ambil bagian, menyajikan dalam puncak hari itu.
Bukan materi anggarannya yang menjadi ukurannya. Tapi, kebanggaan warga atas keterlibatan pada hari jadi kotanya sendiri. Hari jadi yang menjadi ruang partispasi sekaligus ekspresi pesta rakyat Kota Serang. Pesta yang diusung dari, oleh, dan untuk semua warga Kota Serang pada hari sejarah kelahirannya.

Mari kita ingat-ingat petuah Sultan Abdul Mufakir, “Wong Banten kudu ngagurat tapak leluhur. Aje sampe udan guru banjir ilmu, wong salah malah kaprah, wong bener ora lumrah.” “Orang Banten harus melacak peristiwa-peristiwa masa lalunya. Jangan sampai kita hari ini menghadirkan banyak guru dan belajar banyak ilmu, tapi orang berbuat salah semakin merajalela dan orang berbuat baik semakin terkubur.”

Jangan pula menjadikan sejarah sekadar potret dalam album masa lalu. Maka, ingatlah pula pepatah, “Gawe Kuta Baluwarti, Bata Kalawan Kawis.” Pepatah dari Sultan Maulana Yusuf, yang juga mengingatkan kita, bahwa kesadaran kemajuan dapat bertumpu pada apa yang alami (kawis, batu karang) dan hasil kreativitas (batu bata). Keduanya harus disambungkan, sebagaimana kita menyambungkan memori sejarah menjadi imajinasi masa depan.

Selamat hari jadi ke-13 tahun Kota Serang. Hari jadi/kelahiran di tengah pandemi ini bisa menjadi momentum mengkalibrasi pemikiran tentang jatidiri dan masa depan Kota Serang. Akan tetapi, semua butuh kesungguhan dari pemimpian atau aparatur pengambil kebijakan Pemerintahan Kota Serang. Perencanaannya harus benar-benar untuk masa depan masyarakat, bukan cukup sampai masa jabatan.

Sekali lagi, sejatinya Kota Serang adalah kota yang mewarisi jiwa dan spirit peradaban Banten. Tempat tumbuh kembangnya cipta (pikiran), rasa dan karsa (kemauan). Mari kita insyafi, kita rayakan, sekaligus memberi makna atas keberlanjutan sejarah dan jalan kebudayaan kota tempat kita berpijak. Salam bahagia.
*Penulis adalah Jurnalis penikmat kopi hitam/Koordinator Journalist Lecture