Beranda Kesehatan Sejak Lahir, Bayi Pengidap Hidrosefalus di Kota Serang Ini Butuh Uluran Tangan

Sejak Lahir, Bayi Pengidap Hidrosefalus di Kota Serang Ini Butuh Uluran Tangan

SERANG – Bocah berusia 9 tahun, Nurul warga Lingkungan Kaliwadas RT/RW 03/06 Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Kota Serang sejak lahir menderita hidrosefalus atau pembesaran kepala akibat penumpukan cairan di dalamnya. Penyakit yang dideritanya sampai saat ini belum ditangani oleh petugas medis karena keterbatasan biaya.

Sementara Tadjuddin (40) ayah Nurul hanya seorang pekerja serabutan dan hanya mampu menerima upah untuk kebutuhan makan sehari-hari. Namun, Tadjuddin mengaku sebelumnya sempat membawa anaknya berobat ke RS Sari Asih untuk dilakukan penanganan. Hasilnya, dokter menyarankan untuk dilakukan operasi dan dirujuk ke RSCM Jakarta dengan biaya yang cukup besar.

“Pernah saya bawa ke Sari Asih, tapi dokternya bilang harus operasi dan dirujuk ke RS di Jakarta. Biayanya Rp 4 juta, itu buat operasi saja. Belum untuk yang lainnya, lebih dari itu biayanya kan bukan sehari atau dua hari saja,” kata Tadjuddin kepada wartawan, Jumat (19/10/2018).

Akhirnya, ia memutuskan untuk merawatnya di rumah karena tidak mampu untuk membiayai operasi anaknya tersebut. Ia baru mengetahui anaknya menderita Hidrosefalus sejak usianya 3 bulan. Saat itu, Nurul langsung di masukan dalam inkubator selama 2 bulan di RSUD Drajat Prawiranegara, Kabupaten Serang. Namun semakin lama, biaya yang dikeluarkan semakin banyak. Hingga akhirnya ia membawa ke rumah dan dirawat tanpa adanya obat-obatan.

“Nurul itu lahir prematur. Dia baru ketahuan sakit itu waktu usianya 3 bulan. Langsung di inkubator selama 2 bulan di rumah sakit,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini istrinya yang mengurus anak bungusnya tersebut. Nurul hanya bisa berbaring di tempat tidur karena ukuran kepalanya yang semakin hari semakin membesar. Terkadang jika merasakan sakit, anaknya kerap mengalami kejang-kejang walaupun tidak terlalu lama. “Kadang kalau sudah ada yang dirasa sakit langsung kejang-kejang. Nurul sudah sulit beraktifitas paling cuma bisa tiduran aja di rumah,” kata Tadjuddin.

Tadjuddin berharap anaknya bisa mendapat bantuan dari semua pihak untuk melakukan operasi. Sebab semakin lama, badan anaknya semakin kurus dan kepalanya pun membesar. Sementara biaya untuk melakukan operasi cukup besar dan ia belum mampu untuk mengobati anaknya tersebut.

“Harapan saya ada bantuan buat anak saya supaya bisa berobat. Bisa di operasi, saya sendiri cuma bisa ngasih dia makan sehari-hari saja. Untuk biaya operasi terlalu besar,” ucapnya. (Dhe/Red).