Beranda Pendidikan Komentar Bedah Buku “Teko” karya Penulis Muda Banten

Komentar Bedah Buku “Teko” karya Penulis Muda Banten

159
0
Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) sukses menggelar bedah buku yang ke sekian pada sore tadi, Minggu (17/3/2019).

SERANG – Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) sukses menggelar bedah buku yang ke sekian pada sore tadi, Minggu (17/3/2019). Buku yang disdiskusikan berjudul Cara Menuang Air Teko ke Dalam Gelas karya Encep Abdullah, yang kebetulan pendiri komunitas.

Buku yang dibedah di Markas #Komentar, Kampung Pasar Sore, RT 004, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang ini berisi proses kreatif menulis itu merupakan buah karya Encep yang ke delapan. Menurut pemantik diskusi, Yudu Damanhuri, dirinya merasa tersinggung dengan isi buku Encep.

“Saya merasa ditampar oleh Encep Abdullah atas isi dari awal buku ini. Terutama yang masalah tulisan copas atau salin-tempel yang banyak orang bagikan di grup-grup WA. Kalimatnya yang menohok adalah lebih baik membagikan tulisan sendiri walau jelek daripada membagikan tulisan orang lain yang hanya sekadar copas,” tambah lelaki yang juga mengajar di SMA Pesantren Unggul Al-Bayan Anyer itu.

Peserta yang hadir ada dua belas orang. Sebagian anggota #Komentar, sebagian lagi anak SMK Muhammadiyah Pontang. Pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar oleh peserta yang hadir. Salah satunya pertanyaan Sam’iyah yang bertanya bagaimana hukum membaca karya di Platform WattPad.

Kali ini yang menjawab malah moderator diskusi, Dani Maulana, yang juga pengamat WattPad. Menurut Dani, sah-sah saja kalau untuk berlatih menulis. Tapi, jangan sampai jadi patokan utama bacaan karena banyak bacaan liar yang ditulis oleh penulis yang tidak baik untuk gizi anak-anak sekolah.

Encep juga menambahkan bahwa belajar menulis dari WattPad itu kurang baik karena di sana setiap orang bisa mempublis bentuk tulisan tanpa ada editor.

“Banyak salah penggunaan kata, tanda baca, dan sebagainya di sana. Lebih baik belajar langsung dari buku cetak karena di sana sudah diseleksi oleh editor buku,” ujar penulis yang karyanya dibedah itu.

Encep juga mengatakan bahwa bulan depan akan terus ada diskusi semacam ini. Karya teman-teman komunitas yang akan diprioritaskan untuk didiskusikan.

“Intinya jangan lupa menulis. Jangan jadi air dalam teko yang tak pernah dituangkan dan tak ada manfaatnya,” ujar Encep lagi pada pengujung acara.

Acara ini pun selesai pukul 16.00 dan dilanjutkan dengan sesi foto-foto antara penulis dan peserta. (You/Red)