Beranda Bisnis Ketimpangan Tinggi, BI Minta Banten Selatan Dipacu Jadi Pusat Ekonomi

Ketimpangan Tinggi, BI Minta Banten Selatan Dipacu Jadi Pusat Ekonomi

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Banten Ameriza M. Moesa memberikan sambutan. (Adef/bantennews)

SERANG — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, Ameriza Ma’ruf Moesa, menegaskan pentingnya pembangunan komprehensif di wilayah Banten Selatan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu disampaikannya dalam Forum Ekonomi Banten 2025 yang digelar di salah satu hotel di Kota Serang, Selasa (9/12/2025).

Dalam forum tahunan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga asosiasi bisnis tersebut, Ameriza menyampaikan optimisme terhadap kinerja ekonomi Banten sepanjang 2025 sekaligus memaparkan strategi pengembangan wilayah ke depan.

Ameriza menjelaskan bahwa tahun 2025 diwarnai dinamika global, mulai dari perang tarif, fragmentasi geopolitik, hingga proteksionisme negara-negara besar. Namun demikian, ekonomi Banten tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.

“Pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan III 2025 mencapai 5,29 persen, lebih tinggi dari nasional 5,04 persen,” ujarnya.

Dengan tren tersebut, Banten tercatat sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar di Pulau Jawa dan nasional. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga, investasi, serta net ekspor menjadi motor penggerak. Realisasi investasi hingga September 2025 mencapai Rp91,5 triliun atau 142 persen dari target RKPD, menempatkan Banten di posisi empat besar nasional untuk realisasi investasi tertinggi.

Dari sisi usaha, sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, real estate, serta informasi dan komunikasi menjadi kontributor utama perekonomian daerah.

Pada kesempatan itu, Ameriza menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah Banten Utara dan Banten Selatan. Saat ini, 91,5 persen PDRB Banten masih ditopang oleh wilayah utara, sementara Lebak dan Pandeglang hanya menyumbang 8,5 persen. Ketimpangan ini juga tampak dalam persebaran investasi, di mana 98,1 persen investasi Januari–September 2025 mengalir ke utara, sedangkan selatan hanya memperoleh 1,9 persen.

Padahal, menurut Ameriza, Banten Selatan memiliki potensi besar, terutama pada sektor pertanian dan pariwisata. Namun potensi tersebut belum tergarap optimal akibat sejumlah tantangan, seperti terbatasnya infrastruktur dan aksesibilitas, minimnya hilirisasi, rantai pasok pertanian yang panjang, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, belum terintegrasinya fasilitas wisata, serta akses jalan menuju destinasi unggulan yang masih terbatas.

Baca Juga :  Nilai Ekspor di Banten Terjun 5,78 Persen

“Potensi besar Banten Selatan belum diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan tata kelola yang kuat,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa pertanian dan pariwisata merupakan sektor inklusif yang mampu menyerap banyak tenaga kerja serta memberikan efek berlapis bagi perekonomian masyarakat. Beberapa destinasi unggulan seperti Pantai Sawarna, Geopark Bayah Dome, Taman Nasional Ujung Kulon, dan kawasan wisata budaya Baduy dinilai dapat menjadi ikon baru Banten apabila dikembangkan secara serius.

Namun demikian, Ameriza mengingatkan agar pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan jangka pendek. “Perlu penguatan akses, fasilitas publik, kemasan produk wisata, serta pelibatan masyarakat lokal agar mereka menjadi pelaku utama, bukan penonton,” tegasnya.

Sementara itu, stabilitas harga di Banten sepanjang 2025 juga dianggap terjaga. Inflasi tahun 2025 diperkirakan berada pada kisaran target 2,5±1 persen, didukung sinergi TPID dan penguatan program GNPIP.

Di sektor digitalisasi, Banten membukukan pertumbuhan sistem pembayaran yang signifikan. Pengguna QRIS mencapai 3,2 juta dengan total transaksi Rp68,8 triliun hingga September 2025. Banten kini berada di posisi kelima nasional dalam jumlah pengguna QRIS.

BI memproyeksikan ekonomi Banten tumbuh pada kisaran 4,70–5,50 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 4,90–5,70 persen pada 2026. Ameriza menekankan bahwa sinergi kebijakan daerah menjadi kunci percepatan ekonomi, terutama di wilayah selatan.

Ia menyampaikan lima agenda penting yang perlu diperkuat, yakni optimalisasi Banten Selatan sebagai pusat pertumbuhan baru, percepatan dan efektivitas belanja daerah, penguatan koordinasi pengendalian inflasi, reformasi struktural untuk peningkatan daya saing, serta stabilitas ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Banten Selatan harus menjadi kekuatan baru perekonomian Banten. Kita punya potensi besar, dan momentum ini harus dimanfaatkan bersama,” ujarnya.

Baca Juga :  Warga Rangkasbitung Serbu Mobil Penukaran Uang

Di akhir sambutannya, Ameriza menyampaikan apresiasi kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Forkopimda, pelaku usaha, akademisi, hingga media yang terus bersinergi mengawal pertumbuhan ekonomi Banten.

Penulis: Ade Faturohman
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd